
Penulis : Choiri Nisa Hidayati – Mahasiswa Universitas Siber Asia
JurnalPost.com – Era digital adalah era ketika manusia lebih mudah untuk bersosialisasi. Munculnya media sosial seharusnya menjadi ruang aman untuk bersosialisasi, berkomunikasi serta berbagi informasi. Namun, ketika jari lebih cepat daripada hati dan moral, unggahan yang nampaknya sederhana, dapat berubah menjadi persoalan yang besar. Fenomena ini bukan hanya sebuah kekhawatiran, namun ruang digital telah beberapa kali menunjukkan bagaimana sebuah unggahan dapat menimbulkan dampak besar kepada pengunggahnya. Salah satumya terjadi pada kasus sejumlah tenaga kesehatan yang menjadi sorotan setelah mencibir pasien pengguna BPJS, yaitu Yurizal Tri Chaerawan, seorang pengguna BPJS yang sempat membagikan pengalamannya di Thread pada 22 Juli 2026 (CNN Indonesia. 2026).
Kasus tersebut kian menjadi sorotan setelah sepupu Yurizal mengabarkan melalui akun media sosial milik almarhum, bahwa Yurizal telah meninggal dunia pada Jum’at, 31 Juli 2026. Publik semakin menyoroti sejumlah komentar yang diduga ditulis oleh tenaga kesehatan yang dinilai kurang menunjukkan rasa empati terhadap kondisi pasien (Aliansyah, 2026). Dari fenomena tersebut, menyisakan satu pertanyaan yang masih tersisa, yakni alasan mengapa komentar yang dinilai tidak empatik dapat dilontarkan begitu saja ke ruang digital? Sejauh ini belum ada informasi pasti kenapa hal itu terjadi, namun fenomena tersebut menjadi sebuah contoh bahwa kemudahan dalam berkomentar, terkadang membuat kita lupa bahwa dibalik setiap akun media sosial, bukan sekadar nama atau karakter tanpa perasaan, melainkan manusia nyata.
Oleh karena itu, penting untuk tetap menerapkan EQ atau kecerdasan emosi dalam berinteraksi di ruang digital. EQ menurut Goleman merupakan kemampuan untuk dapat memahami perasaan sendiri dan perasaan orang lain, mampu mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain (Chintya & Sit, 2024). Terdapat beberapa aspek kecerdasan emosional yang berkaitan dengan etika bermedia sosial, yakni kesadaran diri, pengendalian diri, empati, dan juga keterampilan sosial.
Kesadaran diri, merupakan kemampuan untuk mengenali perasaan yang sedang dirasakan. Pengguna sosial media harus dapat mengidentifikasi emosi yang sedang dirasakannya, sebelum mengambil keputusan untuk suatu tindakan. Selanjutnya adalah pengendalian diri yaitu merupakan pengendalian respons emosional. Pengguna sosial media dapat memberikan ruang bagi dirinya sendiri untuk dapat mengelola emosi yang dirasakan, sehingga apa yang dibagikan di sosial media tetap berdampak positif bagi diri sendiri maupun orang lain. Lalu empati, yaitu kemampuan untuk memahami perspektif orang lain. Dalam bersosial media, publik harus dapat berempati dan menyelaraskan diri dengan berbagai macam karakter individu. Dan yang tidak kalah penting yaitu Keterampilan sosial, yaitu kemampuan yang sangat berkaitan erat dengan sosial media. Pengguna sosial media seharusnya mampu membangun komunikasi dan berinteraksi dengan orang lain secara bijak, terutama ketika menghadapi perbedaan pendapat. Kemampuan untuk berargumen tanpa merendahkan serta merespons kritik dengan tepat, sangat dibutuhkan untuk menghindari konflik yang tidak diperlukan, agar komunikasi di ruang digital tetap memberikan kenyamanan dan tidak berubah menjadi ruang yang dapat menyakiti orang lain.
Pada akhirnya, ruang digital merupakan ruang interaksi dan ruang untuk saling berkomunikasi antarmanusia. Kemudahan dalam memberikan opini, maupun komentar seharusnya tidak membuat kita untuk mengabaikan perasaan, serta kondisi orang lain. Penerapan kecerdasan emosional dapat membantu seseorang untuk mengenali, memahami dan mengelola emosinya, memahami perasaan orang lain, serta membangun komunikasi yang lebih bijak dan juga lebih sehat. Karena dibalik setiap akun sosial media, terdapat manusia nyata, yang mempunyai perasaan, bukan sekadar karakter bernama namun tanpa emosi.
Referensi:
Aliansyah, M. A. (2026, August 5). Pasien diduga terlambat ditangani meninggal, curhat di medsos jadi sorotan. Liputan6.com. https://www.liputan6.com/news/read/8262165/pasien-diduga-terlambat-ditangani-meninggal-curhat-di-medsos-jadi-sorotan
Chintya, R., & Sit, M. (2024). Analisis teori Daniel Goleman dalam perkembangan kecerdasan emosi anak usia dini. Absorbent Mind: Journal of Psychology and Child Development, 4(1), 159–168. https://doi.org/10.37680/absorbent_mind.v4i1.5358
CNN Indonesia. (2026, August 7). Daftar nakes minta maaf usai cibir pasien BPJS di medsos. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20260807101153-20-1389612/daftar-nakes-minta-maaf-usai-cibir-pasien-bpjs-di-medsos
CNN Indonesia. (2026, August 7). Kemenkes ungkap almarhum Yurizal pasien BPJS tunggu 8 jam di IGD RSCM. CNN Indonesia. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20260807194229-20-1389926/kemenkes-ungkap-almarhum-yurizal-pasien-bpjs-tunggu-8-jam-di-igd-rscm