JurnalPost.com – Komunikasi langsung antara media dan publik sangat penting dalam kegiatan hubungan masyarakat (humas). Oleh karena itu, praktisi humas perlu memperhatikan pedoman komunikasi media, termasuk menghindari penggunaan istilah yang dapat menimbulkan kesalahpahaman, kontroversi, atau kebingungan di kalangan publik. Secara garis besar, etika terbagi menjadi dua kategori, yaitu etika umum dan etika khusus. Etika umum membahas prinsip-prinsip moral, nilai-nilai dasar perilaku manusia, teori-teori etika, serta sistem norma yang membantu seseorang dalam membuat keputusan moral. Walaupun istilah ‘etika umum’ terkadang dianggap kurang tepat, bidang ini dapat dilihat sebagai etika teoretis seperti halnya sains atau filsafat moral karena terus berhubungan dengan perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari yang bersifat praktis dan nyata, bukan sekadar kajian abstrak. Etika khusus merujuk pada penerapan prinsip-prinsip moral dasar dalam bidang kehidupan tertentu. Dalam konteks ini, nilai-nilai moral dan norma-norma dijelaskan berdasarkan kekhasan dari suatu aspek eksistensi manusia. Artinya, etika merupakan refleksi kritis dan logis terhadap kehidupan manusia yang ditinjau melalui prinsip-prinsip moral yang telah ada, serta mempertimbangkan kondisi unik dalam tiap bidang kehidupan individu atau kelompok. Etika tidak hanya mengkaji perilaku manusia secara umum, tetapi juga menyoroti kehidupan manusia dalam ranah aktivitas tertentu. Saat ini, kajian etis semakin menaruh perhatian pada bagaimana manusia bertindak dan menjalani kehidupannya dalam konteks yang lebih spesifik dan kompleks. Keraf (Efendi dkk 2024:285).
Menurut Octasylva (2024:20) Etika dapat diibaratkan sebagai kompas moral yang menuntun kita dalam membedakan tindakan yang benar dan salah. Etika memberikan pemahaman mengenai nilai-nilai kebaikan dan keburukan dalam kehidupan. Sementara itu, moralitas merujuk pada seperangkat aturan dan nilai yang menjadi pedoman dalam perilaku manusia. Dalam konteks bisnis, etika bisnis berarti penerapan prinsip-prinsip moral dalam aktivitas bisnis. Secara sederhana, etika bisnis mengajarkan bagaimana menjalankan usaha secara benar dan adil, dengan mempertimbangkan kepentingan semua pihak, bukan sekadar mengejar keuntungan. Ada beberapa pendekatan untuk menilai apakah suatu tindakan dapat dikatakan benar atau salah, salah satunya adalah dengan meninjau tujuan atau akibat dari tindakan tersebut, yang dikenal sebagai etika teleologis. Misalnya, suatu keputusan bisnis dianggap baik apabila menghasilkan keuntungan besar. Namun, terdapat pendekatan lain yang menilai tindakan berdasarkan niat atau motivasi di baliknya.
Menurut Alparisi dkk (2023:740) Etika bisnis dalam Islam berlandaskan pada ajaran al-Qur’an dan hadits yang menekankan pentingnya kejujuran, keadilan, serta keseimbangan dalam menjalankan aktivitas bisnis. Prinsip-prinsip ini turut memengaruhi proses pengambilan keputusan manajerial dengan mempertimbangkan kepentingan seluruh pemangku kepentingan serta aspek sosial dan lingkungan. Namun, penerapan etika bisnis Islam dalam pengambilan keputusan menghadapi sejumlah tantangan, seperti keterbatasan pemahaman, perbedaan budaya, aspek hukum, kendala praktis, dan faktor sosial. Oleh karena itu, seorang manajer perlu memperdalam wawasan mengenai etika bisnis Islam, memperhatikan hal-hal penting dalam proses pengambilan keputusan, serta menjunjung tinggi hak asasi manusia. Dengan mengimplementasikan prinsip-prinsip etika bisnis Islam, sebuah perusahaan dapat memperoleh berbagai manfaat positif, seperti peningkatan pertumbuhan usaha, peningkatan loyalitas konsumen, dan peningkatan performa perusahaan secara keseluruhan. Menurut Firnanda (2024:182) Dalam proses membuat keputusan, sangat penting untuk memperhatikan aspek etika agar keputusan yang diambil tidak menimbulkan kerugian bagi pihak manapun. Etika berperan dalam memastikan bahwa keputusan yang dibuat bersifat adil, mempertimbangkan kepentingan semua pihak, serta sejalan dengan norma dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat.
Etika komunikasi adalah prinsip moral yang mengatur cara individu menyampaikan dan menerima pesan agar tetap menghargai kebenaran, tanggung jawab, serta hak-hak orang lain. Dalam konteks pengambilan keputusan, etika komunikasi berarti memastikan bahwa proses pertimbangan dan penyampaian keputusan dilakukan secara terbuka, jujur, adil, dan bertanggung jawab.
Peran Etika Komunikasi dalam Pengambilan Keputusan
1. Menjamin Transparansi
Etika komunikasi mendorong pengambilan keputusan yang terbuka, di mana informasi yang relevan disampaikan secara jelas dan tidak menyesatkan.
2. Menghargai Perspektif Orang Lain
Melalui komunikasi yang etis, setiap pihak diberi ruang untuk menyampaikan pendapat, masukan, dan kekhawatiran sebelum keputusan diambil.
3. Menghindari Manipulasi Informasi
Keputusan yang baik tidak lahir dari komunikasi yang bersifat menipu, menutup-nutupi fakta, atau menggiring opini tanpa dasar yang kuat.
4. Membangun Kepercayaan
Komunikasi yang jujur dan bertanggung jawab dalam proses pengambilan keputusan meningkatkan kepercayaan antarindividu dan antarorganisasi.
5. Menjaga Tanggung Jawab Sosial
Komunikasi yang etis mempertimbangkan dampak keputusan terhadap pihak lain, termasuk masyarakat, lingkungan, dan kelompok yang lebih lemah.
Contoh Penerapan Etika Komunikasi dalam Keputusan
1. Dalam organisasi, seorang pemimpin menyampaikan rencana pengurangan karyawan secara terbuka, menjelaskan alasan, proses, dan memberikan solusi pendukung.
2. Dalam diskusi publik, seorang narasumber tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi dan menghindari ujaran yang dapat menyesatkan masyarakat.
3. Dalam lingkungan akademik, seorang dosen transparan terhadap kriteria penilaian agar keputusan nilai mahasiswa dapat diterima secara adil.
Etika komunikasi berperan penting dalam mengarahkan pengambilan keputusan yang adil, inklusif, dan bertanggung jawab. Tanpa etika komunikasi, proses pengambilan keputusan rentan terhadap kesalahpahaman, manipulasi, dan ketidakadilan. Oleh karena itu, membangun budaya komunikasi yang etis merupakan fondasi utama dalam menciptakan keputusan yang berkualitas dan diterima semua pihak.
Dara Zulia
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang
DAFTAR PUSTAKA
Alparisi, A., Maulana, A. Z., & Yasir, M. (2023). Etika Bisnis dalam Islam: Pengaruhnya Terhadap Pengambilan Keputusan Manajerial. Religion: Jurnal Agama, Sosial, Dan Budaya, 2(5), 730-742.
Efendi, E., Siregar, E. T., Andini, A., & Nst, M. F. F. (2024). Analisis Pengaruh Etika Pulic Relation Dalam Mengambil Keputusan Untuk Bertindak Secara Etis Pada Dunia Bisnis. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 10(20), 285-291.
Firnanda, A. A., Fajreini, N., & Syihabuddin, A. (2024). Pendekatan Etika dalam Pengambilan Keputusan oleh Nadhir Wakaf. Jurnal Publikasi Sistem Informasi dan Manajemen Bisnis, 3(1), 181-191.
Octasylva, A. R. P., & Wahid, A. (2024). Etika dalam Pengambilan Keputusan Investasi: Literature Review. JURNAL ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI (IPTEK), 8(2), 18-24.