Penulis : Arif Nur Prapanca
JurnalPost.com – Perubahan iklim adalah perubahan jangka panjang pada pola cuaca yang mempengaruhi iklim lokal, regional, dan global, dengan dampak nyata. Perubahan iklim bukan hanya masalah ilmiah semata, ini adalah tantangan dunia yang berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari. Saya sendiri melihat pengaruhnya, seperti meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem dan perubahan pola musim yang mengganggu. Sejak pertengahan abad ke-20, perubahan ini didorong oleh aktivitas manusia, terutama pembakaran bahan bakar fosil yang meningkatkan gas rumah kaca dan suhu bumi. Faktor alami seperti pola siklus lautan dan aktivitas vulkanik juga berperan, meskipun dampaknya lebih kecil. Ilmuwan memantau perubahan ini melalui data dan model komputer, yang menunjukkan indikasi seperti kenaikan suhu, pencairan es, dan cuaca ekstrem. Istilah “perubahan iklim” dan “pemanasan global” sering disalahpahami, meskipun berbeda, begitu pula dengan “cuaca” dan “iklim” yang memiliki skala waktu dan ruang berbeda.
Kenaikan suhu global bumi yang tercatat 1,51 derajat Celsius pada Juni 2024 telah menyebabkan dampak ekstrim, seperti gelombang panas yang menewaskan 66 orang di Thailand dan 33 orang di India. Hal ini menunjukkan kegagalan kesepakatan Paris Agreement yang bertujuan menurunkan suhu global di bawah 1,5 derajat Celsius, serta kegagalan COP 29 yang dihadiri 154 negara untuk mengatasi laju emisi karbon. Perubahan iklim kini menjadi tantangan global utama, dengan laporan dari WMO, IPCC, dan UNFCCC menyatakan bahwa perubahan iklim akan terus berlanjut tanpa aksi mitigasi. Tahun 2023 tercatat sebagai tahun terpanas dalam sejarah, dengan suhu global 1,45 derajat Celsius lebih tinggi dibandingkan periode pra-industri, dan sembilan tahun terakhir (2015-2023) menjadi yang terpanas. Menanggapi hal ini, Kepala BMKG, Prof. Dwikorita Karnawati, M.Sc, Ph.D, menegaskan bahwa perubahan iklim adalah isu yang tak bisa diabaikan, dan jika tidak ada upaya mitigasi serius, dampaknya akan semakin parah dan merugikan masyarakat.
Ada beberapa upaya yang bisa dilakukan negara-negara di dunia untuk mengurangi dampak negatif perubahan iklim. Yang pertama Yakni, dunia harus segera beralih dari bahan bakar Padat karbon, bahan bakar fosil dari minyak dan batu bara harus diganti dengan gas alam, energi nuklir yang lebih bersih, dan energi panas bumi. Juga, harus ada perubahan besar-besaran menuju penggunaan energi terbarukan seperti energi surya, angin, gelombang laut, dan bahan bakar biomassa. Kemudian yang kedua adalah program Green Climate Fund (GCF). Yaitu, program inisiatif internasional yang didirikan oleh Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) pada tahun 2010 untuk mendukung negara-negara berkembang dalam menghadapi perubahan iklim. CGF berfokus pada pembiayaan proyek-proyek yang bertujuan untuk mitigasi (pengurangan emisi gas rumah kaca) dan adaptasi (penyesuaian terhadap dampak perubahan iklim).
Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17 ribu pulau, sebagian besarnya terdiri dari pulau-pulau kecil, menjadi salah satu negara yang paling rentan terhadap dampak krisis iklim. Produksi emisi karbon di Indonesia terus meningkat setiap tahun, sejalan dengan tren global, dan diperkirakan akan terus bertambah jika tidak ada upaya penanganan yang serius. Dengan kondisi Indonesia yang sudah sangat buruk saat ini, ada hal-hal yang memperparah hal ini, beberapa diantara adalah Deforestasi dan perubahan fungsi kawasan hutan di Kalimantan untuk pengembangan energi terbarukan serta pemenuhan kebutuhan pangan semakin merusak peran hutan sebagai area penyerapan karbon dan daerah tangkapan air.
Akibatnya, Kalimantan kehilangan statusnya sebagai Paru-Paru Dunia. Kemudian, ditambah banyaknya penggunaan transportasi pribadi. Sebagian besar transportasi, termasuk mobil, kapal, dan pesawat, masih bergantung pada bahan bakar fosil, menjadikannya penyumbang utama emisi karbon dioksida. Kendaraan darat mendominasi emisi melalui pembakaran bensin, sementara emisi dari kapal dan pesawat terus meningkat. Transportasi kini menyumbang hampir seperempat emisi karbon global terkait energi, dengan tren konsumsi energi yang diproyeksikan meningkat secara signifikan di masa depan.Tentu dengan berkurangnya luas hutan di Kalimantan akan membuat persentase terjadinya bencana alam semakin tinggi.
Kurangnya daerah resapan air dan terjadinya deforestasi memungkinkan terjadinya bencana alam seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor. Dalam usaha mengatasi permasalahan ini, Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup telah menetapkan kebijakan terkait topik ini. FOLU Net Sink 2030 adalah sebuah kondisi yang ingin dicapai melalui aksi mitigasi penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) dari sektor kehutanan dan lahan dengan kondisi dimana tingkat serapan sudah lebih tinggi dari tingkat emisi pada tahun 2030. Kebijakan tersebut meliputi serangkaian mitigasi sektor FoLU yang diantaranya adalah perlindungan hutan dari deforestasi dan degradasi serta perlindungan degradasi hutan area konsensi.
Dampak yang dirasakan tidak hanya di Kalimantan saja, namun pesisir utara Pulau Jawa merupakan salah satu area yang paling terdampak akibat perubahan iklim. Naiknya permukaan air laut menjadi dampak yang terasa di daerah Pantura. Salah satu bukti nyatanya datang dari Kelurahan yang berada paling utara di Kota Semarang. Kelurahan atau desa tersebut bernama TambakRejo yang berada di Kota Semarang, Jawa Tengah. Kelurahan ini menjadi saksi bisu ganasnya perubahan iklim di Pesisir Utara Jawa. Beberapa area di kelurahan ini sudah tidak dapat dihuni lagi oleh para penduduk dikarenakan sudah terendam air laut. Walaupun belum sepenuhnya tenggelam, tetapi dengan naiknya ketinggian air laut membuat berbagai aktivitas warga Tambak Rejo lumpuh. Hal ini menyebabkan tidak adanya pergerakan sosial ekonomi masyarakat di wilayah tersebut. Masyarakat yang sebelumnya saling berinteraksi di wilayah tersebut kini harus mengungsi ketempat yang layak dan juga kegiatan perekonomian yang ada juga ikut menghilang. Tentunya kejadian tersebut membuat roda perekonomian tidak lagi berputar sehingga pasti terdapat kerugian ekonomi didalamnya.
Pemerintah pusat dan daerah sudah memiliki berbagai solusi untuk permasalahan ini. Seperti digalakannya penggunaan energi terbarukan, reboisasi mangrove, edukasi terhadap masyarakat dan juga ditetapkan sejumlah peraturan. Pemerintah dalam beberapa tahun kebelakang mulai mengkampanyekan penggunaan energi terbarukan. Contohnya seperti promosi terhadap kendaraan bertenaga listrik yang mendapat ruang tersendiri di Indonesia ini. Pemerintah Indonesia pernah mengeluarkan wacana untuk memberikan subsidi bagi warganya yang ingin membeli kendaraan listrik. Fokus pemerintah tidak hanya terpaku pada energi terbarukan, isu lingkungan juga menjadi fokus pemerintah, tepatnya terkait konservasi hutan mangrove. Mangrove dapat dijadikan tameng pertama untuk menghadapi ganasnya air laut. Mangrove dapat mencegah terjadinya abrasi di sepanjang bibir pantai dan dapat dijadikan sebagai pemecah ombak. Tak lupa, edukasi terhadap masyarakat juga dijalankan oleh pemerintah. Setidaknya masyarakat sudah mengetahui tentang apa itu perubahan iklim serta dampak yang ditimbulkan. Diharapkan masyarakat dapat lebih aware dengan apa-apa saja yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak perubahan iklim. Pemerintah juga telah menetapkan sejumlah kebijakan untuk memastikan terciptanya FOLU NET SINK 2030.
Perubahan iklim merujuk pada perubahan pola cuaca dalam jangka panjang yang disebabkan oleh aktivitas manusia, seperti pembakaran bahan bakar fosil, alih fungsi lahan, dan penggunaan transportasi berbasis karbon. Dampaknya terlihat nyata, mulai dari cuaca ekstrem hingga naiknya permukaan laut yang mengganggu kehidupan masyarakat dan menimbulkan kerugian ekonomi. Contoh nyata termasuk gelombang panas yang mematikan di Asia serta banjir di kawasan pesisir utara Jawa yang memaksa warga kehilangan tempat tinggal.Meskipun sudah ada upaya global, seperti Paris Agreement dan COP 29, penerapan langkah-langkah konkret masih tertinggal. Solusi yang diusulkan meliputi peralihan ke energi terbarukan, pelaksanaan kebijakan FOLU Net Sink 2030, serta peningkatan kesadaran masyarakat. Di Indonesia, langkah-langkah seperti mendorong penggunaan kendaraan listrik, rehabilitasi mangrove untuk mengurangi abrasi, dan edukasi masyarakat telah mulai dilakukan.
Kini saatnya bertindak untuk menyelamatkan bumi kita dari ancaman perubahan iklim! Ini bukan lagi masalah masa depan, melainkan tantangan nyata yang memengaruhi kehidupan kita. Setiap langkah kecil, seperti mengurangi emisi karbon, mendukung energi ramah lingkungan, atau menjaga kelestarian hutan, dapat memberikan dampak besar.Mari bergandengan tangan, jadilah bagian dari solusi, bukan sumber masalah. Bersama-sama, kita bisa menciptakan dunia yang lebih aman dan berkelanjutan untuk generasi yang akan datang. Mulailah dari diri sendiri, karena perubahan besar dimulai dari langkah kecil
DAFTAR PUSTAKA
BBC Indonesia. (n.d.). Apa itu FOLU Net Sink?. Diakses dari https://www.bbc. com/indonesia/articles/cedqye0qng1o.
BMKG. (n.d.). Perubahan Iklim Mengancam Kehidupan Global. Diakses dari https://www.bmkg.go.id /berita/?p=perubahan-iklim-mengancam-kehidupan-global&lang=ID.
Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Kementerian Keuangan. (n.d.). Tentang Green Climate Fund (GCF). Diakses dari https://fiskal.kemenkeu.go.id/nda_gcf/tentang-gcf/.
National Geographic Indonesia. (n.d.). Mitigasi dan Adaptasi Iklim: Upaya Kunci Menghadapi Perubahan Iklim. Diakses dari https://nationalgeographic.grid.id /read/133458199/mitigasi-dan-adaptasi-iklim-upaya-kunci-menghadapi-perubahan-iklim.
World Meteorological Organization. (2024). Record Temperature Streak Continues in June. Diakses dari https://wmo-int.translate.goog/ media/news/record-temperature-streak-continues-june?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=tc.
United Nations Indonesia. (n.d.). Penyebab dan Dampak Perubahan Iklim. Diakses dari https://indonesia.un.org/id/175273-penyebab-dan-dampak-perubahan-iklim.