Kembali
Mode hapus aktif. Klik paragraf, foto, judul, tabel, atau bagian lain yang tidak ingin masuk PDF.
JurnalPost.com

Digital Parenting & Komunikasi Efektif: Membantu Orang Tua Membangun Kedekatan dengan Anak Penderita Kanker di Era Digital

Tim Editor: Redaksi · Tanggal: 11 Desember 2025

Ditulis oleh:

• Clareta Thesalonika, S.Pd. (Mahasiswa Magister Psikologi Universitas Tarumanagara)
• Pamela Hendra Heng, S.Pd., M.P.H., M.., Ph.D,, Dr. Riana Sahrani, Psikolog. (Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara)

JurnalPost.com – Perkembangan teknologi digital membawa perubahan besar dalam pola komunikasi dan interaksi di keluarga. Anak-anak saat ini tumbuh sebagai digital natives Dimana mereka terbiasa dengan gadget, internet, media sosial, dan hiburan online sejak usia sangat dini. Di satu sisi, teknologi digital memberikan manfaat: edukasi, hiburan, dan akses terhadap komunitas yang memberi semangat. Namun di sisi lain, penggunaan gadget yang tidak terarah dapat memperlemah kedekatan emosional antara anak dan orang tua.

Tantangan ini semakin kompleks pada keluarga yang memiliki anak penderita kanker. Anak yang menjalani perawatan medis jangka panjang cenderung memiliki aktivitas fisik terbatas dan lebih banyak berada di rumah sakit atau rumah. Hal ini membuat gadget sering menjadi pelarian utama dari rasa sakit, bosan, atau kecemasan. Orang tua kemudian menghadapi dilema: bagaimana tetap membimbing anak secara digital, sekaligus menjaga hubungan emosional yang hangat di tengah kondisi sulit?

Mengapa Orang Tua Sekarang Lebih Sulit “Membilangin” Anak?
Banyak orang tua, termasuk dari komunitas Parent Club Yayasan Onkologi Anaik Indonesia (YOAI), mengeluhkan hal yang sama: “Anak sekarang susah sekali diingatkan, beda dengan zaman dulu.”. Fenomena ini bukan semata-mata karena anaknya “lebih nakal” atau orang tuanya “kurang tegas”. Ada tiga perubahan besar yang perlu dipahami:

1. Anak Tumbuh di Lingkungan Digital yang Sangat Interaktif
Gadget menyediakan hiburan cepat, visual menarik, dan pengalaman yang “mengikat” otak anak. Ketika anak sedang mendapatkan kenyamanan dari layar, instruksi orang tua sering dianggap mengganggu.

Ini bukan semata pembangkangan, tetapi reaksi alami dari otak anak yang sedang menikmati dopamin dari aktivitas digital.

2. Pola komunikasi generasi dulu berbeda dengan generasi sekarang
Dulu, komunikasi orang tua–anak lebih bersifat satu arah.
Sekarang, anak-anak tumbuh dalam budaya yang mengajarkan critical thinking dan ekspresi diri. Mereka terbiasa bertanya “mengapa?” dan ingin dilibatkan dalam keputusan.
Jika orang tua masih memakai gaya komunikasi instruktif, sering terjadi benturan.

3. Orang Tua Sendiri Lebih Stres & Kelelahan
Dalam kasus keluarga dengan anak penderita kanker, stres emosional, kecemasan, dan kelelahan fisik menumpuk. Hal ini membuat orang tua:
• lebih mudah marah,
• kurang sabar,
• atau sulit hadir sepenuhnya secara emosional.

Kondisi ini dapat memperlemah kualitas komunikasi, sehingga anak pun sulit menerima arahan.

Tantangan Tambahan pada Anak Penderita Kanker
Anak penderita kanker menghadapi kondisi fisik dan emosional yang berbeda dari anak pada umumnya. Kondisi tersebut secara langsung memengaruhi cara mereka menggunakan perangkat digital dan merespons komunikasi orang tua.

1. Aktivitas fisik yang terbatas
Perawatan seperti kemoterapi dapat menyebabkan nyeri, kelelahan ekstrem, mual, dan neuropati. Hal ini membuat anak banyak beristirahat atau beraktivitas sambil berbaring (Baggott et al., 2012). Gadget menjadi hiburan pasif yang mudah dan tidak membutuhkan tenaga.
Slater et al. (2018) menemukan bahwa perangkat digital sering menjadi aktivitas utama anak selama masa rawat inap.

2. Gadget sebagai pelarian emosional
Ketika menghadapi stres, ketidakpastian, atau rasa takut, anak menggunakan video, game, atau media sosial sebagai distraksi emosional. Teknologi digital mampu menurunkan kecemasan sementara dan memberikan ruang “melupakan keadaan” (Nahar et al., 2019).
Liang et al. (2020) menyebutkan bahwa aktivitas digital sering menjadi coping strategy utama bagi anak dengan penyakit kronis.

3. Sensitivitas emosi yang meningkat
Pengobatan kanker dapat memengaruhi mood, emosi, dan kestabilan psikologis anak. Perubahan fisik—seperti rambut rontok atau perubahan berat badan—dapat membuat anak lebih mudah tersinggung atau merasa tidak percaya diri (Von Essen et al., 2000).
Rosenberg et al. (2013) juga menunjukkan bahwa pasien anak dan orang tua sama-sama rentan terhadap distress emosional. Dalam kondisi seperti ini, nada bicara orang tua yang sedikit keras bisa terasa sangat menyakitkan.

4. Kebutuhan tinggi untuk merasa memiliki kontrol
Perawatan kanker membuat anak merasa banyak hal dalam hidupnya tidak bisa ia pilih: jadwal kemoterapi, obat-obatan, batasan aktivitas.
Gadget memberi ruang personal di mana anak dapat mengambil keputusan sendiri—memilih video, permainan, atau komunikasi dengan teman (Pendley et al., 1997).
Slater et al. (2018) menegaskan bahwa teknologi digital memberi ilusi kontrol yang sangat penting untuk kesejahteraan emosional anak.
Kombinasi seluruh faktor ini membuat digital parenting pada anak penderita kanker membutuhkan pendekatan yang lebih lembut, fleksibel, dan empatik.

Digital Parenting: Tiga Pendekatan Utama
Livingstone et al. (2017) mengidentifikasi tiga pendekatan utama orang tua dalam mengasuh anak di dunia digital. Ketiganya bisa dikombinasikan agar seimbang.

1. Restrictive Mediation: Batasan yang Masuk Akal dan Hangat
Batasan tetap perlu, tetapi penyampaiannya harus sensitif terhadap kondisi anak.
Aturan tidak lagi berupa “pokoknya tidak boleh”, tetapi berupa kesepakatan yang disesuaikan kemampuan fisik dan emosional anak.
Contoh batasan sehat:
• Waktu layar dibagi: untuk hiburan, belajar, dan komunikasi.
• Tidak memakai gadget saat makan.
• Ada waktu “istirahat mata”.
Contoh cara menyampaikan:
“Mama tahu kamu lagi bosan dan butuh hiburan. Yuk kita nonton sampai jam 4 saja, habis itu kita lihat aktivitas ringan yang kamu mau, ya?”

2. Active Mediation: Ngobrol tentang apa yang anak tonton
Ini adalah pendekatan paling penting dalam konteks anak penderita kanker.
Anak yang sedang sakit sering memproses informasi dan perasaan melalui video atau game yang mereka lihat.
Dengan ngobrol, orang tua bisa:
• membantu anak memahami konten,
• menangkap emosi yang terselip,
• memperkuat hubungan emosional.
Contoh pertanyaan ringan:
• “Tadi kamu nonton apa yang paling bikin kamu senang?”
• “Kalau kamu jadi tokoh itu, kamu bakal gimana?”
Ini bukan interogasi, tetapi percakapan hangat.

3. Co-use: Mendampingi Anak di Dunia Digitalnya
Co-use berarti orang tua masuk ke dunia anak:
nonton bareng, main game bareng, atau belajar bareng.
Manfaatnya:

• Anak merasa ditemani selama proses perawatan.
• Orang tua bisa melihat apa yang anak sukai atau takuti.
• Momen digital berubah menjadi momen bonding.

Contoh:
“Kamu mau Mama temenin nonton film itu? Kamu pilih filmnya, Mama yang siapin camilannya.”
Sederhana, tapi sangat menguatkan anak secara emosional.

Komunikasi Efektif: Kunci Kedekatan di Era Digital
Pada anak penderita kanker, komunikasi efektif bukan sekadar memberi instruksi, tapi memberi rasa aman dan diterima. Ada empat prinsip penting:

1. Mulai dengan mendengarkan, bukan menasihati
Anak yang sedang sakit kadang menolak arahan karena ia merasa tidak punya kendali.
Dengan mendengarkan terlebih dahulu, anak merasa dihargai.

2. Validasi perasaan anak
Contoh:
“Mama ngerti kamu lagi capek dan kesal. Itu wajar banget.”
Ini membuat anak lebih mudah menerima arahan berikutnya.

3. Mengganti kalimat instruktif dengan dialog
Daripada:
“Jangan main HP terus!”
Coba:
“Mama ngerti kamu lagi butuh hiburan. Boleh main, tapi nanti kita istirahat mata sebentar ya.”
4. Sampaikan batasan dengan alasan yang jelas
Anak akan lebih kooperatif jika ia tahu mengapa sebuah aturan dibuat.

Kesimpulan
Digital parenting bukan tentang melarang anak menggunakan teknologi, melainkan tentang mendampingi anak menggunakan teknologi secara sehat dan bermakna, terutama bagi anak-anak yang sedang menjalani perawatan kanker. Ketika orang tua mampu memahami tantangan pengasuhan di era digital, membangun komunikasi yang hangat dan terbuka, terlibat secara aktif dalam dunia anak, serta menetapkan aturan penggunaan gadget dengan empati, teknologi tidak lagi menjadi sumber konflik dalam keluarga. Sebaliknya, gadget dapat berfungsi sebagai jembatan kedekatan yang membantu mempertahankan relasi emosional di tengah proses perawatan yang panjang dan tidak mudah. Dengan pendekatan yang tepat dan penuh kepekaan, orang tua dapat membantu anak merasa lebih aman, lebih dihargai, lebih dicintai, serta lebih kuat secara emosional dalam menghadapi proses pengobatan yang sedang dijalani.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/read/digital-parenting-komunikasi-efektif-membantu-orang-tua-membangun-kedekatan-dengan-anak-penderita-kanker-di-era-digital/21536/
Dicetak dari JurnalPost.com pada 08 November 2026 11:32.