Kembali
Mode hapus aktif. Klik paragraf, foto, judul, tabel, atau bagian lain yang tidak ingin masuk PDF.
JurnalPost.com

FISHING SPATIAL MAPPING

Tim Editor: Redaksi · Tanggal: 2 Juni 2025

Oleh: Kelompok 11 (SEDNA)

Nama Anggota:
1. Teguh Anggriawan 225080607111063
2. Evon Erza 225080607111057
3. Renita Berliana Yuniardin 225080607111059
 
JurnalPost.com – Indonesia sebagai negara maritim yang memiliki sumber daya perikanan yang melimpah. Sumber daya perikanan salah satu potensi hayati terbesar yang terdapat di perairan yang dapat dimanfaatkan secara langsung maupun tidak. Sumber daya perikanan terbagi menjadi, sumber daya perikanan hayati dan Non-hayati. Sumber daya perikanan dapat dimanfaatkan melalui aktivitas perikanan. Aktivitas perikanan mencakup seluruh kegiatan pemanfaatan sumber daya perikanan, yang bertujuan untuk mendapatkan hasil laut dari lingkup perairan. Aktivitas perikanan terbagi menjadi dua, yaitu perikanan tangkap (tangkapan ikan langsung dari alam) dan perikanan budidaya (ikan yang dihasilkan dari kegiatan pemeliharaan). Sumber daya perikanan dapat memberikan manfaat bagi kehidupan manusia, baik dari aspek ekologi, ekonomi, hingga sosial. Sumber daya perikanan memerlukan tindakan yang tegas, supaya tidak mengalami kerusakan ataupun kepunahan.

Pemetaan spasial perikanan, atau Fishing Spatial Mapping, merupakan pendekatan esensial dalam pengelolaan sumber daya kelautan yang berkelanjutan. Melalui teknik ini, informasi mengenai lokasi, intensitas, dan pola aktivitas penangkapan ikan dapat dipetakan secara spasial dan temporal untuk memberikan gambaran komprehensif tentang pemanfaatan wilayah laut oleh nelayan. Pendekatan ini mengintegrasikan teknologi seperti Sistem Informasi Geografis (SIG), pemantauan kapal melalui Vessel Monitoring System (VMS) dan Automatic Identification System (AIS), serta data survei partisipatif dari nelayan. Tujuan utamanya adalah untuk mengidentifikasi zona tangkap utama, memahami tekanan penangkapan terhadap ekosistem, serta mendukung formulasi kebijakan pengelolaan perikanan berbasis ruang, seperti penetapan kawasan konservasi laut atau zonasi perikanan. Terdapat tiga studi kasus pemanfaatan pemetaan spasial perikanan. Pada studi kasus pertama, terletak di perairan laut Desa Genting Pulur Kabupaten Kepulauan Anambas. Studi kasus kedua, terletak di Laut Adriatik, Italia. Serta, studi kasus ketiga, terletak di Laut Bohai, China. Berikut  merupakan penjelasan dari masing-masing studi kasus tersebut.
 
Artikel 1 
Artikel yang berjudul “Aplikasi SIG untuk Pemetaan Kesesuaian Kawasan Budidaya Ikan Kerapu Menggunakan Keramba di Perairan Laut Desa Genting Pulur Kabupaten Kepulauan Anambas” bertujuan untuk menentukan kawasan yang sesuai bagi budidaya ikan kerapu dengan menggunakan keramba jaring apung (KJA) dan keramba jaring tancap (KJT). Penilaian dilakukan berdasarkan kualitas air secara fisika dan kimia serta mempertimbangkan faktor pembatas. Penelitian ini dilaksanakan di perairan Desa Genting Pulur, Kecamatan Jemaja Timur, Kabupaten Kepulauan Anambas, pada bulan November 2015. Metode yang digunakan mencakup pengumpulan data primer langsung di lapangan dan data sekunder dari instansi terkait, yang kemudian dianalisis menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG).

Sepuluh parameter lingkungan dianalisis dalam penelitian ini, yaitu kedalaman, kecerahan, suhu, pH, salinitas, oksigen terlarut (DO), gelombang, arus, tingkat keterlindungan dari gelombang, serta keberadaan alur pelayaran. Data dari masing-masing parameter diolah menjadi peta tematik, lalu dilakukan overlay untuk menghasilkan peta kesesuaian kawasan budidaya. Penilaian kesesuaian dilakukan dengan sistem skoring berdasarkan kriteria yang ditetapkan, di mana kawasan diklasifikasikan sebagai “Sesuai” atau “Tidak Sesuai”.

Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar kawasan penelitian memiliki parameter yang sesuai untuk budidaya ikan kerapu, seperti suhu (31 °C), kecerahan (988 cm), pH (8,4), oksigen terlarut (7,7 mg/l), dan arus (140 cm/dtk). Namun, nilai salinitas sebesar 38 ‰ tergolong tidak sesuai karena melebihi batas optimal budidaya. Berdasarkan hasil overlay dan analisis spasial, kawasan yang dinilai sesuai untuk budidaya menggunakan KJA adalah seluas 304,61 hektare, sedangkan untuk KJT hanya 162,93 hektare dari total luas area penelitian sebesar 987 hektare. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perairan Desa Genting Pulur lebih potensial untuk budidaya ikan kerapu menggunakan keramba jaring apung dibandingkan keramba jaring tancap.

Artikel 2
Artikel “A synergic Integration of AIS Data and SAR Imagery to Monitor Fisheries and Detect Suspicious Activities” menjelaskan bagaimana menggabungkan data dari dua teknologi penting dalam pemantauan laut, yaitu Automatic Identification System (AIS) dan citra radar Synthetic Aperture Radar (SAR). AIS adalah sistem pelacakan yang mengirimkan informasi kapal seperti posisi, kecepatan, dan identitas. Namun, ada kapal yang sengaja mematikan AIS mereka, baik karena gangguan teknis maupun untuk menyembunyikan aktivitas ilegal. Sementara itu, citra SAR dari satelit Sentinel-1 mampu mendeteksi keberadaan kapal meskipun kapal tersebut tidak mengirimkan sinyal AIS.

Penelitian mengusulkan dua cara untuk menggabungkan data dari AIS dan SAR. Pertama, metode “point-to-point” yang mencocokkan data kapal dari kedua sumber secara langsung. Kedua, metode “point-to-line” yang digunakan untuk melacak pergerakan kapal yang sempat tidak mengirimkan sinyal AIS. Dengan bantuan teknologi seperti pembelajaran mesin dan analisis Fourier, sistem ini dapat memetakan pergerakan kapal dan mendeteksi aktivitas yang mencurigakan, misalnya pemadaman AIS di wilayah tertentu.

Studi kasus di Laut Adriatik menunjukkan bahwa pendekatan ini efektif dalam membedakan kapal yang beroperasi secara terbuka dan kapal yang mungkin terlibat dalam aktivitas ilegal, seperti penangkapan ikan yang tidak dilaporkan dan tidak diatur (IUU fishing). Temuan ini berpotensi meningkatkan pengawasan laut dan mendukung pengelolaan sumber daya laut yang lebih bertanggung jawab
 
Artikel 3
Artikel “Mapping coastal fishing grounds and assessing the effectiveness of fishery regulation measures with AIS data: A case study of the sea area around the Bohai Strait, China” membahas mengenai pemetaan area penangkapan ikan pesisir dan mengevaluasi efektivitas langkah-langkah regulasi perikanan menggunakan data Automatic Identification System (AIS) di wilayah laut sekitar Selat Bohai, Tiongkok. Data AIS terbukti menjadi sumber yang berharga untuk mengungkap distribusi aktivitas penangkapan ikan, menilai tekanan ekologis laut, serta merumuskan dan meningkatkan tindakan regulasi perikanan. Para peneliti mengusulkan metode pemetaan area penangkapan ikan yang cepat dengan menggabungkan Kernel Density Estimation (KDE) dan Hot Spot Analysis (HSA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas penangkapan ikan di sekitar Selat Bohai memiliki pola perubahan bulanan dan triwulanan yang jelas serta heterogenitas spasial. Langkah-langkah regulasi perikanan yang diterapkan, seperti moratorium penangkapan ikan musim panas, peningkatan stok, zonasi fungsional laut, dan pembatasan penangkapan ikan dasar bermotor di zona pesisir, telah memberikan dampak pembatasan tertentu terhadap aktivitas penangkapan ikan. Secara keseluruhan, Tiongkok telah melakukan upaya signifikan dalam restorasi sumber daya perikanan pesisir dan regulasi aktivitas penangkapan ikan untuk mendorong pembangunan perikanan yang berkelanjutan dan memperbaiki lingkungan ekologis laut.
 
Secara keseluruhan, ketiga studi ini menunjukkan perkembangan signifikan dalam pemanfaatan teknologi geospasial dan penginderaan jauh untuk mendukung pengelolaan budidaya laut. Baik pada skala lokal, regional, maupun global, kombinasi data spasial dan algoritma cerdas memberikan peluang besar untuk optimalisasi lokasi budidaya, pengawasan aktivitas perikanan, dan pengambilan keputusan berbasis data.

Daftar Pustaka
Chen, R., Wu, X., Liu, B., Wang, Y., & Gao, Z. (2022). Mapping coastal fishing grounds and assessing the effectiveness of fishery regulation measures with AIS data: A case study of the sea area around the Bohai Strait, China. Ocean & Coastal Management, 223, 106136.

Galdelli, A., Mancini, A., Ferrà, C., & Tassetti, A. N. (2021). A synergic integration of AIS data and SAR imagery to monitor fisheries and detect suspicious activities. Sensors, 21(8), 2756.

Rofizar, A., Jaya, Y. V., & Irawan, H. (2017). Aplikasi sig untuk pemetaan kesesuaian kawasan budididaya ikan kerapu menggunakan keramba di perairan laut Desa Genting Pulur Kabupaten Kepulauan Anambas. Jurnal Intek Akuakultur, 1(1), 37-50.
 

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/read/fishing-spatial-mapping/18955/
Dicetak dari JurnalPost.com pada 08 November 2026 06:47.