Oleh: Anita Yuspiani
Afiliasi: Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Siber Asia
Pendahuluan
Media sosial saat ini tidak hanya digunakan untuk berkomunikasi, tetapi juga menjadi ruang bagi seseorang untuk menunjukkan dirinya kepada orang lain. Melalui foto, video, cerita, dan berbagai aktivitas yang dibagikan, seseorang dapat memperlihatkan minat, pengalaman, serta hal-hal yang dianggap penting dalam kehidupannya. Dengan demikian, media sosial dapat menjadi salah satu tempat seseorang membentuk dan mengekspresikan konsep dirinya (self concept).
Salah satu fenomena yang semakin terlihat saat ini adalah meningkatnya minat masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap kegiatan mendaki dan mengeksplorasi alam. Mendaki tidak hanya menjadi aktivitas fisik, tetapi juga menjadi sarana untuk memperoleh pengalaman, menikmati keindahan alam, mencari kesenangan, dan melepas kepenatan. Fenomena ini semakin terlihat melalui media sosial, ketika pengalaman mendaki dan perjalanan alam dibagikan dalam bentuk foto maupun video sehingga aktivitas tersebut turut menjadi bagian dari gaya hidup dan ekspresi diri.
Fenomena tersebut juga terlihat dalam penggunaan media sosial. Pengalaman mendaki atau traveling sering diabadikan dalam bentuk foto dan video kemudian dibagikan kepada orang lain. Media sosial akhirnya tidak hanya menjadi tempat untuk menyimpan kenangan, tetapi juga menjadi ruang untuk menunjukkan bagian dari diri seseorang.
Hal tersebut dapat dilihat dari salah satu contoh pengguna media sosial yang diamati oleh penulis. Ia memiliki hobi traveling, mendaki, dan mengeksplorasi berbagai tempat baru. Setiap melakukan perjalanan, ia sering mengabadikan tempat yang dikunjungi dan momen yang dialaminya dalam bentuk video. Konten tersebut kemudian dibagikan melalui TikTok dan Instagram.
Self Concept dalam Hobi dan Pengalaman
Self concept secara sederhana dapat dipahami sebagai bagaimana seseorang memandang dan memahami dirinya sendiri. Konsep diri tidak hanya berkaitan dengan bagaimana seseorang melihat dirinya, tetapi juga berkaitan dengan pengalaman, minat, nilai, dan aktivitas yang dianggap penting dalam kehidupannya.
Pada contoh tersebut, kegiatan traveling dan mendaki bukan semata-mata dilakukan untuk mendapatkan perhatian di media sosial. Aktivitas tersebut merupakan hobi yang memberikan kesenangan dan kebahagiaan. Ia menikmati proses perjalanan, menemukan tempat baru, melihat pemandangan, serta mendapatkan pengalaman dari setiap perjalanan.
Hal ini menunjukkan bahwa konsep diri dapat berkembang melalui pengalaman yang benar-benar dijalani. Ketika seseorang merasa bahwa suatu aktivitas sesuai dengan dirinya dan memberikan kebahagiaan, aktivitas tersebut dapat menjadi bagian dari identitas dirinya.
Dalam kasus ini, mendaki dan traveling menjadi bagian dari kehidupan yang kemudian diekspresikan melalui media sosial. Ia tidak hanya memperlihatkan dirinya, tetapi juga memperlihatkan apa yang ia sukai dan pengalaman yang membuatnya bahagia.
Dari Hobi Menjadi Personal Branding
Personal branding dapat dipahami sebagai proses ketika seseorang menunjukkan karakter, kemampuan, minat, atau keunikan dirinya sehingga membentuk kesan tertentu di mata orang lain. Tom Peters melalui gagasan The Brand Called You memperkenalkan pandangan bahwa individu juga dapat membangun sebuah “brand” tentang dirinya sendiri.
Namun, personal branding tidak selalu harus dilakukan dengan cara yang dibuat-buat. Dalam kasus teman yang diamati, personal branding justru dapat dilihat sebagai sesuatu yang tumbuh dari aktivitas yang memang ia sukai.
Ia memiliki hobi traveling dan mendaki. Ia kemudian mengabadikan perjalanan tersebut melalui video. Konten tersebut dibagikan secara berulang melalui TikTok dan Instagram. Dari konsistensi tersebut, orang yang melihat kontennya dapat memperoleh kesan bahwa ia merupakan seseorang yang suka traveling, mendaki, mengeksplorasi tempat baru, dan menikmati perjalanan.
Dengan kata lain: Hobi → pengalaman → kebahagiaan → dokumentasi → media sosial → terbentuknya kesan → personal branding.
Penelitian mengenai representasi identitas di media sosial juga menunjukkan bahwa Instagram dan TikTok dapat menjadi ruang bagi seseorang untuk mengekspresikan diri dan membangun identitas digital.
Personal Branding sebagai Ekspresi Diri
Hal yang menarik dari fenomena tersebut adalah personal branding tidak selalu berarti seseorang sedang berusaha “menjual dirinya”. Ada kalanya personal branding muncul secara alami dari kehidupan sehari-hari.
Ketika seseorang secara konsisten membagikan hal-hal yang memang disukai, orang lain akan mulai mengenali pola dari kontennya. Dalam kasus ini, perjalanan, pendakian, alam, tempat wisata, dan berbagai pengalaman menjadi bagian yang terus muncul dalam kontennya.
Dengan demikian, media sosial menjadi sarana untuk mengabadikan pengalaman sekaligus mengekspresikan diri. Video perjalanan bukan hanya menunjukkan tempat yang dikunjungi, tetapi juga menunjukkan apa yang membuat seseorang merasa senang dan bahagia.
Di sinilah konsep self concept menjadi penting. Apa yang seseorang lakukan, sukai, dan anggap bermakna dapat menjadi bagian dari cara ia memahami dirinya. Ketika hal tersebut dibagikan melalui media sosial, orang lain juga mendapatkan gambaran mengenai dirinya.
Perspektif Estetika Humanisme
Jika dilihat dari perspektif Estetika Humanisme, fenomena ini tidak hanya membahas bagaimana seseorang mendapatkan citra di media sosial. Hal yang lebih penting adalah melihat manusia di balik konten tersebut.
Manusia memiliki kebebasan untuk memilih aktivitas yang disukai, mencari pengalaman yang memberikan kebahagiaan, serta mengekspresikan dirinya melalui berbagai bentuk kreativitas. Dalam contoh ini, perjalanan dan pendakian menjadi ruang bagi seseorang untuk menikmati kehidupan, menemukan pengalaman baru, dan mengabadikan momen yang dianggap bermakna.
Unsur estetikanya terlihat dari bagaimana pengalaman tersebut dikemas menjadi video. Pemandangan alam, gunung, pantai, air terjun, matahari terbenam, dan berbagai lokasi perjalanan tidak hanya menjadi objek visual, tetapi juga menjadi bagian dari cerita pengalaman manusia.
Dengan demikian, konten perjalanan memiliki dua sisi. Sisi pertama adalah pengalaman manusia, yaitu hobi, kesenangan, kebahagiaan, dan kebebasan mengeksplorasi. Sisi kedua adalah ekspresi estetik, yaitu bagaimana pengalaman tersebut diabadikan dan disampaikan kepada orang lain melalui video.
Kesimpulan
Fenomena personal branding melalui media sosial dapat dipahami sebagai bagian dari proses pembentukan dan ekspresi self concept. Pada contoh yang diamati, hobi traveling, mendaki, dan mengeksplorasi tempat baru menjadi aktivitas yang memberikan kesenangan dan kebahagiaan. Aktivitas tersebut kemudian diabadikan melalui video dan dibagikan di TikTok serta Instagram.
Konsistensi dalam membagikan pengalaman tersebut akhirnya membentuk kesan tertentu di mata orang lain. Ia dikenal sebagai seseorang yang suka traveling, mendaki, dan mengeksplorasi tempat baru. Dengan demikian, personal branding tidak selalu harus diciptakan secara sengaja, tetapi dapat tumbuh secara alami dari hobi, pengalaman, kebahagiaan, dan cara seseorang mengekspresikan dirinya.
Dari perspektif Estetika Humanisme, hal yang paling penting bukan hanya bagaimana seseorang terlihat di media sosial, tetapi bagaimana media sosial menjadi ruang bagi manusia untuk mengekspresikan diri, menikmati pengalaman, menemukan kebahagiaan, dan membangun pemahaman tentang dirinya sendiri.
Daftar Pustaka
Peters, T. (1997). The Brand Called You. Fast Company, Issue 10.
Surendra, G., Laily, H. I., & Eriend, D. (2025). Digital self-presentation: Personal branding strategies on social media among students in Indonesia and the Philippines. Proceeding of The 5th ASPIKOM International Communication Conference (AICCON 2025).
Tahir, N. A., & Nur, H. (2025). Representation of personal identity on social media. Pinisi Journal of Art, Humanity, and Social Studies, 5(3).
Putri, L. S., Sari, K. A., Tahira, N., & Fitriyani, D. (2026). Constructing sociological student identity through personal branding on TikTok: A study of sociology students at Sriwijaya University. Priviet Social Sciences Journal, 6(4), 271–283.