
Oleh: Hannifa Rojwa Thalib (Mahasiswi Sastra Inggris UIN Sunan Gunung Djati Bandung)
JurnalPost.com – Desember selalu memiliki cara unik untuk menutup tahun. Bagi pekerja, Mahasiswa, ataupun sebagian orang, bulan desember merupakan bulan libur penuh perayaan dan gemerlap lampu kota. Namun, bagi saya, Desember 2025 membawa sebuah getaran spiritual yang lebih mendalam. Jika kita menilik kalender Hijriah, tepat di pekan ketiga bulan desember, kita memasuki 1 Rajab 1447 H.
Pertemuan antara bulan Rajab dan perayaan Natal umat Kristiani di penghujung tahun ini bukan sekadar rotasi angka di atas kertas. Tetapi juga tentang kedamaian dan toleransi bagi umat beragama di Indonesia.
Bagi umat Islam, Rajab adalah salah satu dari Asyhurul Hurum bulan yang dimuliakan. Yang mana umat muslim mulai mempersiapkan diri, membersihkan batin melalui puasa sunnah, sebelum nantinya memanen di bulan Sya’ban dan berpesta spiritual di bulan Ramadhan.
Menjalankan puasa Rajab bukan hanya soal menahan lapar dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Di bulan ini, doa-doa dilangitkan dengan harapan agar kita dipertemukan dengan bulan-bulan suci berikutnya. Keheningan sahur dan kekhusyukan berbuka menjadi ritme yang mulai terasa di tengah kesibukan akhir tahun yang biasanya hiruk-pikuk.
Menariknya, tahun 2025 memberikan kita pemandangan yang istimewa. Tanggal 1 Rajab yang jatuh pada 21 Desember hanya berjarak beberapa hari saja dari perayaan Natal pada 25 Desember. Artinya, saat umat Muslim memulai puasa sunnah di awal Rajab, saudara-saudara kita umat Kristiani juga menyambut sukacita kelahiran Yesus Kristus.
Kedua aktivitas ini, meski berbeda secara dogma dan ritual, membawa frekuensi yang sama: Cinta dan Kedamaian.
Toleransi yang Hidup, Bukan Sekadar Teori
Sebagai mahasiswi sastra, saya melihat fenomena ini sebagai sebuah “metafora” tentang negeri kita, Indonesia. Toleransi di negeri ini tidak perlu didefinisikan dengan bahasa yang rumit. Ia hidup dalam aroma masakan sahur yang tidak mengganggu senyapnya malam Natal, dan ia hadir dalam kerlip lampu pohon Natal yang memberikan cahaya bagi mereka yang melintas menuju masjid di waktu Maghrib.
Puasa Rajab yang saya jalani mengajarkan tentang pengendalian diri dan empati. Natal yang dirayakan tetangga saya mengajarkan tentang kasih kepada sesama. Ketika kedua nilai ini bertemu di satu bulan yang sama, Desember tidak lagi hanya menjadi akhir dari sebuah tahun, melainkan awal dari sebuah kesadaran baru: bahwa perbedaan adalah warna yang membuat lukisan kebangsaan kita menjadi utuh.
Mari kita rayakan pertemuan dua momentum besar ini dengan saling menjaga, saling menghargai, dan membuktikan bahwa di Indonesia, ibadahmu adalah ketenanganmu, dan ibadahku adalah ketenanganku. Kita berbeda dalam cara berdoa, namun kita satu dalam menjaga damai di bumi pertiwi.
Lakum diinukum wa liya diin
“Untukmu agamamu, dan untukku agamaku,”
QS Al-Kafirun : 6