
Penulis: Zalfa Zahira Risqi Rodiah & Callista Eluira Ramadhani
Pendahuluan
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dirancang untuk memperbaiki status gizi anak di Indonesia. Namun, satu pertanyaan mendasar jarang diajukan: apakah makanan yang dibagikan benar-benar dikonsumsi?
Program ini tidak hanya ditujukan untuk menurunkan angka stunting yang masih berada di kisaran 21,6% pada 2022 tetapi juga membentuk pola makan sehat sejak dini. Namun, di balik ambisi tersebut, terdapat satu aspek yang kerap terabaikan, yaitu faktor psikologis dalam penerimaan makanan, khususnya food neophobia.
Dalam praktiknya, konsumsi makanan tidak semata-mata ditentukan oleh kandungan gizi. Persepsi sensorik seperti rasa, aroma, tekstur, dan penampilan justru sering menjadi penentu utama. Bahkan, penilaian ini terbentuk sebelum makanan dikonsumsi. Ketika aspek ini diabaikan, maka asumsi bahwa makanan yang disediakan akan dimakan menjadi tidak selalu berlaku.
Analisis Masalah
Food neophobia merupakan kecenderungan individu untuk menghindari makanan baru yang belum pernah dikonsumsi. Fenomena ini umum terjadi, terutama pada anak-anak sebagai target utama program MBG. Studi menunjukkan bahwa sekitar 20–30% anak memiliki tingkat food neophobia yang tinggi.
Angka ini menunjukkan bahwa sebagian anak memang tidak siap menerima menu yang berbeda dari kebiasaan mereka. Ketika makanan dianggap asing atau tidak sesuai preferensi, kemungkinan besar makanan tersebut akan ditolak, meskipun memiliki nilai gizi tinggi.
Di sinilah persoalan menjadi lebih mendasar. Program MBG dibangun dengan asumsi bahwa makanan yang disediakan akan dikonsumsi. Padahal, dalam praktiknya, hal tersebut tidak selalu terjadi.
Akibatnya, keberhasilan program tidak cukup diukur dari distribusi, tetapi dari konsumsi. Jika makanan tidak dimakan, maka tujuan peningkatan gizi tidak tercapai. Program dapat berjalan secara administratif, tetapi tidak efektif secara substantif.
Selain itu, food neophobia juga berkaitan dengan persepsi risiko terhadap makanan. Individu cenderung memiliki ekspektasi negatif terhadap makanan baru, seperti rasa yang tidak enak atau tekstur yang tidak nyaman. Persepsi ini terbentuk bahkan sebelum proses konsumsi berlangsung, sehingga memperkuat penolakan.
Data dan Fakta Pendukung
Sebuah penelitian berbasis survei terhadap 946 responden dewasa menunjukkan bahwa individu dengan tingkat food neophobia tinggi memiliki ekspektasi kesukaan (expected liking) yang lebih rendah terhadap makanan, khususnya makanan baru seperti seafood. Mereka juga cenderung lebih fokus pada atribut negatif dibandingkan atribut positif.
Penelitian tersebut juga mengungkap bahwa persepsi sensorik memainkan peran penting dalam menentukan penerimaan makanan. Rasa dan tekstur menjadi faktor dominan yang mempengaruhi keputusan konsumsi. Menariknya, tekstur memiliki peran ganda: dapat meningkatkan kesukaan, namun juga menjadi penyebab utama penolakan.
Dampaknya terlihat dalam berbagai program makan sekolah. Ketika menu tidak sesuai dengan preferensi anak, tingkat sisa makanan dapat mencapai 30–40%. Artinya, sebagian besar makanan tidak memberikan manfaat gizi.
Temuan ini mengindikasikan bahwa penolakan terhadap makanan tidak selalu berkaitan dengan kualitas produk, tetapi lebih pada persepsi awal yang terbentuk di benak konsumen. Dengan kata lain, bahkan makanan bergizi tinggi pun dapat ditolak jika tidak sesuai dengan ekspektasi sensorik.
Dalam konteks MBG, hal ini menjadi tantangan besar. Program yang berfokus pada penyediaan makanan bergizi harus mempertimbangkan bagaimana makanan tersebut dipersepsikan oleh penerima, terutama anak-anak yang cenderung memiliki tingkat food neophobia lebih tinggi.
Solusi dan Rekomendasi
Untuk mengatasi hambatan food neophobia dalam program MBG, diperlukan pendekatan yang tidak hanya berbasis gizi, tetapi juga mempertimbangkan aspek psikologis dan sensorik.
Pertama, adaptasi menu secara bertahap. Makanan baru sebaiknya diperkenalkan dengan mengombinasikan bahan yang sudah familiar bagi anak.
Kedua, edukasi dan komunikasi pangan. Anak-anak perlu dikenalkan pada makanan melalui pendekatan yang lebih menarik agar terbentuk persepsi positif sebelum konsumsi.
Ketiga, optimalisasi karakteristik sensorik. Pengembangan menu perlu memperhatikan rasa, aroma, tekstur, dan penampilan agar sesuai dengan preferensi target.
Keempat, pelibatan konsumen dalam evaluasi. Umpan balik dari penerima manfaat dapat membantu penyesuaian menu secara berkelanjutan.
Kelima, pendekatan berbasis kebiasaan lokal. Integrasi makanan lokal yang sudah dikenal dapat meningkatkan penerimaan sekaligus mendukung keberlanjutan program.
Dengan pendekatan ini, program MBG tidak hanya menjadi distribusi makanan, tetapi juga intervensi yang mempertimbangkan perilaku konsumsi secara lebih komprehensif.
Penutup
Polemik dalam program MBG tidak hanya berkaitan dengan distribusi, anggaran, atau kualitas pangan, tetapi juga pada penerimaan makanan oleh anak. Mengabaikan aspek ini berarti mengabaikan salah satu penentu utama keberhasilan program.
Jika makanan tidak dikonsumsi, maka sebesar apa pun sumber daya yang dikeluarkan tidak akan menghasilkan dampak gizi yang nyata. Program dapat terlihat berjalan, tetapi tidak selalu memberikan hasil.
Di titik ini, food neophobia bukan sekadar konsep, melainkan faktor yang menentukan efektivitas program. Tanpa memastikan makanan benar-benar dimakan, tujuan perbaikan gizi berisiko tidak tercapai.