Kembali
Mode hapus aktif. Klik paragraf, foto, judul, tabel, atau bagian lain yang tidak ingin masuk PDF.
JurnalPost.com

“Feminine Energy” Sebagai Manifestasi Patriarki Modern

Tim Editor: Redaksi · Tanggal: 29 November 2025

Oleh: Queena Fathimah Putri Muhammad

JurnalPost.com – Maraknya pengguna sosial media seperti Tiktok, Instagram, dan Twitter kerap kali memunculkan berbagai tren dan peristilahan baru, salah satunya adalah sebutan “Feminine Energy”. Mungkin anda sudah tidak asing lagi dengan istilah gaul yang satu ini atau mungkin anda sudah sangat sering mendengarnya di perkumpulan anda: “Eh si artis A feminine energynya kuat banget yah” atau mungkin anda pernah mendapati video atau pun headline dengan judul “Belajar cara membangkitkan Feminine energymu”

Lantas apa saja yang memengaruhi tren ini dan apa saja dampak yang diberikan feminine energy ini kepada masyarakat terlebih khususnya perempuan? mari kita bahas!
Feminine Energy adalah sebuah sifat atau karakteristik yang dimiliki oleh perempuan. sebenarnya banyak yang mengatakan bahwa feminine energy juga dapat dimiliki oleh laki-laki, tetapi istilah ini lebih sering dikaitkan dengan perempuan. karakteristik dari feminine energy itu sendiri di antaranya adalah mereka yang dianggap memiliki sifat girly, lemah lembut, dan seringkali memiliki kepribadian ceria atau bubbly. istilah ini kemudian diproliferasi oleh influencer dan juga masyarakat yang kebanyakan adalah pengguna aplikasi Tiktok. Banyak sekali content creator yang membuat video terkait feminine energy, mulai dari apa itu feminine energy, mengapa feminine energy itu penting untuk dimiliki seorang perempuan hingga cara ‘membangkitkan’ feminine energy tersebut.

berdasarkan beberapa video yang saya temui di beranda Tiktok saya, inti ataupun ujung dari pembahasan terkait feminine energy itu sendiri tidak lain dan tidak jauh-jauh dari bagaimana sifat ini dapat meningkatkan daya tarik seorang perempuan, khususnya terhadap pria. karena itu, banyak perempuan yang kemudian menganggap feminine energy sebagai sesuatu yang sangat penting untuk dimiliki, dan bahkan terobsesi dengannya. fenomena ini akhirnya melahirkan suatu standar baru bagi kaum perempuan.

meskipun demikian, sudah tidak dapat dipungkiri lagi bahwa tren dan juga banyaknya standar bermunculan yang berfokus mengatur kehidupan seorang perempuan bukanlah hal yang baru di masyarakat kita yang berkembang dengan nilai-nilai patriarki. pasti anda sudah sangat sering menemui standar yang lahir dari tren yang tidak ada habisnya, salah satu contohnya adalah tren cara berpakaian yang sesuai untuk seorang perempuan seperti yang belum lama dibicarakan di media sosial, terkait bagaimana seorang ‘high value woman’ harus berpakaian. atau mungkin tren tentang cara mendapatkan princess treatment dari laki-laki. tanpa disadari, tren-tren dan standar yang bermunculan ini adalah hasil dari nilai-nilai patriarki yang sudah lama tumbuh di masyarakat kita. Ekspektasi tentang bagaimana perempuan “seharusnya berperilaku” tumbuh langsung dari sistem patriarki yang secara historis menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan dalam politik, agama, hukum, dan ekonomi. Karena laki-laki mengendalikan institusi-institusi ini, mereka juga membentuk norma-norma budaya yang memposisikan perempuan sebagai subordinat, memberi mereka peran yang membuat mereka bergantung dan terbatas pada ranah domestik atau pendukung. patriarki membingkai sifat-sifat tertentu seperti kekuatan, kepemimpinan, dan rasionalitas sebagai maskulin, sementara melabeli kelembutan, kesederhanaan, emosionalitas, dan kepatuhan sebagai feminin alami. Ide-ide ini diperkuat melalui ajaran agama, hukum adat, dan tradisi sosial, yang kemudian diwariskan melalui keluarga dan masyarakat seolah-olah bersifat alami alih-alih dibangun. Seiring waktu, sosialisasi ini menciptakan keyakinan luas bahwa perempuan harus pasif, mengasuh, dan mengorbankan diri, bukan karena karakteristik perempuan yang melekat, tetapi karena ekspektasi semacam itu mempertahankan dominasi laki-laki dan melestarikan tatanan sosial patriarki.

Tren feminine energy dalam budaya populer sering sekali mengajarkan bagaimana seorang perempuan harus bertindak di depan laki laki, seperti contohnya untuk meminta laki laki menyelesaikan masalah mereka secara terus menerus agar laki laki merasa lebih dibutuhkan sebab hal tersebut akan men-trigger ‘masculine energy’ mereka, ataupun melarang perempuan untuk meluapkan emosi ketika sedang menghadapi suatu masalah. hal ini tentunya sangat problematik sebab secara tidak langsung tren ini mengajak perempuan untuk terus mencari validasi dari pria dan juga mendukung gender roles yang seharusnya kita hapus . tak hanya itu saja, banyak content creator yang mendefinisikan feminine energy sebagai: nurturing, lembut, pasif, receptive, dan mengikut bukan memimpin. ini sangat mirip dengan peran feminin tradisional yang lahir dari patriarki. bedanya, kini dibungkus seolah bagian dari ‘Healing’, ‘self awareness’ dan sebagainya. oleh karena itu saya berpendapat bahwa feminine energy itu sendiri adalah sebuah bentuk ajaran patriarki yang dikemas secara modern. “High-value woman”, “soft girl” , “hyperfeminity coaching” sering mendorong gagasan bahwa perempuan ideal adalah yang lembut, manut, tidak agresif, dan selalu tampil cantik—norma yang punya akar sangat patriarkal. dengan kata lain, di sini patriarki tidak hilang, tetapi rebranded.

Bahaya utama dari tren seperti feminine energy bukan terletak pada feminitas itu sendiri, tetapi pada bagaimana ia diposisikan sebagai tuntutan baru yang harus dipenuhi perempuan agar dianggap sukses secara sosial atau romantis. Ketika feminitas menjadi standar, bukan pilihan, maka tekanan emosional, perasaan tidak cukup, serta kebutuhan akan validasi eksternal akan semakin tumbuh. Perempuan akan merasa gagal ketika tidak dapat tampil lembut, nurturing, atau “pretty but effortless”—standar yang tidak pernah diminta dari laki-laki. Inilah cara patriarki modern bekerja: bukan lagi melalui larangan eksplisit, tetapi melalui normalisasi tren yang membungkus kontrol sosial dengan bahasa self-love dan empowerment. Jika kita benar-benar ingin memajukan perempuan, maka langkah pertama adalah berhenti menciptakan standar baru dan mulai membiarkan perempuan mendefinisikan diri mereka sendiri.

Pada akhirnya, segala upaya untuk terus-menerus mengkategorikan perempuan—apakah ia cukup feminin, cukup lembut, cukup girly, atau sebaliknya terlalu keras, terlalu tegas, terlalu vokal—adalah bentuk lain dari kontrol sosial yang mengurung perempuan dalam kotak sempit yang bukan mereka pilih. feminine energy hanyalah sebuah konstruksi sosial, ia tidaklah nyata. Membebankan standar yang tidak realistis kepada perempuan hanya akan memperpanjang sejarah akan bagaimana perempuan selalu diawasi, dinilai, dan diatur. Alih-alih membiarkan perempuan menjadi versi terbaik diri mereka sendiri, tren ini mendorong perempuan untuk memenuhi ekspektasi baru yang sebenarnya tidak jauh berbeda dari tuntutan patriarkal yang sudah ada sebelumnya. Ketika perempuan terus dipaksa untuk memenuhi karakter tertentu agar dianggap layak, menarik, atau “benar”, kita tidak sedang memerdekakan perempuan—kita justru memperhalus bentuk-bentuk lama pengekangan yang seharusnya sudah lama kita tinggalkan.

Yang sering luput dari percakapan ini adalah kenyataan bahwa menjadi feminin itu tidak salah sama sekali. Begitu juga menjadi tomboy, tegas, ambisius, pendiam, kuat, sensitif—atau apa pun yang mencerminkan sifat asli seseorang. Semua ekspresi diri itu valid selama mereka lahir dari pilihan pribadi, bukan tekanan sosial. Feminitas bukan hal yang negatif; masalahnya muncul ketika feminitas dipaksakan sebagai standar, atau ketika sifat tertentu dijadikan syarat untuk dianggap berharga sebagai perempuan. Setiap perempuan berhak untuk menjadi diri sendiri tanpa harus memenuhi daftar sifat yang dianggap ideal oleh masyarakat ataupun tren media sosial. Perempuan tidak perlu diukur dari energi apa yang mereka tampilkan; mereka hanya perlu diberi ruang untuk ada, berkembang, dan menentukan identitasnya sendiri.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/read/feminine-energy-sebagai-manifestasi-patriarki-modern/21093/
Dicetak dari JurnalPost.com pada 08 November 2026 12:13.