
Oleh: Nurfawaidah
Mahasiswa Pendidikan Tata Boga, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Yogyakarta.
JurnalPost.com – Globalisasi telah membawa pengaruh yang cukup besar terhadap budaya makan di Indonesia, menyebabkan pergeseran preferensi, pola konsumtif, dan adopsi kuliner asing. Hal ini ditandai dengan meningkatnya konsumsi makanan cepat saji, makanan olahan, dan makanan populer di luar negeri yang terkenal di kalangan generasi muda. Hal tersebut menyebabkan beberapa kekhawatiran salah satunya generasi muda perlahan mulai melupakan budaya makan bangsa sendiri. Hal ini terjadi karena gaya hidup modern.
Pada era 1980-an rantai makanan cepat saji mulai melebarkan sayap secara agresif ke Asia dan berkembang pesat, urbanisasi yang pesat juga membuat orang lebih sibuk dan memiliki pendapatan yang meningkat, sehingga mereka lebih memilih makanan yang praktis dan cepat. Selain itu, gaya hidup yang semakin sibuk juga membuat orang lebih cenderung memilih makanan cepat saji daripada memasak sendiri. Era digital semakin mempercepat adopsi pola makan barat, dengan kehadiran aplikasi pengiriman makanan dan promosi di media sosial yang membuat makanan cepat saji lebih mudah diakses.
Dari permasalahan diatas saya sebagai pelajar yang berlandaskan pancasila memiliki beberapa hal yang dapat dilakukan agar generasi muda tidak melupakan budaya makan yang ada di Indonesia dan bisa mengenalkan budaya makan bangsa Indonesia di mata dunia.
Menurut dengan nilai ke-2 pancasila kita seharusnya tidak konsumtif atau boros dalam mengikuti trend makanan asing yang berlebihan. Karena boros menunjukkan kurangnya empati terhadap sesama yang kekurangan. Gaya hidup boros membuat kita selalu merasa kekurangan karena tidak bisa mengatur keuangan yang baik dan benar, hal tersebut dapat memicu terjadinya stress.
Menurut dengan nilai ke-3 Pancasila dapat dilakukan pencegahan karena sifat cinta tanah air yang sudah ditanamkan sejak masih kecil, menjadikan makanan tradisional sebagai pilihan utama dan mempromosikan makanan tradisional ke mancanegara baik menggunakan media sosial ataupun festival kebudayaan. Festival kebudayaan adalah wadah penting karena pengunjung dapat melihat dan mencicipi makanan dari berbagai daerah yang tersedia di satu tempat yang sama, sehingga dapat mempersingkat waktu dalam menjelajah rasa dengan waktu yang singkat. Selain itu generasi muda tertarik dengan hal tersebut karena acara dikemas secara lebih modern dan memadukan unsur tradisional dengan sentuhan kekinian.
Festival kebudayaan juga dapat menjadikan ajang generasi muda berekspresi seperti generasi muda sekarang suka membuat video tentang keseharian mereka lalu diunggah melalui media sosial. Jika video yang mereka buat viral ada kemungkinan juga jika festival kuliner dan kebudayaan ini akan sampai pada telinga negara lain sehingga dapat menarik mereka untuk berkunjung dan mencicipi makanan tradisional Indonesia.
Sila ke-4 Pancasila juga memiliki nilai yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan diatas yaitu dengan mengedepankan demokrasi dan kolaborasi. Hal tersebut dapat dilakukan dengan membentuk komunitas kuliner sehingga promosi makanan Indonesia dapat terorganisir dengan baik karena strategi yang dimiliki dari anggota komunitas tersebut.
Kolaborasi untuk melakukan inovasi makanan melakukan diskusi untuk memperbarui kemasan atau rasa makanan tradisional agar menarik generasi Z, tanpa menghilangkan nilai filosofis aslinya. Inovasi ini penting agar kuliner lokal tetap relevan di tengah gempuran kuliner asing.
Tantangan globalisasi terhadap budaya makan Indonesia tidak seharusnya dihadapi dengan sikap kewaspadaan, melainkan dengan strategi penyesuaian dan inovasi. Pancasila hadir sebagai kompas etis bagi generasi muda untuk menyeimbangkan gaya hidup modern dengan identitas nasional.
Melalui implementasi nilai Kemanusiaan, kita diajak untuk bijak dalam berkonsumsi, nilai Persatuan mendorong kita untuk bangga dan mempromosikan warisan kuliner sebagai identitas bersama, serta nilai Kerakyatan membuka ruang kolaborasi untuk mengemas tradisi dalam balutan inovasi yang relevan dengan zaman.
Dengan Menggabungkan kearifan lokal dan gaya hidup digital, makanan tradisional tidak akan lagi dipandang sebagai produk masa lalu, melainkan simbol kebanggaan yang mampu bersaing dengan negara lain. Keberlanjutan budaya makan bangsa pada akhirnya berada di tangan generasi muda yang mampu memadukan rasa cinta tanah air dengan kreativitas tanpa batas.
Sumber Referensi :
Olifia. 2024. “Antropologi Budaya: Dampak Globalisasi terhadap Pola Makan Masyarakat Jakarta”.https://kumparan.com/olifia-fiaa/antropologi-budaya-dampak-globalisasi-terhadap-p ola-makan-masyarakat-jakarta-241qJF8TdF7/1
Sholeha, Nur. 2024. “10 Cara Melestarikan Budaya Indonesia di Tengah Globalisasi”.
https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-7213035/10-cara-melestarikan-budaya-indonesia-di-tengah-globalisasi
Januaji, Dhamar. 2024. “10 Strategi Pemasaran Makanan Khas Daerah yang Ampuh dan Efektif”. https://accurate.id/marketing-manajemen/strategi-pemasaran-makanan-khas-daerah/
Oleh: Nurfawaidah
Mahasiswa Pendidikan Tata Boga, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Yogyakarta.