Kembali
Mode hapus aktif. Klik paragraf, foto, judul, tabel, atau bagian lain yang tidak ingin masuk PDF.
JurnalPost.com

Dipaksa Waras Oleh Keadaaan yang Menghimpit

Tim Editor: Redaksi · Tanggal: 23 Juni 2026
Dokumentasi Pribadi Dwi Surya Saputra: Pasar Puri Pati, Jawa Tengah

JurnalPost.com – Di tengah melemahnya kondisi ekonomi dan meningkatnya biaya hidup, masyarakat Indonesia menghadapi tekanan yang tidak hanya bersifat finansial, tetapi juga psikologis. Harga kebutuhan pokok terus naik, sementara pendapatan banyak pekerja tidak bergerak sebanding. Pada saat yang sama, publik disuguhi berbagai kasus korupsi dan dugaan penyimpangan anggaran yang melibatkan pejabat publik. Situasi ini memunculkan pertanyaan: sampai sejauh mana masyarakat mampu bertahan secara mental ketika harapan dan kenyataan semakin berjauhan?

Dalam beberapa waktu terakhir, kegelisahan tersebut menemukan ruang ekspresinya. Mahasiswa turun ke jalan, forum-forum diskusi publik berlangsung tegang, dan kritik terhadap pemerintah semakin terbuka disampaikan. Fenomena ini sering dibaca sebagai dinamika politik biasa. Padahal, di baliknya terdapat dimensi psikologis yang tidak kalah penting: masyarakat sedang berupaya mempertahankan kewarasan di tengah tekanan hidup yang terus menghimpit.

Respon Publik dalam Situasi Sulit
Di tengah tekanan ekonomi dan ketidakpastian sosial, masyarakat menunjukkan beragam respons. Sebagian memilih bekerja lebih keras untuk mempertahankan stabilitas hidup, sebagian lain bertahan dalam diam sambil menyesuaikan pengeluaran rumah tangga. Di ruang digital, tidak sedikit yang meluapkan kekecewaan melalui media sosial. Sementara itu, kelompok lain memilih turun ke jalan untuk menyuarakan kritik dan tuntutan kepada pemerintah.

Fenomena ini dapat dipahami melalui teori Stress and Coping yang dikemukakan Richard Lazarus dan Susan Folkman. Menurut teori ini, stres muncul ketika tuntutan lingkungan dirasakan lebih besar daripada sumber daya yang dimiliki individu untuk menghadapinya. Dalam kondisi biaya hidup yang meningkat, ketidakpastian ekonomi, dan menurunnya kepercayaan terhadap institusi publik, masyarakat berusaha mencari cara untuk mengelola tekanan tersebut. Karena itu, demonstrasi dan ekspresi kemarahan publik tidak semata-mata dapat dipandang sebagai tindakan politik, tetapi juga sebagai respons psikologis terhadap tekanan yang dirasakan secara kolektif.

Jika Ketidakpastian Menjadi Hal yang Normal
Lalu bagaimana jika ketidakpastian tidak lagi dipandang sebagai keadaan sementara, melainkan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari?

Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat hidup di tengah perubahan harga yang sulit diprediksi, pasar kerja yang tidak menentu, serta kebijakan publik yang kerap memunculkan perdebatan. Kondisi ini menciptakan apa yang disebut psikolog sebagai chronic uncertainty, yaitu ketidakpastian yang berlangsung dalam jangka panjang. Berbeda dengan krisis yang datang dan pergi, ketidakpastian yang menetap menguras energi mental karena individu terus dipaksa beradaptasi tanpa mengetahui kapan situasi akan membaik.
Kemudian muncul pertanyaan lanjutan: apakah masyarakat Indonesia saat ini sedang marah atau justru mulai lelah?

Kemarahan mendorong seseorang untuk bersuara, mengkritik, dan menuntut perubahan. Sebaliknya, kelelahan sosial membuat individu kehilangan energi untuk peduli. Ketika persoalan ekonomi, kasus korupsi, dan ketidakpastian terus berulang tanpa perbaikan yang dirasakan nyata, sebagian masyarakat dapat mengalami learned helplessness, yaitu kondisi ketika seseorang merasa bahwa upayanya tidak lagi mampu mengubah keadaan. Dalam situasi seperti ini, ancaman terbesar bukanlah kemarahan publik, melainkan hilangnya harapan bahwa perubahan masih mungkin diperjuangkan.

Masyarakat Indonesia mungkin masih tampak baik-baik saja. Mereka tetap berangkat kerja, membuka usaha, membayar cicilan, dan menjalani rutinitas sehari-hari. Namun psikologi mengingatkan bahwa kemampuan bertahan tidak selalu menjadi tanda kesejahteraan. Sering kali, bertahan hanyalah cara manusia menyesuaikan diri terhadap tekanan yang terus-menerus hadir. Karena itu, pertanyaan yang perlu diajukan bukanlah seberapa lama masyarakat mampu bertahan, melainkan berapa lama mereka harus terus dipaksa bertahan. Sebab ketika kewarasan hanya menjadi kemampuan untuk menanggung beban yang semakin berat, yang sesungguhnya sedang terjadi adalah perjuangan kolektif untuk tetap memiliki harapan.

Foto Dwi Surya Saputra
Foto Dwi Surya Saputra

Dwi Surya Saputra – Mahasiswa Magister Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/read/dipaksa-waras-oleh-keadaaan-yang-menghimpit/26418/
Dicetak dari JurnalPost.com pada 06 November 2026 06:16.