Oleh: Khaira Tsabita Hanum mahasiswa Psikologi Universitas Syiah Kuala
JurnalPost.com – Pada saat ini, perkembangan internet sudah sangat pesat. Pengguna internet telah menyebar di seluruh dunia dan didominasi oleh kalangan remaja yaitu sebesar 43,6%, mereka banyak menggunakan media sosial karena merasa bisa bebas dalam berkomunikasi dan menyuarakan pendapatnya tanpa bertatap muka secara langsung. Masa remaja adalah masa dimana seseorang mencari jati dirinya. Kebanyakan remaja pada saat ini menggunakan media sosial untuk membangun dan mencari jati dirinya.
Media sosial yang mereka gunakan banyak menampilkan konten-konten dari influencer yang memiliki tubuh yang kurus dan langsing sehingga membuat skema ’body goals’ yang dianggap ideal. Hal ini membuat mereka merasa tidak puas dengan tubuhnya sendiri. Ketidakpuasan ini lebih banyak dialami oleh remaja putri dibandingkan dengan remaja putra. Remaja putri pada umumnya ingin badannya lebih ringan dan terlihat kecil, sedangkan remaja putra ingin terlihat besar dan kuat. Para remaja akan melakukan segala macam cara agar ia mendapatkan bentuk tubuh yang dianggapnya ideal itu. Namun, kebanyakan dari mereka memilih cara yang salah dan membahayakan dirinya. Mereka menjalani diet yang mereka temukan di internet, dimana diet ini sangat ketat dan tidak sehat yang pada akhirnya bisa menyebabkan terjadinya gangguan makan.
Gangguan makan bisa disebabkan oleh berbagai faktor, namun pada remaja, penggunaan media sosial merupakan faktor yang paling sering ditemui. Adanya fitur untuk membagikan foto dan memberikan komentar di media sosial sangat berdampak pada remaja, mereka selalu ingin mendapatkan komentar yang baik pada foto yang dibagikannya dengan cara memiliki bentuk tubuh yang dianggap indah dan diterima oleh orang lain. Ada tiga jenis gangguan makan yang sering dialami remaja, yaitu :
1. Anorexia Nervosa
Anorexia Nervosa merupakan gangguan pola makan yang ditandai dengan membuat dirinya menahan rasa lapar dan membatasi asupan makannya, mereka menolak untuk memiliki berat badan yang sehat. Mereka selalu merasa tubuhnya gemuk walaupun sudah mengalami penurunan berat badan.
2. Bulimia Nervosa
Bulimia Nervosa merupakan gangguan pola makan yang ditandai dengan makan yang berlebihan kemudian akan memuntahkan kembali apa yang telah ia makan. Gangguan ini biasanya mereka lakukan sebagai bentuk penyiksaan kepada dirinya sendiri.
3. Binge Eating
Binge Eating merupakan gangguan pola makan yang ditandai dengan makan dengan porsi yang sangat banyak dan berlebihan walaupun tidak merasa lapar. Namun, setelah mereka makan, mereka akan merasa malu dan bersalah.
Gangguan makan ini tidak bisa dianggap sebagai masalah kecil karena akan memberikan pengaruh yang tidak baik terhadap pertumbuhan dan perkembangan remaja. Maka dari itu, sangat dibutuhkan peran orang tua dalam mendampingi para remaja yang terkena gangguan makan. Periksakanlah ke dokter atau psikolog untuk membantunya secara psikologis.
Referensi
Anne M Morris, Debra K Katzman, The impact of the media on eating disorders in children and adolescents, Paediatrics & Child Health, Volume 8, Issue 5, May/June 2003, Pages 287–289.
Pratistitha, G. A. R. (2023). Literature Review: The Impact of Social Media and Body Shaming on Body Eating Disorders in Adolescents. Media Gizi Kesmas, 12(1), 566–574.
Santoso, M. B., & Putri, D. (2018). Gangguan makan anorexia nervosa dan bulimia nervosa pada remaja. Prosiding Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat, 4(3), 399-407.
Wassalwa, U. S., & Khomsan, A. (2023). Dampak Intensitas Penggunaan Instagram terhadap Body Dissatisfaction, Perilaku Makan, dan Status Gizi pada Remaja. Jurnal Ilmu Gizi dan Dietetik, 2(4), 278-286.