Kembali
Mode hapus aktif. Klik paragraf, foto, judul, tabel, atau bagian lain yang tidak ingin masuk PDF.
JurnalPost.com

GADGET BUKAN BABY SITTER!: TIGA POLA ASUH PEMBENTUKAN SOSIAL-EMOSIONAL SECARA MATANG PADA ANAK DIDIK USIA DINI

Tim Editor: Redaksi · Tanggal: 6 Desember 2025

Penulis: Aura Irhamni Sekar Andjani dan Jami’atul Hasanah

JurnalPost.com – Di era digital ini, sudah banyak anak usia dini yang mengoperasikan perangkat digital tanpa adanya keperluan yang mendesak. Mereka hanya menggunakannya semata-mata untuk menghibur dirinya saja. Namun naasnya, orang tua mereka pun membiarkan anaknya menatap layar selama berjam-jam, bahkan sampai membuat anak jarang berinteraksi dengan orang sekitarnya, seperti orang tua, saudara, bahkan teman seumurnya. Menurut data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2024, dilaporkan bahwa 39,71% anak usia dini di Indonesia telah menggunakan telepon seluler (gawai). Selain itu, BPS juga mencatat bahwa 35,57% anak usia dini sudah mengakses internet.

Di banyak rumah, satu kalimat sudah menjadi “senjata” orang tua masa kini: “udah, sana main HP aja!” Kalimat ini sering muncul bukan karena anak benar-benar membutuhkan gawainya, tetapi karena orang tua lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bekerja dan juga sibuk dengan scroll-annya sendiri. Kita perlu menegaskan bahwa gadget bukanlah babysitter yang bisa orang tua andalkan untuk mengasuh anak. Jika orang tua seringkali memberikan gawai (gadget) kepada anak bukankah itu akan merusak perkembangan emosi dan sosial mereka? Penelitian studi kasus menunjukkan bahwa penggunaan gawai berlebihan berdampak negatif signifikan terhadap perkembangan emosional anak usia 4-6 tahun, yang dapat memicu anak menjadi lebih mudah marah dan sulit diatur (Aziza, Nihwan, Umam, & Fitri, 2022) dan apakah kasih sayang orang tua bisa digantikan dengan sebuah pantulan layar?

Tantangan terbesar saat ini bukan hanya menjaga anak dari konten-konten buruk, namun juga bagaimana caranya menjaga kedekatan emosional anak di dalam rumah. Inilah titik di mana pola asuh menentukan apakah anak tumbuh menjadi pribadi yang matang dan siap menghadapi tantangan atau justru rapuh secara emosional.

1. Pola asuh “keras” disiplin tanpa kekerasan, tegas namun tanpa mengintimidasi.

Pola asuh keras sering disalahpahami sebagai perilaku kasar atau “main tangan”. Padahal, yang dimaksud “keras” di sini adalah ketegasan dengan batas yang jelas. Anak membutuhkan struktur yang terjadwal, kapan belajar, kapan bermain, dan kapan anak istirahat. Konsistensi membuat anak merasa disiplin. Tegas bukan berarti marah-marah dan mengeluarkan kata-kata yang tidak seharusnya keluar, melainkan mampu mengatakan “tidak” dengan alasan yang bisa dipahami anak. Ketegasan membantu anak untuk berkembang, mampu mengendalikan diri, mampu mengambil keputusan, dan memahami konsekuensi tentang apa yang sudah ia lakukan. Tanpa ketegasan, anak menjadi bingung, tidak disiplin, dan sangat mudah frustrasi. Jika anak sudah terbiasa melakukan hal-hal yang sudah terjadwal maka anak akan menyadari dengan sendirinya apa yang harus dilakukan dan apa yang harus ia prioritaskan.

2. Pola asuh “cerdas” memahami kebutuhan anak, bukan hanya semata-mata mengatur mereka.
Pola asuh cerdas didasarkan pada empati dan literasi pengasuhan. Orang tua yang cerdas tidak hanya mengelola perilaku, tetapi memahami akar emosinya. Anak menangis bukan sekadar “drama”, anak membantah bukan sekadar “melawan”. Dibalik tingkah anak pasti selalu ada kebutuhan yang ingin disampaikan.
Pola asuh cerdas meliputi:

a. Komunikasi dua arah, yakni adanya komunikasi antara orang tua dan anak. Misalnya ketika orang tua membuat peraturan di rumah, orang tua harus mengikutsertakan anak dalam membuat keputusan.

b. Mendengarkan sebelum menegur, yakni orang tua tidak hanya menuntut untuk selalu didengar tetapi orang tua juga harus ingat kalau anak juga punya hak untuk didengar. Jika anak melakukan kesalahan alangkah baiknya orang tua menanyakan apa yang menjadi penyebab anak melakukan hal tersebut, bukan hanya menghukum anak tanpa memberikan anak waktu untuk bersuara.

c. Memberi pilihan bukan hanya perintah dan memahami dunia anak dari perspektif mereka.
Ketika orang tua memerintah anak untuk makan, orang tua bisa memberikan pilihan, misalnya “mau makan atau main dulu nak? kalau sudah waktunya makan tidak boleh sambil main ya”. Dengan begitu anak merasa bahwa dia sedang tidak diperintah dan merasa ikut andil dalam aktivitas yang akan dia lakukan.
Ketika orang tua peka, anak akan merasa dihargai. Rasa dihargai inilah yang akan menumbuhkan empati dan kecerdasan sosial anak.

2. Pola asuh “ikhlas” hadir sepenuh hati, bukan sekadarnya.
Ikhlas bukan berarti pasrah, melainkan hadir secara utuh. Tidak memainkan ponsel saat anak bercerita, tidak memaksa anak memenuhi ambisi orang tua, dan tidak membandingkan mereka dengan anak tetangga. Dengan sikap ikhlas, rumah menjadi ruang aman bagi anak untuk salah, belajar, dan memperbaiki diri. Orang tua yang ikhlas mengajarkan bahwa cinta tidak bersyarat dan bahwa kesalahan bukan akhir segalanya, tetapi bagian dari proses menjadi dewasa.

Ketiganya adalah pondasi kematangan sosial emosional sejati anak. Kematangan sosial emosional tidak muncul dari tumpukan mainan, kelas tambahan, atau jam layar. Ia lahir dari interaksi sehari-hari. Anak yang dibesarkan dengan ketegasan (keras), kecerdasan emosional orang tua (cerdas), dan kasih sayang yang tulus (ikhlas) akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, mampu mengatur emosi, tangguh menghadapi tekanan, dan mampu membangun hubungan yang sehat. Pola asuh demokratis yang berfokus pada komunikasi dan penghargaan terhadap anak seperti pola asuh cerdas, secara ilmiah terbukti mampu menumbuhkan kemampuan anak dalam mengendalikan diri (self-control) dan meningkatkan rasa percaya diri mereka (Syahrul & Nurhafizah, 2022). Mereka tidak tumbuh bergantung pada gawai (gadget) sebagai pelarian, karena dari rumah mereka belajar mengendalikan rasa bosan, marah, kecewa, dan senang dengan cara manusiawi.

Jadi, Stop Gini Terus!
Masa kecil anak tidak datang 2 kali, jangan sampai orang tua menyesal akan semua hal ini. Jadilah orang tua yang selalu mendampingi tumbuh kembang anak, bukan hanya orang tua yang bisa menitipkan anak kepada gadget.
Mari hentikan budaya “HP sebagai pengasuh darurat” dan kembali ke pola asuh yang keras dalam batas, cerdas dalam memahami, serta ikhlas dalam mencintai. Sebab dari sinilah langkah awal untuk menumbuhkan generasi yang matang secara sosial-emosional bukan hanya pandai menggeser layar, tetapi juga pandai menghadapi kehidupan.

Sumber Referensi:
Aziza, R., Nihwan, N., Umam, A. K., & Fitri, R. A. (2022). Dampak Penggunaan Gadget Terhadap Perkembangan
Emosional Anak Usia 4-6 Tahun Di Paud Pgri 15 A Iringmulyo Kota Metro. IJIGAEd: Indonesian Journal of
Islamic Golden Age Education, 2(2), 42–50. https://doi.org/10.32332/ijigaed.v2i2.4744
Badan Pusat Statistik (BPS). (2024). Profil Anak Usia Dini 2024. Jakarta: BPS.
https://www.bps.go.id/id/publication/2024/12/13/744350b0873dcb98dfeab38c/profil-anak-usia-dini-2024.html
Syahrul & Nurhafizah. (2022). Analisis Pola Asuh Demokratis terhadap Perkembangan Sosial dan Emosional Anak di Masa Pandemi Covid-19. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 6(6), 5506–5518.
https://doi.org/10.31004/obsesi.v6i6.1717

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/read/gadget-bukan-baby-sitter-tiga-pola-asuh-pembentukan-sosial-emosional-secara-matang-pada-anak-didik-usia-dini/21398/
Dicetak dari JurnalPost.com pada 08 November 2026 12:02.