Kembali
Mode hapus aktif. Klik paragraf, foto, judul, tabel, atau bagian lain yang tidak ingin masuk PDF.
JurnalPost.com

Fenomena Sungkan yang Rentan Terjadi Pada Mahasiswa: Kenalan dengan Sungkan Di Sosial Media

Tim Editor: Redaksi · Tanggal: 18 Mei 2026

Fenomena Sungkan

Penulis: Cherine Kurniawan, Marsyaila Nifta Qoir, Jolynn Chrysantha Santoso, Ulinnuha Alhasni, Syifa Hasanah Widyanti, Dr. Yohanes Budiarto, S.Pd., M.Si

JurnalPost.com – Di era media sosial, semua orang bebas berbicara, berpendapat, dan menunjukkan dirinya kepada dunia. Namun kenyataannya, tidak semua orang benar-benar merasa bebas saat menggunakan media sosial.

Kenalan Dulu Sebelum Menghakimi

Sungkan adalah perasaan segan yang mendorong seseorang menahan ekspresi dirinya demi menjaga keharmonisan dengan orang lain. Bukan karena takut dimarahi, itu namanya wedi. Bukan juga malu karena ketahuan berbuat salah, itu isin. Sungkan itu berbeda: ia muncul sebelum kamu berbuat apa-apa, seperti rem yang aktif otomatis setiap kali kamu mendekati situasi yang bisa mengusik tatanan sosial.

Dampak Negatif: Ketika Sungkan Menjadi Beban

Di sisi lain, ewuh pakewuh yang berlebihan bisa menimbulkan masalah:

  1. Misinformasi tidak terkoreksi – Hoaks dari orang yang dihormati dibiarkan beredar.
  2. Keputusan tidak kritis – Dalam konteks profesional, sikap “manut” menghambat inovasi dan perbaikan.
  3. Tekanan psikologis – Memendam ketidaksetujuan terus-menerus bisa menimbulkan stres.
  4. Komunikasi tidak tuntas – Pesan tersirat sering salah ditafsirkan. telusur.co.id

Dampak Positif: Menjaga Kehangatan Interaksi

Tidak semua aspek Sungkan bersifat negatif. Nilai ini membawa beberapa keuntungan dalam bersosial media:

  1. Mengurangi konflik terbuka – Komentar pedas dan perdebatan panas bisa diminimalkan.
  2. Menciptakan ruang yang lebih santun – Interaksi terasa lebih hangat dan manusiawi.
  3. Menjaga relasi jangka panjang – Hubungan dengan keluarga, kolega, dan komunitas tetap harmonis.

Penelitian menunjukkan bahwa prinsip kehormatan (aji) dan keengganan (pekewet) dalam budaya Jawa berfungsi sebagai mekanisme kontrol diri untuk menghindari perilaku impulsif yang bisa merusak hubungan sosial. jurnal.ugm.ac.id

Riset lintas budaya Kim (2024) dalam jurnal REAL menguatkan bahwa pengguna media sosial dari budaya kolektivis termasuk Indonesia secara konsisten lebih ketat menyaring ekspresi mereka dibanding pengguna dari budaya Barat yang lebih individualis. Ini bukan kebetulan. Ini adalah pola yang diwariskan.

Menemukan Keseimbangan: Tegas tapi Tetap Santun

Mahasiswa yang sebenarnya punya ide bagus, tapi memilih diam karena sungkan menyela pembicaraan. Mahasiswa yang tidak berani bertanya ke dosen lewat DM meski sudah berhari-hari tidak paham materi karena takut dianggap mengganggu. Atau yang paling sering: mahasiswa yang tahu ada yang salah dalam sebuah situasi, tapi tidak bersuara karena tidak enak dengan seniornya.

Lama-lama, kebiasaan diam ini bukan cuma soal sopan santun. Ia memangkas kemampuan kita untuk mengekspresikan diri secara sehat, melatih pikiran kritis, bahkan membangun relasi yang jujur. Sampai kapan kita membiarkannya diwariskan tanpa pernah dipertanyakan.

Mengenali Sungkan Bukan Berarti Membuangnya

Sungkan yang proporsional adalah kecerdasan sosial. Tapi ketika ia berubah menjadi kebiasaan diam yang diwariskan turun-temurun tanpa pernah dipertanyakan, ada harga yang dibayar: hilangnya suara-suara yang seharusnya terdengar.

Pada akhirnya, media sosial seharusnya menjadi tempat untuk berkomunikasi dan berekspresi secara sehat, bukan tempat yang membuat seseorang terus hidup dalam rasa takut terhadap penilaian orang lain. Tidak semua orang akan menyukai apa yang kita unggah, dan itu adalah hal yang wajar. Selama apa yang dibagikan masih positif dan tidak merugikan orang lain, seseorang tidak perlu terlalu takut untuk menjadi dirinya sendiri.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/read/fenomena-sungkan-yang-rentan-terjadi-pada-mahasiswa-kenalan-dengan-sungkan-di-sosial-media/25382/
Dicetak dari JurnalPost.com pada 06 November 2026 09:58.