
Oleh Fian Sangguk
JurnalPost.com – Sigmund Freud merupakan salah satu tokoh penting dalam perkembangan pemikiran modern khususnya dalam bidang psikologi. Salah satu pemikiran Freud yang terkenal ialah teori psikoanalisis. Freud memaknai psikoanalisis sebagai suatu pendekatan yang berusaha memahami setiap perilaku manusia dengan cara mendalami dinamika alam bawah sadar, pengalaman masa kecil (pengalaman traumatis), serta dorongan-dorongan batin yang mempengaruhi tindakan manusia. Melalui teori psikoanalisisnya, Freud dengan tegas mengatakan bahwa perkembangan kehidupan manusia tidak hanya dikendalikan oleh kesadaran rasional tetapi juga oleh kesadaran irasional yang tersembunyi di dalam dirinya. Pemikiran Freud tidak hanya berkutat pada analisis perilaku individu tetapi merambah pada aspek lain yakni agama. Dalam kaitanya dengan agama, Freud mengkritisi agama dengan berargumen bahwa agama tidak lain adalah konstruksi psikologi manusia. Di dalam agama, manusia sebetulnya hanya mencari kenyamanan yang sebetulnya bersifat ilusi. Lebih lanjut Freud menyebut agama itu seperti neurosis (penyakit saraf yang diakibatkan oleh kondisi kejiwaan) Pemikiran Freud ini kemudian menjadi fenomenal dan membuka perspektif baru orang-orang dalam memahami agama.
Pandangan Freud Tentang Agama
Sigmund Freud memandang agama bukan sebagai hasil wahyu transendental, melainkan sebagai konstruksi psikologis yang berakar pada kebutuhan emosional manusia. Dalam kerangka psikoanalisisnya, agama dipahami sebagai manifestasi ilusi kolektif yang muncul dari dorongan manusia untuk memperoleh rasa aman, perlindungan, dan makna hidup di tengah ketidakpastian eksistensial. Bagi Freud, agama tidak lain adalah suatu bentuk pelarian manusia dari situasi kecemasan dan ketidakpastian dalam menyikapi realitas. Secara emosional, manusia mempunyai ketakutan dan rasa cemas terhadap segala sesuatu yang menimpa dirinya, dan untuk menyikapi itu manusia kemudian mencari tempat nyaman untuk melawan rasa cemas serta ketakutan dalam agama. Atas dasar keyakinan ini, Freud kemudian mendefinisikan agama sebagai alat penenang simbolik yang memberikan kenyaman emosional meskipun tidak bersandar pada realitas objektif. Bagi freud percaya kepada Tuhan merupakan suatu ilusi yang tidak bisa dibuktikan secara objektif. Memercayai Tuhan mengandaikan bahwa manusia tidak mampu berpikir secara kritis. Jika berpikir kritis, manusia tentunya paham bahwa segala sesuatu yang tidak dapat dibuktikan secara empiris merupakan suatu ilusi. Karena ketidakkritisan inilah yang kemudian menjerumuskan manusia ke dalam hal-hal mistik yang bagi Freud tidak rasional.
Alih-alih manusia mengandalkan Tuhan sebagai sumber kekuatan ilahi dari setiap persoalan hidup yang dialaminya, manusia pun secara tidak langsung menunjukan sisi kelemahanya yakni ketiadaan kebebasan. Dengan selalu berpegang dan menaruh harapan-harapan yang utopis terhadap Tuhan, manusia juga sebetulnya tengah menunjukan kepribadianya yang tidak otonom. Bagi Freud, manusia mesti bebas sebab hakikat dari manusia itu sendiri adalah makhluk yang bebas. Freud dengan tegas menentang sikap manusia yang selalu bergantung pada kekuatan mistik yang berasal dari Tuhan. Dalam karyanya Totem and Taboo (1913) Freud menafsirkan asal-usul agama sebagai sebuah sublimasi rasa bersalah kolektif yang dalam mitologi “membunuh ayah totemik” dan kemudian menuhankan sosok tersebut sebagai bentuk penebusan simbolis. Penafsiran ini memperkuat argumentasi Freud bahwasanya percaya pada agama merupakan aktus penebusan terhadap dosa masa lalu. Aktus penebusan itu dilakukan agar sosok ayah yang dipercayai itu tidak murka dan tetap melindungi anak-anaknya di setiap situasi hidup yang dialami.
Relevansi Pemikiran Freud Terhadap Agama Modern
Relevansi pemikiran Freud tentang agama akan disajikan sebagai berikut; pertama agama sebagai pemenuhan psikologis manusia. Freud dalam argumentasinya memandang agama sebagai produk dari kebutuhan emosional manusia akan rasa aman serta perlindungan terhadap ancaman eksistensial. Pandangan ini kemudian membuka ruang bagi kajian psikologi agama yang meneliti peran dan tanggung jawab agama dalam mengatur kestabilam emosi serta memberikan makna hidup serta menjadi sarana pertahanan terhadap kecemasan yang dialami manusia dalam hidupnya. Argumentasi Freud ini kemudian memudahkan manusia dalam menafsirkan peran agama terhadap kehidupan. Peran yang dimaksudkan di sini ialah bahwa agama tidak hanya dilihat semata-mata sebagai wahyu transendental tetapi sebagai suatu refleksi hidup atas kebutuhan psikis manusia. Kedua, kritik terhadap kecenderungan manusia terhadap hal-hal yang irasional. Ketergantungan manusia kepada Tuhan mencerminkan infantilisme psikolgis, yakni ketidaksanggupan manusia dalam menghadapi realitas tanpa figur pelindung. Dalam The Future of an Illusion (Freud, 1927), ia menegaskan bahwa keimanan sering kali bersumber dari keinginan untuk dilindungi oleh figur “ayah surgawi”. Kritik Freud ini amatalah relevan dengan fenomena sekarang ini terutama dengan sikap fanatisme dan dogmatisme agama. Fanatisme agama kerap kali menggerogoti manusia dewasa ini yang menganggap dogma agama sebagai sesuatu yang final dengan mengesampingkan rasionalitas. Manusia kerap terjebak dalam lingkaran fanatisme ini dan secara terang-terangan menolak rasionalitas. Freud dalam kritiknya, menekankan kritisisme dalam memahami agama. Kritisisme diperlukan agar manusia tidak ada salah kaprah dalam memahami dan menjalani doktrin agama.
Catatan kritis terhadap pemikiran Freud
Kritik Freud tentang agama selain memberi wawasan positif terkait eksistensi manusia tetapi juga terdapat kekeliruan yang kemudian dapat dikritisi bersama. Pandangan Freud tentang pentingya rasionalitas dalam memahani hal-hal yang transenden, Freud serta merta menggeneralisasi setiap pengalaman manusia. Padahal kalau ditelisiki lebih dalam setiap orang mempuyai pengalaman transenden yang berbeda. Pengalaman transenden tersebut pun dimaknai secara berbeda pula. Ada yang menafsirkan bahwa pengalaman transenden tersebut benar-benar menyentuh seluruh aspek hidupnya. Jadi kelemahan argumentasi Freud tampak pada generalisasi analisinya terhadap pengalaman transenden. Kemudian berkaitan dengan agama sebagai solusi akhir mengatasi kecemasan dan ketakutan, padahal agama bukan hanya menawarkan rasa aman tetapi ia merupakan sumber ajaran moral, etika, estetika serta kontrol sosial. Agama tidak seperti yang diklaim Freud, agama justeru menawarkan berbagai sumber kebajikan moral.
Referensi
Sugiyono Paulus Bagus. “Sumbangsih Freud bagi kehidupan sosial-keagamaan: Telaah atas Karya Totem and Taboo (1912-1913)”. Jurnal sosiologi reflektif, 16: 1, (Oktober 2021)
F, I Reza. “Dekonstruksi kebenaran: Kritik terhadap tokoh dalam perspektif psikologi Agama”. Jurnal Ilmiah Agama, UIN Raden Fatah Palembang. 2016.
- A, Barakatu. “Kritik terhadap pandangan Sigmund Freud: Agama dan implikasinya terhadap pendidikan”. Lentera Pendidikan, 10:2, 2007.