Kembali
Mode hapus aktif. Klik paragraf, foto, judul, tabel, atau bagian lain yang tidak ingin masuk PDF.
JurnalPost.com

Dramatisme : Media Sosial sebagai Sarana Pencitraan

Tim Editor: Redaksi · Tanggal: 11 Desember 2023

M. Fharedzky Mahesya – Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Sriwijaya 2022.

JurnalPost.com – Dalam kehidupan manusia, tentunya tidak akan pernah bisa lepas dari komunikasi. Komunikasi adalah kunci dari keberhasilan segala sesuatu, sehingga diperlukan komunikasi yang baik antar sesama manusia dalam berinteraksi. Komunikasi adalah proses penyampaian pesan dan informasi dari komunikator kepada komunikan, dengan tujuan agar informasi dan pesan yang disampaikan dapat dipahami sehingga tidak terjadinya miscommunication. Dalam berinteraksi, manusia memerlukan strategi komunikasi yang baik dan benar, agar komunikasi dapat berjalan dengan lancar serta menghindari terjadinya miscommunication. Untuk merealisasikan komunikasi yang baik, tentunya manusia memerlukan media dan berbagai cara untuk melakukan komunikasi. Komunikasi terbagi menjadi empat yaitu komunikasi langsung dan tidak langsung serta komunikasi verbal dan nonverbal. Tentunya setiap orang harus bisa menyesuaikan seluruh bagian komunikasi tersebut kapan saja harus digunakan, mana yang efektif untuk situasi yang sedang ia hadapi. Komunikasi langsung adalah komunikasi yang disampaikan secara langsung tanpa media apapun sedangkan komunikasi tidak langsung adalah komunikasi yang menggunakan media perantaranya. Selanjutnya ada komunikasi verbal yang merupakan komunikasi yang menggunakan kata-kata, berbicara serta tulisan sedangkan komunikasi non verbal adalah sebaliknya.

Perkembangan zaman, telah membawa manusia ke zaman yang serba digital dan sangat canggih. Sehingga dalam berkomunikasi pun, manusia diberikan kemudahan dalam menyampaikan informasi kepada sasaran yang dituju dengan bantuan media. Dalam berkomunikasi sekarang, manusia dimanjakan dengan perkembangan teknologi, yang dimana hadirnya media baru dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia. Media baru yaitu berupa media sosial, kini hadir dalam mempermudah kehidupan manusia. Dengan hadirnya media sosial, manusia dapat saling berinteraksi tanpa harus bertemu secara langsung atau sekarang dikenal dengan virtual. Hal ini tentunya sangat mempermudah manusia, dalam mengatasi keterbatasan jarak dan waktu.

Apa itu Media Sosial?

Media sosial merupakan media baru yang hadir dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari manusia. Media sosial adalah sarana atau pelantar digital yang hadir dalam mempermudah seseorang untuk berinteraksi dan bertukar informasi. Contoh dari media sosial adalah Instagram, TikTok, Twitter, Facebook, WhatsApp dan lain lain. Dengan hadirnya media sosial, kini membuat semua orang menjadi ketergantungan dengan kecanggihan teknologi ini. Semua orang kini dapat mempunyai media sosial, hanya dengan bermodalkan handphone, internet dan akun media sosial yang dapat dibuat dengan mudah, kini semua orang dapat menikmati kecanggihan teknologi tersebut. Manusia dapat saling bertukar informasi, pikiran, mengirim video, gambar, suara dll melalui media sosial. Melalui media sosial pun, seseorang dapat menyebarkan kesehariannya dengan menggunakan fitur story ataupun posting di feed dan akan muncul di beranda semua orang.

Media sosial yang bermanfaat untuk menyebarkan seluruh aktivitas sosial seseorang, kini dimanfaatkan seseorang dalam membentuk atau menciptakan personal branding melalui media sosial. Sehingga banyak sekali orang yang memanfaatkan media sosial untuk menunjukkan siapa dirinya, mereka semakin rajin posting terutama di Instagram karena mayoritas penduduk sekarang menggunakan Instagram terkhususnya Gen Z. Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), terdapat 210,03 juta pengguna internet di dalam negeri pada periode 2021-2022. Angka tersebut meningkat 6,7% dari periode sebelumnya yang sebesar 196,7 juta pengguna internet. Laporan We Are Social mengungkapkan bahwa jumlah pengguna aktif media sosial di Indonesia pada Januari 2022 tumbuh sebesar 12,35% dari tahun 2021. Lebih tepatnya jumlah pengguna aktif medsos pada awal 2022 adalah sebanyak 191 juta orang sedangkan pada 2021 sebesar 170 juta orang. Dengan total populasi 273.5 juta lebih hal tersebut berarti hampir dari setengah penduduk Indonesia telah menjadi pengguna aktif media sosial.

Hal tersebut menjadi acuan bagi masyarakat, terlihat karena banyaknya pengguna media sosial, sehingga masyarakat memanfaatkan media sosial untuk menunjukkan dirinya kepada dunia, menunjukkan kemampuannya kepada dunia. Sehingga membentuk perspektif orang lain terhadap dirinya, tentu ini menjadi penentu kualitas diri seseorang. Hal tersebut juga membuat manusia melakukan segala cara untuk membangun personal branding nya, tak jarang dari mereka melakukan pencitraan melalui media sosial, agar dipandang baik oleh orang lain. Hal tersebut jika dikaitkan dengan teori yang ada dalam komunikasi, itu selaras dengan teori dramatisme.

Apa itu Teori Dramatisme?

Teori Dramatisme merupakan salah satu teori yang ada dalam Ilmu Komunikasi, yang membahas mengenai bagaimana komunikasi dan tindakan kehidupan itu dianggap seperti drama. Drama yang dimaksud disini adalah bagaimana seseorang bertindak seperti drama yang dimana drama ini hanya akting belaka, apa yang ditampilkan ke depan publik itu belum tentu sesuai dengan dirinya dan dibelakang publik itu lain lagi. Seperti layaknya drama diatas panggung, yang hanya menyajikan sebuah alur cerita yang direkayasa, tapi di belakang layar

tentu kehidupan seseorang berbeda dengan apa yang ia bawakan di atas panggung. Seperti itulah kehidupan manusia, manusia menampilkan drama dalam kehidupannya, apa yang ia tampilkan belum tentu sesuai dengan aslinya, itu semua dilakukan demi membangun branding yang baik, guna mempermudah kehidupannya. Panggung yang dimaksud dalam drama adalah media yang dipakai oleh setiap orang, di zaman sekarang media sosial adalah panggung atas segalanya.

Maka dari itu, banyak sekali orang-orang yang mencoba membangun personal branding dan melakukan pencitraan melalui media sosial. Namun sangat disayangkan beberapa kali seseorang menerapkan dramatisme tersebut, sehingga membuat ekspektasi orang lain berlebihan namun pada realitanya belum tentu sesuai.

Bagaimana Media Sosial Membantu Merealisasikan Dramatisme Kehidupan?

Media sosial kini banyak digunakan oleh semua orang, sehingga seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa banyak sekali orang yang membangun personal branding, serta pencitraannya melalui media sosial. Ini merupakan salah satu contoh nyata penerapan teori dramatisme, yang dimana setiap orang menampilkan sesuatu yang membuat orang lain terkesima dengan kemampuannya, namun yang sangat disayangkan beberapa kualitas diri seseorang tidak sesuai dengan apa yang ia tampilkan di media sosial. Namun bagaimana pun juga, memang itulah tujuan dari media sosial untuk menciptakan personal branding dan melakukan pencitraan, namun ada baiknya juga atas apa yang ditampilkan itu haruslah sesuai agar orang lain tidak menaruh ekspektasi lebih kepada diri ini.

Salah satu contoh kasus yang sangat selaras dengan teori dramatisme dengan pemanfaatan media sosial adalah mendekati politik 2024 yang semakin memanas, yang dimana banyak sekali para calon-calon legislatif yang memanfaatkan media sosial untuk melakukan pencitraan, karena media sosial ini mampu mencakup banyak orang dan khalayak tanpa mengenal jarak dan waktu. Calon pemimpin negeri ini benar-benar memanfaatkan media sosial dengan baik, terkhusus lagi banyak Gen Z yang mendominasi di Indonesia dan menjadi calon pemilih baru dan muda. Mereka merekayasa media sosial sesuai dengan apa yang membuat Gen Z tertarik dengan dirinya, ini merupakan salah satu strategi yang baik dan contoh kasus nyata penerangan teori dramatisme dalam membangun pencitraan di media sosial.

Penutup

Hendaknya setiap orang bijak dalam pemanfaatan media sosial, jangan mudah terpedaya dengan apa yang ditampilkan orang lain di media sosial. Media sosial merupakan tempat membangun branding yang baik dan sasaran pencitraan yang tepat. Sehingga baiknya agar memilah dan menentukan mana yang baik dan mana yang tidak, jangan mudah merasa minder atas apa yang ditampilkan di media sosial, karena itu semua dramatisme.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/read/dramatisme-media-sosial-sebagai-sarana-pencitraan/8395/
Dicetak dari JurnalPost.com pada 05 November 2026 16:00.