Kembali
Mode hapus aktif. Klik paragraf, foto, judul, tabel, atau bagian lain yang tidak ingin masuk PDF.
JurnalPost.com

Gak Ada Cerita ‘Asal Jadi’ di Industri Pangan

Tim Editor: Redaksi · Tanggal: 15 Juni 2025
Sumber: https://www.shutterstock.com/id/

JurnalPost.com – Makanan itu gak cuma soal bikin kenyang. Coba deh pikir sebentar, setiap hari kita makan berbagai jenis makanan mulai dari sarapan roti, minum kopi kekinian, ngemil keripik, sampai makan malam cepat saji. Tapi pernah gak kepikiran, proses apa aja yang terjadi sebelum makanan itu sampai ke mulut kita? Di industri pangan, gak ada istilah “ya udah lah asal enak.” Semua bahan, rasa, bahkan warna dalam makanan harus lolos uji ilmiah yang ketat dan terukur.

Dapur Industri Itu Serius
Industri pangan bukan cuma soal bikin produk yang rame dijual. Di balik satu produk ada:

• Tim riset yang mikirin rasa, warna, tekstur
• Evaluasi daya tahan dan kandungan gizi
• Pengujian keamanan pangan secara menyeluruh

Semua itu dilakukan melalui analisis pangan, proses penting untuk memastikan produk bukan hanya menarik, tapi juga aman dan berkualitas.

Apa Itu Analisis Pangan?
Secara ilmiah, analisis pangan adalah cabang ilmu yang mempelajari cara mengidentifikasi, mengukur, dan menganalisis komponen dalam bahan pangan, baik segar maupun olahan, untuk berbagai tujuan seperti pengendalian mutu, pemenuhan regulasi, dan jaminan keamanan pangan.

Tapi biar gak terlalu “laboratorium banget”, sederhananya analisis pangan itu proses ngecek makanan apakah udah sesuai standar, aman dikonsumsi, dan nutrisinya sesuai klaim.

Contoh pertanyaan yang bisa dijawab lewat analisis pangan:

• Apakah produk ini bisa awet disimpan?
• Aman gak buat dikonsumsi?
• Nutrisinya bener gak sama yang ditulis di kemasan?

Terus, Uji Apa Aja yang Dilakukan?
Beberapa uji penting dilakukan dalam analisis pangan, tergantung dari jenis produk dan tujuannya. Misalnya, uji kadar air digunakan untuk menilai kadar kelembaban karena air bisa mempercepat kerusakan produk. Nilai pH diuji untuk mengetahui keasaman atau kebasaan, yang berkaitan dengan rasa dan daya simpan. Kadar gula juga menjadi fokus, apalagi untuk produk dengan klaim rendah gula atau diet, sementara uji mikroba penting buat mendeteksi kontaminasi seperti bakteri patogen.

Untuk aspek keamanan, pengujian logam berat seperti timbal, kadmium, dan merkuri dilakukan agar tidak melebihi batas aman. Dari sisi sensori, warna dan tekstur dianalisis karena memengaruhi penampilan dan pengalaman konsumsi. Selain itu, kandungan protein dan lemak menjadi indikator utama dalam nilai gizi suatu produk, penting juga untuk label nutrisi dan klaim seperti “tinggi protein” atau “rendah lemak.” Gak ketinggalan, kandungan vitamin misalnya vitamin C atau vitamin A juga diuji terutama kalau produknya mengklaim manfaat fungsional atau fortifikasi.

Kalau Gagal Uji, Bisa Jadi Masalah Serius
Pernah dengar produk ditarik dari pasaran karena “tidak aman dikonsumsi”? Itu biasanya karena gagal uji mutu dan keamanan. Contohnya:

• Produk susu yang mengandung bakteri coliform
• Minuman herbal dengan kadar logam berat tinggi

Dampaknya bukan cuma rugi secara ekonomi, tapi juga bisa merusak reputasi produsen dan membahayakan kesehatan konsumen.

‘Asal Jadi’ = Bahaya
Masih banyak produk di luar sana yang dibuat dengan prinsip “yang penting enak, murah, laku.” Tanpa analisis yang benar, makanan bisa saja:

• Mengandung pewarna tekstil
• Memiliki kadar boraks yang tinggi
• Diberi klaim “sehat” tanpa dasar ilmiah

Tanpa proses analisis pangan, semua itu bisa lolos dan dikonsumsi tanpa disadari. Dan itu berbahaya.

Jadi, Harus Gimana?
Sebagai konsumen, kita perlu mulai bersikap lebih kritis terhadap produk pangan yang kita konsumsi. Jangan cuma tergoda rasa enak atau kemasan menarik. Tanyakan:

• Apakah makanan ini sudah melalui uji keamanan dan mutu?
• Apakah komposisinya tercantum dengan jelas dan sesuai kenyataan?
• Apakah label gizi yang tertera itu benar-benar akurat, atau hanya formalitas semata untuk menarik pembeli?

Dan sebagai pelaku industri atau mahasiswa pangan jangan anggap remeh analisis pangan. Ini bukan sekadar prosedur lab yang kaku. Analisis pangan adalah fondasi dari semua keputusan penting dari formulasi, pemilihan bahan, sampai strategi pemasaran dan legalitas produk.

Penutup
Produk yang asal jadi, mungkin bisa laku sekali. Tapi produk yang teruji dan punya nilai itulah yang bertahan dan berkembang. Ia tidak hanya menyehatkan konsumen, tapi juga membangun reputasi dan kepercayaan jangka panjang. Industri pangan bukan tempat untuk coba-coba. Ini soal kesehatan orang banyak. Dan kalau kamu serius menekuni dunia ini, maka satu prinsip yang harus kamu pegang teguh adalah “Setiap makanan harus teruji, bukan cuma terasa.”

Daftar Pustaka
Amelia, J. R., Azni, I. N., Basriman, I., dan Prasasti, F. N. 2021. Karakteristik Kimia Minuman Sari Tempe-Jahe dengan Penambahan Carboxy Methyl Cellulose dan Gom Arab pada Konsentrasi yang Berbeda. Chimica et Natura Acta. Vol. 9(1): 36-44.
Anindyajati, M., Dwiloka, B., dan Al-Baarri, A. 2022. Kekenyalan, Kadar Lemak, Kadar Protein dan Mutu Hedonik Bakso Daging Kalkun (Meleagris gallopavo) Berdasarkan Potongan Komersial Karkas. Jurnal Teknologi Pangan. Vol. 6(2): 32-37.
Harini, N., Marianty, R., dan Wahyudi, V. A. 2019. Analisa Pangan. Sidoarjo: Zifatama Jawara.
Pramono, Y. B., dan Nurwantoro, N. 2019. Evaluasi Kadar Gula, Kadar Air, Kadar Asam dan pH pada Pembuatan Tablet Effervescent Buah Nangka. Jurnal Teknologi Pangan. Vol. 3(1): 36-41.
Purwasih, R. 2021. Analisis Pangan. Subang: Polsub Press.
Yenrina, R. 2015. Metode Analisis Bahan Pangan dan Komponen Bioaktif. Padang: Andalas University Press.

Penulis: Fatma Emilia
Mahasiswa Teknologi Pangan
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/read/gak-ada-cerita-asal-jadi-di-industri-pangan/19070/
Dicetak dari JurnalPost.com pada 08 November 2026 07:13.