
Penulis : Sinta Dwi Aris Tantia
JurnalPost.com – Apa jadinya jika kehidupan yang getir dijadikan tontonan, dan penderitaan dikemas sedemikian rupa hingga terasa “menarik” untuk dinikmati?
Squid Game, serial fenomenal asal Korea Selatan, menyuguhkan semua itu dalam warna-warna cerah, permainan anak-anak, dan atmosfer yang estetis, namun menyimpan luka sosial yang dalam.
Serial ini bukan sekadar tentang orang-orang putus asa yang rela bertaruh nyawa demi uang. Ia adalah cermin dari dunia nyata yang kerap terasa seperti arena permainan, kejam, tak adil, dan penuh jebakan. Tapi yang lebih menyedihkan, kita menontonnya sambil tertawa, ikut membuat meme, mencoba dalgona candy, dan membagikannya ke media sosial. Kita menikmati sistem yang sebenarnya sedang menyakiti.

Para karakter dalam Squid Game bukan tokoh rekaan yang asing. Mereka adalah wajah-wajah yang mewakili kita buruh yang tak dilindungi, perempuan hamil yang terlilit pinjaman online, pemuda korban investasi bodong, transgender yang disingkirkan sistem. Semua orang datang dengan luka dan utang. Dan sistem menghadiahi mereka satu opsi yakni bertahan dengan mempertaruhkan nyawa.
Di sinilah Squid Game mengingatkan kita bahwa kekuasaan modern tidak selalu memukul secara terang-terangan, tapi bisa hadir dalam bentuk yang diam-diam diterima, bahkan dinikmati. Seperti yang dijelaskan Antonio Gramsci lewat konsep hegemoni, nilai dan struktur dominan bisa tampak “masuk akal”, karena disampaikan lewat budaya populer.
Serial ini juga menampilkan tokoh-tokoh dari latar belakang minoritas seperti pembelot, transgender, imigran, hingga ibu hamil yang terkena pinjaman online. Sekilas, ini seperti upaya untuk menghadirkan keragaman dan memperluas empati. Tapi jika dicermati, identitas-identitas tersebut cenderung ditempatkan dalam pola berulang, menderita, lalu mati.

Alih-alih membebaskan, karakter mereka justru jadi alat dramatik yang mengaduk emosi penonton. Representasi tanpa ruang berdaya seperti ini berisiko jatuh pada tokenisme di mana keragaman hanya menjadi pajangan, bukan ruang perjuangan.
Setelah viral di Netflix, Squid Game menjalar cepat ke media sosial. Tantangan dalgona candy, filter topeng pengawas, hingga video lucu berlatarkan “Red Light Green Light” muncul di berbagai platform. Tanpa sadar, kita menjadikan kekerasan sebagai bahan hiburan, dan menjauh dari substansi cerita yang sebenarnya mengerikan.
Seperti yang dijelaskan Stuart Hall, media tidak hanya menyampaikan pesan, tapi juga membentuk cara kita memahami dunia. Dan ketika penderitaan diubah jadi tren, ada bagian dari nalar kita yang ikut mati rasa.
Squid Game membuka mata kita bahwa budaya populer tidak pernah benar-benar netral. Ia bisa jadi cermin realitas sosial, tapi juga bisa ikut melanggengkan ketimpangan yang sedang dikritiknya.
Sebagai penonton, kita tak cukup hanya ikut larut dalam ceritanya. Perlu ada kesadaran untuk membaca lebih kritis, siapa yang diwakili, siapa yang disingkirkan, dan pesan apa yang sedang dibawa.
Tindakan kecil yang bisa kita mulai adalah membangun kebiasaan berpikir kritis saat mengonsumsi tayangan populer. Tak berhenti pada tren, tapi juga mempertanyakan narasi di baliknya. Mendukung karya-karya yang lahir dari pengalaman marjinal juga bisa jadi langkah penting agar suara yang selama ini tak terdengar, punya ruang untuk berbicara.
Jika budaya populer memang bisa membentuk cara kita melihat dunia, maka sudah saatnya kita tidak hanya jadi penonton. Tapi ikut menentukan arah cerita.
Referensi :
Widiastuti, A. (2022). Representasi kelas sosial dalam drama Korea Squid Game karya Hwang Dong Hyuk (Analisis Semiotika Roland Barthes). (Skripsi Sarjana, Universitas Islam Sultan Agung Semarang). Universitas Islam Sultan Agung. https://repository.unissula.ac.id/27285/
Fajariansyah, M. (2023). Representasi survival adegan permainan dalam series Squid Game (Analisis Semiotika Ferdinand de Saussure) (Skripsi Sarjana, Universitas Mercu Buana Jakarta). Universitas Mercu Buana. https://repository.mercubuana.ac.id/77221/
Kusumayanti, D. D., Mukharomah, K. N., Wijayanti, E. C., Andriaka, R., & Sasli, S. A. (2022). Analisis aspek-aspek hegemoni dan dominasi sosial ekonomi dalam serial Squid Game. Jurnal Entitas Sosiologi, 11(2), 168–179. https://jseahr.jurnal.unej.ac.id/index.php/JES/article/view/33792