
Oleh: Shu Fhong – Mahasiswi Universitas Siber Asia
JurnalPost.com – Kalau mendengar kata fandom atau fangirl, orang biasanya langsung membayangkan lightstick, album, photocard, tiket konser, dan teriakan saat idol muncul di panggung. Saya juga menikmati hal-hal seperti itu. Tetapi semakin lama berada di dunia fandom, saya merasa pengalaman menjadi penggemar ternyata tidak sesederhana “suka artis”. Ada banyak hal kecil yang ikut membentuk cara saya melihat diri sendiri.
Salah satu pengalaman yang paling terasa bagi saya terjadi pada Juli 2026, ketika saya pergi ke Singapura untuk menonton EXO PLANET #6 – EXhOrizon. Rangkaian konser ini juga hadir di beberapa kota Asia, termasuk Jakarta dan Singapura. Informasi konser Singapura dapat dilihat di Ticketmaster Singapore. Yang paling membekas bagi saya bukan hanya konsernya, tetapi juga pikiran sederhana setelahnya: ternyata sebuah hobi bisa membawa saya berani melakukan sesuatu yang dulu tidak pernah saya bayangkan.
Pergi ke negara lain untuk melihat artis favorit mungkin terdengar berlebihan bagi sebagian orang. Saya memahami itu. Namun dari pengalaman tersebut saya justru belajar mengatur prioritas, berani mencoba hal baru, dan lebih jujur pada diri sendiri tentang apa yang memang saya sukai. Di titik itu saya mulai merasa bahwa fandom juga bisa dibaca dari sisi self concept, bukan hanya dari sisi hiburan.
Sebagai fangirl, saya akhirnya lebih sering bertanya bukan hanya “seberapa suka saya kepada seorang idol?”, tetapi “kenapa saya menyukai mereka dan apa yang saya pelajari dari pengalaman ini?”. Bagi saya, pertanyaan kedua jauh lebih menarik karena jawabannya ternyata berkaitan dengan cara saya mengenal diri sendiri.
Fangirling dan Self Concept
Ketika membaca materi tentang self concept, saya merasa istilah ini cukup dekat dengan pengalaman tersebut. APA Dictionary of Psychology menjelaskan self-concept sebagai pandangan seseorang tentang dirinya sendiri, termasuk karakteristik dan kualitas yang ia rasakan ada pada dirinya (American Psychological Association, 2018). Jadi, konsep diri bukan hanya soal “saya orang seperti apa”, tetapi juga bagaimana kita menilai dan memahami diri sendiri dari waktu ke waktu.
Dalam pendekatan psikologi humanistik, Carl Rogers juga membahas real self dan ideal self. Sederhananya, real self adalah diri kita saat ini, sedangkan ideal self adalah diri yang ingin kita capai. Semakin dekat keduanya, semakin selaras pula seseorang dengan dirinya sendiri (OpenStax, 2020). Saya suka cara melihatnya karena terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, termasuk saat kita mengagumi seseorang.
Ketika menyukai seorang idol, yang menarik belum tentu hanya wajah, suara, atau karyanya. Kadang kita tertarik pada cara ia bekerja, kedisiplinannya, keberaniannya mencoba sesuatu, atau bagaimana ia bertahan melewati proses yang panjang. Dari situ saya menyadari bahwa hal-hal yang kita kagumi pada orang lain kadang juga menunjukkan kualitas seperti apa yang kita anggap penting untuk diri sendiri.
Bagi saya, idol tidak harus dijadikan standar yang harus ditiru seluruhnya. Justru lebih sehat kalau mereka hanya menjadi salah satu sumber inspirasi. Kita tetap punya kehidupan, pilihan, dan ukuran keberhasilan sendiri. Tetapi melalui kekaguman itu, kita bisa mendapat petunjuk kecil tentang diri seperti apa yang ingin kita bangun.
Hobi yang Diam-Diam Membawa Pengalaman Baru
Saya sering merasa hal yang bermula dari hobi justru membuka pengalaman yang tidak direncanakan. Dalam fandom, ada orang yang mulai belajar bahasa asing karena ingin memahami wawancara idolanya, ada yang belajar desain untuk membuat fan project, ada yang berani pergi ke kota baru untuk menghadiri konser, dan ada juga yang akhirnya punya teman dari daerah atau negara berbeda.
Kalau dilihat sepintas, semuanya mungkin hanya efek samping dari sebuah hobi. Tetapi menurut saya justru di situlah bagian menariknya. Kita mencoba sesuatu karena rasa suka, lalu tanpa sadar menemukan kemampuan atau keberanian yang sebelumnya belum pernah diuji. Bagi saya, pertumbuhan tidak selalu datang dari hal besar atau situasi yang serius. Kadang ia datang dari pengalaman yang awalnya hanya kita lakukan karena senang.
Pandangan tersebut juga sejalan dengan psikologi humanistik yang menekankan kemampuan manusia untuk memilih, berkembang, dan mengaktualisasikan potensi dirinya. Saya tidak mengartikan bahwa semua kegiatan fandom otomatis membuat seseorang berkembang. Namun jika sebuah hobi mendorong kita menjadi lebih berani, lebih mandiri, atau lebih mengenal diri, menurut saya pengalaman itu tetap punya nilai.
Dari Kesukaan yang Sama, Bisa Jadi Pertemanan
Bagian lain dari fandom yang saya suka adalah rasa kebersamaannya. Di sekitar konser, misalnya, orang yang awalnya tidak saling mengenal bisa tiba-tiba berbicara hanya karena melihat lightstick atau merchandise yang sama. Percakapannya mungkin dimulai dari “bias kamu siapa?” atau “kamu nonton hari apa?”, tetapi dari percakapan sederhana itu pertemanan bisa terbentuk.
Pengalaman seperti ini tidak hanya saya lihat sebagai suasana seru sebelum konser. Ada rasa bahwa kita berada di tempat bersama orang-orang yang memahami antusiasme yang sama. Di media sosial pun mirip. Seseorang bisa berkenalan dengan penggemar dari kota lain, lalu hubungan mereka tidak lagi berhenti pada pembicaraan tentang idol.
Hal tersebut juga pernah diteliti. Miranda, Taibe, dan Purwasetiawatik (2022) meneliti 486 penggemar K-pop di Indonesia dan menemukan bahwa fanship memiliki hubungan positif dengan kebahagiaan dan social connectedness. Dalam penelitian itu, kontribusinya terhadap kebahagiaan tercatat 17,7 persen dan terhadap keterhubungan sosial 11,4 persen. Ada juga hubungan negatif yang kecil dengan self-esteem sebesar 1,7 persen.
Buat saya, hasil tersebut cukup masuk akal. Fandom bisa memberikan rasa senang dan membantu kita merasa terhubung dengan orang lain, tetapi fandom tetap tidak seharusnya menjadi satu-satunya sumber harga diri. Kita boleh merasa bahagia karena punya komunitas, tetapi cara kita menilai diri sendiri sebaiknya tidak sepenuhnya bergantung pada idol atau penerimaan dari fandom.
WHO pada 2025 juga menyoroti pentingnya hubungan sosial bagi kesehatan dan kesejahteraan. Karena itu, saya melihat komunitas fandom bisa menjadi salah satu ruang sosial yang positif, selama interaksinya tetap sehat dan tidak membuat kita kehilangan kehidupan di luar fandom.
Tetap Perlu Batas
Saya juga tidak ingin menggambarkan fangirling seolah selalu positif. Ada saatnya kedekatan dengan idol di media sosial terasa sangat personal. Kita bisa melihat unggahan mereka hampir setiap hari, menonton siaran langsung, atau mengikuti berbagai platform khusus penggemar. Karena sering melihat mereka, mudah sekali muncul perasaan seolah kita mengenal mereka dengan sangat dekat.
Menurut saya, perasaan seperti itu wajar sampai batas tertentu. Kita boleh merasa terhibur, termotivasi, atau punya keterikatan emosional dengan karya seorang artis. Masalahnya mulai terasa ketika seluruh suasana hati bergantung pada idol, ketika seseorang merasa berhak mengatur kehidupan pribadi artis, atau ketika kebutuhan utama dikorbankan demi mengikuti semua aktivitas fandom.
Di bagian ini saya kembali pada self concept. Menjadi fangirl adalah salah satu bagian dari diri saya, tetapi bukan keseluruhan diri saya. Di luar fandom tetap ada pendidikan, pekerjaan, keluarga, teman, tanggung jawab, dan tujuan pribadi. Bagi saya, batas itu justru membuat hobi terasa lebih menyenangkan karena saya tidak perlu kehilangan diri sendiri untuk bisa menyukai seseorang.
Tidak Harus Meninggalkan Hobi untuk Dianggap Dewasa
Masih ada anggapan bahwa semakin dewasa seseorang, seharusnya semakin jauh dari hal-hal seperti idol, konser, album, atau merchandise. Saya pribadi kurang setuju. Menjadi dewasa bukan berarti harus kehilangan semua hal yang membuat kita senang. Yang lebih penting adalah bagaimana kita membuat keputusan dan memahami konsekuensinya.
Membeli tiket konser tidak selalu berarti boros jika memang sudah direncanakan. Membeli album juga tidak otomatis salah jika kebutuhan utama tetap terpenuhi. Pergi ke luar kota atau luar negeri untuk melihat artis favorit pun bagi saya sah-sah saja selama kita mampu bertanggung jawab atas keputusan tersebut.
Karena itu, pertanyaan yang saya pakai untuk diri sendiri bukan “apakah saya sudah terlalu dewasa untuk fangirling?”, melainkan “apakah saya masih bisa menikmati hobi ini tanpa mengabaikan tanggung jawab saya?”. Selama jawabannya iya, saya tidak melihat alasan untuk merasa malu terhadap sesuatu yang memberi pengalaman dan kebahagiaan.
Fandom sebagai Bagian Kecil dari Perjalanan Mengenal Diri
Setelah mempelajari Estetika Humanisme, saya jadi melihat pengalaman fangirling dengan cara yang sedikit berbeda. Awalnya tentu saja semuanya bermula dari rasa suka kepada musik, idol, atau karya tertentu. Tetapi di sepanjang prosesnya ada emosi, pilihan, hubungan sosial, dan pengalaman yang ikut membentuk diri.
Suatu hari mungkin lagu favorit berubah, idol yang diikuti berganti, atau saya tidak lagi seaktif sekarang. Namun pengalaman pergi ke tempat baru, berbicara dengan orang yang sebelumnya tidak dikenal, belajar mengatur prioritas, dan merasakan kebersamaan dengan ribuan orang tetap menjadi bagian dari perjalanan hidup saya.
Bagi saya, itu sebabnya pengalaman fandom juga layak dibicarakan di ruang kampus. Melalui Cyber Rhetoric UNSIA, pengalaman budaya populer bisa dibaca bukan hanya sebagai tren, tetapi juga sebagai bahan refleksi tentang manusia, pilihan, relasi, dan cara kita mengenal diri sendiri.
“Saya datang ke fandom karena menyukai seseorang, tetapi dari perjalanan itu saya justru belajar mengenal diri saya sendiri.”
Referensi
American Psychological Association. (2018). Self-concept. APA Dictionary of Psychology. https://dictionary.apa.org/self-concept
Miranda, A. I. A., Taibe, P., & Purwasetiawatik, T. F. (2022). Analisis fanship terhadap positive psychosocial outcomes: Happiness, self-esteem, dan social connectedness berdasarkan teori identitas sosial pada penggemar K-Pop di Indonesia. Jurnal Psikologi Karakter, 2(2), 219-226. https://journal.unibos.ac.id/jpk/article/view/1976
OpenStax. (2020). Psychology 2e: Humanistic approaches. Rice University. https://openstax.org/books/psychology-2e/pages/11-5-humanistic-approaches
World Health Organization. (2025). From loneliness to social connection: Charting a path to healthier societies. WHO Commission on Social Connection. https://www.who.int/publications/i/item/978240112360
Ticketmaster Singapore. (2026). EXO PLANET #6 – EXhOrizon in Singapore. https://ticketmaster.sg/activity/detail/26sg_exo
Rujukan pakar/ahli yang disediakan pada soal UAS Estetika Humanisme: https://www.youtube.com/watch?v=qWBE08TXkKs