Oleh: Alika Kayla Wafda, Bambang Sugiharto, Desra Fernando Tarigan, Naharina Diandra Salsabila Suprapto, Alya Ratna Dwi Laraswati
Universitas Brawijaya
Fakultas Bio Industri Pertanian dan Kehutanan
Program Studi Agroekoteknologi
Malang
JurnalPost.com – Perubahan iklim menjadi salah satu tantangan utama yang dihadapi sektor pertanian, baik pada skala global maupun lokal. Ketidakpastian musim tanam, meningkatnya serangan hama, serta penurunan hasil panen telah memengaruhi cara petani dalam menentukan komoditas yang akan dibudidayakan. Kondisi ini menunjukkan bahwa dampak perubahan iklim tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga memengaruhi aspek sosial dan psikologis petani dalam proses pengambilan keputusan.
Di Desa Permanu, Kabupaten Malang, perubahan pola cuaca dirasakan semakin nyata oleh para petani. Musim hujan dan kemarau yang tidak menentu menyebabkan pola tanam sulit diprediksi dan mengurangi intensitas tanam yang sebelumnya dapat dilakukan hingga tiga kali setahun menjadi dua kali atau bahkan satu kali pada kondisi tertentu. Akibatnya, petani perlu menyesuaikan pilihan komoditas yang dianggap lebih mampu bertahan terhadap perubahan kondisi iklim.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa sebagian besar petani telah menyadari adanya perubahan iklim dan dampaknya terhadap produktivitas pertanian. Mereka mengamati perubahan pola musim, penurunan hasil panen, serta meningkatnya risiko gagal panen. Namun demikian, banyak petani masih mengalami kesulitan dalam menentukan komoditas yang paling sesuai dengan kondisi lahan dan iklim yang terus berubah.
Salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut adalah rendahnya efikasi diri petani, yaitu keyakinan terhadap kemampuan mereka dalam mengambil keputusan dan beradaptasi. Dalam situasi ketidakpastian iklim, petani cenderung bergantung pada penyuluh pertanian maupun kelompok tani untuk memperoleh arahan dalam menentukan pilihan komoditas dan strategi budidaya yang tepat.
Penyuluh pertanian berperan penting dalam memberikan informasi teknis sekaligus pendampingan kepada petani dalam menghadapi perubahan iklim. Selain itu, kelompok tani menjadi wadah pertukaran pengalaman dan informasi yang turut memengaruhi keputusan petani. Dalam banyak kasus, keputusan budidaya tidak hanya didasarkan pada pertimbangan teknis, tetapi juga dipengaruhi oleh norma sosial, persepsi risiko, dan praktik yang umum diterapkan oleh anggota kelompok lainnya.
Oleh karena itu, upaya adaptasi terhadap perubahan iklim perlu dilakukan tidak hanya melalui penerapan teknologi pertanian, tetapi juga melalui penguatan kapasitas sumber daya manusia. Peningkatan pendidikan iklim, akses informasi, serta penguatan kelembagaan kelompok tani menjadi langkah penting untuk meningkatkan kemampuan adaptasi petani. Dengan dukungan penyuluh, pemerintah, dan berbagai pihak terkait, petani diharapkan mampu mengambil keputusan secara lebih mandiri dan tepat dalam menghadapi perubahan lingkungan yang terus berlangsung.