JurnalPost.com – Green Cosmetics, dikenal juga sebagai kosmetik ramah lingkungan menjadi tren di kalangan anak muda hingga orang dewasa yang kerap menggunakan produk kecantikan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Konsep green cosmetics ini mengacu pada produk-produk kosmetik ramah lingkungan yang dirancang untuk meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan, mulai dari bahan yang digunakan hingga proses produksinya.
Meningkatnya perhatian masyarakat pada isu-isu ekologi mendorong mereka untuk mencari alternatif yang tidak hanya aman untuk lingkungan, tetapi juga untuk diri sendiri. Isu ini berkaitan erat dengan dunia kosmetik dan kecantikan, di mana seseorang kini semakin sadar akan kandungan produk apa saja yang mereka gunakan di wajah dan tubuh mereka. Hadirnya teknologi informasi seperti Google dan media sosial memudahkan seseorang untuk mencari tahu dan memahami komposisi suatu produk. Sebelum adanya sarana ini, akses terhadap informasi komposisi terbatas pada apa yang tertera di label produk.
Salah satu kasus kontroversial dalam beberapa tahun terakhir adalah penggunaan bahan merkuri dalam produk kosmetik dan perawatan kulit yang sempat digemari sebagian besar orang karena dapat memutihkan atau mencerahkan wajah dalam waktu yang singkat. Faktanya, merkuri memiliki tingkat toksisitas yang cukup tinggi dan berdampak buruk bagi organ tubuh dalam jangka panjang. Pemerintah Indonesia bahkan telah melarang peredaran produk-produk berisi merkuri. Saat ini, sudah banyak korban yang berani menyuarakan pengalaman mereka dan menggunakan media sosial sebagai sarana untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.
Bertambahnya popularitas green cosmetics memberi dorongan pula pada industri kosmetik dan kecantikan untuk lebih memprioritaskan keamanan dan keberlanjutan dalam formulasi produk mereka. Tidak sedikit beauty brand lokal Indonesia yang mulai mengusung konsep green cosmetic, mengikuti jejak brand internasional. Pertumbuhan beauty brand berbasis green technology ini mencerminkan tuntutan masyarakat akan suatu inovasi. Berdasarkan sejumlah penelitian, konsumen wanita millenial di Indonesia menilai green cosmetics lebih baik dibanding produk konvensional karena dianggap lebih aman secara keseluruhan.
Green cosmetics mendapat respon positif dari masyarakat karena banyaknya manfaat yang diberikan. Salah satu manfaat utamanya adalah penggunaan bahan alami non-sintetis sebagai substitusi dari “red lists”, yaitu daftar bahan kimia yang berbahaya dan tidak dianjurkan untuk digunakan. Bahan alami yang biasa digunakan adalah yang berasal dari sumber daya organik, lidah buaya, minyak nabati, dan sebagainya. Selain itu, green cosmetics juga mengedepankan proses dari awal produksi hingga akhir pengemasan yang aman dan inovatif. Ini artinya, serangkaian tahapan operasional dalam pembuatan produk memperhatikan aspek keberlanjutan dengan tetap menjaga kualitas tinggi.
Pengujian kualitas dari produk ini menjadi tanggung jawab bagi brand yang ingin menjalankan prinsip green cosmetics. Formulasi produk harus melewati tahap verifikasi sebagai langkah awal untuk memastikan kesesuaian dengan prinsip keberlanjutan. Beberapa negara telah menetapkan sistem sertifikasi kosmetik ramah lingkungan masing-masing untuk menetapkan standar persyaratan suatu produk yang organik atau alami. Sebagian besar sistem sertifikasi ini mengatur aspek seperti kesejahteraan hewan, bahan yang digunakan, proses produksi, larangan penggunaan organisme hasil rekayasa genetika, dan sebagainya.
Seiring dengan perkembangan zaman, kesadaran akan pentingnya menerapkan gaya hidup ramah lingkungan semakin meningkat. Masyarakat mulai menggeser penggunaan produk yang berkelanjutkan dan memiliki dampak positif untuk jangka panjang, dibanding manfaat yang bersifat sementara. Hadirnya green cosmetics menjadi alternatif yang aman untuk planet kita.
Brand kosmetik dan kecantikan lokal Indonesia juga harus bisa membuat inovasi-inovasi baru agar dapat bersaing dengan produk internasional yang sudah mulai mengadopsi konsep ini. Membeli produk ramah lingkungan adalah salah satu cara untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan dan mencapai tujuan keberlanjutan. Keamanan dan kesehatan harus menjadi prioritas utama.
Tidak seharusnya kita mengorbankan kesehatan demi keindahan.
Daftar Pustaka :
Madania, M., & Martani, M. M. (2014). Analisis Logam Merkuri (Hg) Pada Krim Pemutih Wajah Merek X Dengan Metode Spektrofotometri Serapan Atom (SSA). Al-Kimia, 2(2), 80-90.
Paramita, N. D., & Yasa, N. N. K. (2015). Sikap dalam memediasi hubungan kesadaran lingkungan dengan niat beli produk kosmetik ramah lingkungan. Jurnal Manajemen Dan Kewirausahaan, 17(2), 187-195.
Fakhrunissa, R. A., Kusdibyo, L., & Kania, R. (2020, September). Persepsi wanita millennial terhadap produk kecantikan hijau. In Prosiding Industrial Research Workshop and National Seminar (Vol. 11, No. 1, pp. 1030-1034).
Pranoto, A. (2018). Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Minat Beli Konsumen Terhadap Preferensi Pembelian Antara Produk Kosmetik Ramah Lingkungan Dan Konvensional. Arthavidya Jurnal Ilmiah Ekonomi, 19(2), 133-151.
Franca, C. C. V., & Ueno, H. M. (2020). Green cosmetics: perspectives and challenges in the context of green chemistry. Desenvolvimento e Meio Ambiente, 53.
Oleh: Faiza Dinda Aryasa
Mahasiswi Teknik Industri Universitas Airlangga