
Oleh: Hery Purnobasuki
Guru Besar FST Universitas Airlangga
Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan Universitas Airlangga
JurnalPost.com – Program pemberian gratis sering dibungkus dengan niat baik: membantu rakyat kecil, meringankan beban hidup, dan mempercepat pemerataan. Tetapi di balik niat mulia itu, ada pertanyaan yang makin sering muncul: apakah semua yang gratis benar-benar memuliakan, atau justru diam-diam membentuk mental menunggu? Inilah dilema yang penting dibicarakan dengan jujur, santai, tetapi tetap serius.
Masalahnya bukan pada bantuan itu sendiri. Masalahnya adalah ketika bantuan berubah dari jembatan sementara menjadi kebiasaan permanen, dari alat pemulihan menjadi pola ketergantungan. Saat itu, yang tumbuh bukan daya juang, melainkan kebiasaan menanti uluran tangan. Dan di titik inilah program gratis berisiko membangun mental pengemis, bukan mental pemberdaya.
Gratis Itu Baik, Tapi Tidak Cukup
Tidak ada orang waras yang menolak bantuan saat sedang terjatuh. Orang lapar butuh makan sekarang, orang sakit butuh obat sekarang, keluarga miskin butuh perlindungan sekarang. Jadi, program gratis tidak bisa serta-merta disebut salah. Dalam kondisi darurat, bantuan langsung justru menyelamatkan nyawa dan menjaga masyarakat tetap bertahan.
Namun, bantuan yang baik harus punya arah. Ia harus menjawab kebutuhan sesaat sambil menyiapkan jalan agar penerima tidak terus bergantung. Di sinilah letak persoalannya: banyak program gratis berhenti pada distribusi, tetapi tidak cukup kuat dalam mendorong transformasi. Akibatnya, masyarakat menerima bantuan, tetapi tidak naik kelas.
Kalau kondisi ini berlangsung lama, bantuan tidak lagi menjadi jaring pengaman, melainkan sandaran utama. Orang mulai merasa hidup memang harus disubsidi terus. Dari sini, mental yang tumbuh bukan “saya bisa,” tetapi “siapa yang akan memberi saya lagi?”
Mental Pengemis dan Mental Pemberdaya
Istilah “mental pengemis” di sini bukan hinaan untuk orang miskin. Ini kritik terhadap pola pikir yang terbentuk ketika seseorang terlalu lama ditempatkan sebagai penerima pasif. Ia terbiasa menerima tanpa diberi ruang untuk memproduksi, mengambil keputusan, dan membangun kemandirian.
Sebaliknya, mental pemberdaya mendorong orang untuk naik dari penerima menjadi pelaku. Ia tidak menolak bantuan, tetapi menjadikan bantuan sebagai pijakan. Orang dengan mental pemberdaya ingin belajar, bekerja, berusaha, dan mencipta nilai. Ia menghargai dukungan, tetapi tidak menjadikan dukungan sebagai tujuan akhir.
Perbedaannya penting. Mental pengemis bertanya, “Apa yang akan saya dapat?” Mental pemberdaya bertanya, “Apa yang bisa saya bangun dengan ini?” Pertanyaan pertama membuat orang menunggu. Pertanyaan kedua membuat orang bergerak.
Ketika Bantuan Menjadi Kebiasaan
Program gratis sering kali populer karena cepat dirasakan. Politik juga suka yang cepat terlihat. Menyalurkan beras, uang tunai, sekolah gratis, atau layanan gratis jauh lebih mudah dipamerkan daripada membangun kualitas pendidikan, pelatihan kerja, akses modal, atau reforma tata kelola ekonomi desa. Hasil bantuan langsung bisa difoto, diumumkan, dan dipakai sebagai bukti kerja.
Tetapi pembangunan manusia tidak sesederhana membagikan paket bantuan. Masyarakat yang terus-menerus dibiasakan menerima gratisan rentan kehilangan motivasi untuk memperbaiki kapasitas diri. Ketika kebutuhan dasar selalu ditutup dari luar, dorongan internal untuk bertahan dan berkembang bisa melemah. Lama-lama muncul psikologi ketergantungan: selama ada bantuan, bergerak. Kalau bantuan berhenti, bingung.
Fenomena ini juga bisa menciptakan ekspektasi sosial yang tidak sehat. Orang yang sebelumnya mandiri mulai membandingkan diri dengan penerima bantuan lain. Muncul pertanyaan: mengapa saya harus bekerja keras kalau nanti ada juga bantuan? Jika pola ini meluas, maka program gratis justru merusak etos kerja yang menjadi dasar kemandirian ekonomi.
Data dan Fakta yang Perlu Dibaca Jernih
Secara umum, bantuan sosial dan subsidi memang dibutuhkan dalam banyak negara berkembang, termasuk Indonesia. Namun, efektivitasnya sangat ditentukan oleh desain program. Bantuan tunai langsung, subsidi pangan, subsidi energi, atau bantuan pendidikan bisa bermanfaat jika tepat sasaran, bersifat sementara, dan disertai mekanisme graduasi. Tetapi jika tidak ada transisi menuju kemandirian, hasilnya sering hanya mengurangi gejala, bukan menyembuhkan akar masalah.
Banyak kajian kebijakan publik menunjukkan bahwa kemiskinan tidak cukup diatasi dengan transfer uang. Penyebab kemiskinan sering bersifat struktural: rendahnya kualitas pendidikan, lapangan kerja tidak memadai, keterbatasan akses modal, lemahnya perlindungan usaha kecil, dan rendahnya produktivitas. Artinya, solusi gratis yang hanya memberi konsumsi tanpa memperkuat kapasitas produksi akan cepat habis efeknya.
Indonesia sendiri sudah lama menghadapi problem klasik: belanja negara besar, tetapi kualitas outcome tidak selalu sebanding. Bantuan sosial memang penting, tetapi yang membuat rakyat benar-benar naik kelas adalah pendidikan yang baik, kesehatan yang kuat, konektivitas ekonomi, dan akses usaha yang adil. Tanpa itu, bantuan hanya menunda masalah.
Pola Pikir yang Dibentuk Negara
Negara punya peran besar dalam membentuk budaya sosial. Kalau negara terlalu sering memberi bantuan tanpa menghubungkannya dengan peningkatan kapasitas, warga belajar bahwa survival lebih aman lewat menunggu program daripada lewat kerja produktif. Ini bukan berarti rakyat malas secara bawaan. Ini berarti sistem memberi sinyal yang salah.
Sinyal itu sederhana: yang diterima adalah hadiah, bukan hasil. Yang dihargai adalah penerima, bukan pencipta. Yang diumumkan adalah jumlah penyaluran, bukan jumlah keluarga yang akhirnya mandiri. Dalam jangka panjang, negara bisa tanpa sadar menciptakan warga yang piawai antre bantuan, tetapi tidak siap bersaing di pasar kerja atau membangun usaha.
Di sinilah kritik terhadap program gratis menjadi penting. Bukan karena rakyat tidak layak dibantu, tetapi karena bantuan harus mendorong peralihan dari ketergantungan menuju partisipasi. Kalau tidak, program sosial berubah menjadi ritual politik: ramai saat penyaluran, sepi saat evaluasi.
Bantuan yang Mendidik
Tidak semua program gratis buruk. Ada bantuan yang justru mendidik dan memerdekakan. Misalnya, beasiswa yang mendorong prestasi, pelatihan keterampilan yang terhubung dengan pasar kerja, layanan kesehatan dasar yang membuat warga mampu bekerja, atau akses modal bergulir yang disertai pendampingan usaha. Ini semua adalah bantuan yang membangun kapasitas, bukan sekadar konsumsi.
Kuncinya ada pada orientasi. Program yang sehat bukan hanya memberi ikan, tetapi juga mengajari cara memelihara, menangkap, mengolah, dan menjual ikan. Bahkan lebih baik lagi: menghubungkan warga dengan pasar, teknologi, dan jejaring ekonomi agar mereka bisa berdiri sendiri. Dengan begitu, bantuan tidak menghapus martabat penerima, tetapi justru mengembalikannya.
Sebaliknya, program gratis yang hanya mengalirkan barang tanpa proses pembelajaran cenderung menghasilkan ketergantungan. Orang menerima, bersyukur sesaat, lalu menunggu lagi. Negara merasa sudah bekerja, padahal yang terjadi hanya rotasi distribusi, bukan peningkatan kemandirian.
Mengapa Mental Pemberdaya Lebih Penting
Mental pemberdaya bukan sekadar slogan motivasi. Ia adalah fondasi ekonomi yang sehat. Negara maju bukan karena warganya paling sering diberi gratisan, tetapi karena warga didorong untuk produktif, inovatif, dan bertanggung jawab. Bantuan di sana biasanya dirancang sebagai penyambung, bukan pengganti usaha.
Kita perlu jujur: rakyat yang terlalu lama diposisikan sebagai objek bantuan akan sulit tumbuh sebagai subjek pembangunan. Mereka mungkin tenang sesaat, tetapi tidak siap menghadapi perubahan. Padahal dunia kerja, ekonomi digital, dan kompetisi usaha berubah sangat cepat. Tanpa mental pemberdaya, masyarakat akan terus tertinggal meski program bantuan terus datang.
Mental pemberdaya mengajarkan bahwa bantuan adalah alat, bukan rumah. Ia membantu orang berdiri, bukan membuat orang nyaman duduk selamanya. Itulah bedanya kebijakan yang memanusiakan dengan kebijakan yang memanjakan.
Jalan Tengah yang Lebih Sehat
Solusinya bukan menghapus bantuan. Solusinya adalah mengubah desain bantuan. Program gratis harus disertai target keluar, indikator kemandirian, dan pendampingan berkelanjutan. Penerima bantuan perlu dipetakan: siapa yang memang perlu diselamatkan, siapa yang bisa dilatih, siapa yang bisa diberdayakan, dan siapa yang sudah layak naik kelas menjadi pelaku ekonomi.
Pemerintah juga harus berani menggeser orientasi dari “banyak yang menerima” menjadi “banyak yang mandiri.” Ukuran keberhasilan bukan seberapa besar dana tersalurkan, tetapi seberapa banyak penerima yang kemudian tidak lagi membutuhkan bantuan. Ini memang tidak semudah membagikan paket sembako, tetapi jauh lebih mulia dan berjangka panjang.
Selain itu, program gratis harus dibarengi pendidikan karakter, literasi finansial, dan penguatan keterampilan hidup. Masyarakat perlu diajak memahami bahwa bantuan adalah hak pada kondisi tertentu, tetapi kemandirian adalah tujuan utama. Kalau pesan ini konsisten, maka gratisan tidak akan merusak mental, melainkan menjadi pintu masuk menuju daya tahan.
Program pemberian gratis bisa menjadi rahmat, tetapi juga bisa menjadi jebakan. Ia menjadi rahmat ketika meringankan beban sementara dan membuka jalan menuju kemandirian. Ia menjadi jebakan ketika membuat rakyat terbiasa menerima tanpa tumbuh, terbiasa menunggu tanpa berdaya, dan terbiasa berharap tanpa membangun.
Karena itu, persoalan utamanya bukan pada gratis atau tidak gratis. Persoalan utamanya adalah apakah bantuan itu membebaskan atau justru membiasakan ketergantungan. Negara yang bijak bukan yang paling sering membagi-bagi, melainkan yang paling berhasil menciptakan warga yang kuat, mandiri, dan bermartabat.
Kalau bantuan hanya membuat rakyat menunggu, maka yang sedang dibangun bukan kesejahteraan, melainkan ketergantungan. Dan bangsa yang besar tidak lahir dari kebiasaan menunggu, tetapi dari budaya memberdayakan.