
Penulis: Sabitha Asma Arnisa, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang
JurnalPost.com – Gresik selama ini identik sebagai kota industri dan kota santri. Dua identitas tersebut memang kuat, namun belum sepenuhnya merepresentasikan kekayaan potensi daerah. Di balik geliat industri dan religiusitas masyarakatnya, Gresik memiliki warisan budaya lokal yang berpeluang besar dikembangkan sebagai basis industri kreatif, salah satunya adalah Damar Kurung.
Damar Kurung merupakan lampion khas Gresik yang menampilkan gambar-gambar naratif tentang kehidupan masyarakat, mulai dari aktivitas sosial, keagamaan, hingga tradisi pesisir. Pada 2017, Damar Kurung ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pengakuan ini menegaskan bahwa Damar Kurung bukan sekadar simbol budaya, melainkan identitas daerah yang memiliki nilai historis, artistik, sekaligus ekonomis.
Dalam beberapa tahun terakhir, Damar Kurung mulai mendapatkan ruang di berbagai agenda kebudayaan daerah. Pemerintah Kabupaten Gresik menjadikannya ikon budaya yang hadir dalam pameran seni, festival, hingga ruang publik. Pameran Damar Kurung di Gedung DPRD Gresik, misalnya, menunjukkan bahwa seni tradisi masih memiliki daya tarik dan mampu membangun kebanggaan masyarakat terhadap budaya lokal.
Upaya pelestarian juga menyasar generasi muda. Keterlibatan pelajar dalam lomba menggambar Damar Kurung menjadi langkah penting dalam proses regenerasi budaya. Selain itu, visual Damar Kurung mulai dikembangkan dalam bentuk yang lebih modern, seperti desain grafis, produk souvenir, hingga media edukasi. Adaptasi ini menunjukkan bahwa budaya lokal dapat berdialog dengan zaman tanpa kehilangan identitas dasarnya.
Dari sisi ekonomi, Damar Kurung memiliki potensi besar sebagai penggerak industri kreatif berbasis budaya. Proses produksi hingga distribusinya melibatkan seniman, perajin, desainer, dan pelaku UMKM lokal. Jika dikelola secara sistematis, Damar Kurung dapat menciptakan ekosistem ekonomi kreatif yang membuka lapangan kerja dan meningkatkan nilai tambah ekonomi masyarakat Gresik.
Dalam konteks sesaat, pengembangan Damar Kurung memiliki hubungan yang kuat dengan dunia digital yang dekat dengan generasi muda. Media sosial, paltform konten visual, dan marketplace menciptakan kesempatan baru untuk mempromosikan serta mendistribusikan produk kretaif yang berlandasan budaya lokal. Estetika Damar Kurung yang berwarna-warni dan narasinya menyimpan potensi besar untuk diubah menjadi konten digital seperti ilutrasi, video animasi pendek atau kampanye branding daerah.
Apabila dimanfaatkan secara maksimal, ruang digital tidak hanya menjadi sarana promosi, tetapi juga media untuk edukasi budaya yang mampu menjangkau audiens yang lebih luas terutama generasi muda yang selama ini lebih akrab dengan budaya populer global.
Namun demikian, pengembangan Damar Kurung masih menghadapi tantangan. Program yang ada cenderung bersifat seremonial dan belum terintegrasi dalam strategi industri kreatif jangka panjang. Minimnya pemasaran digital, keterbatasan kolaborasi lintas sektor, serta belum adanya kebijakan yang berkelanjutan berpotensi membuat Damar Kurung berhenti sebagai simbol budaya semata, tanpa dampak ekonomi yang signifikan.
Padahal, di tengah arus globalisasi budaya, identitas lokal justru memiliki nilai diferensiasi yang kuat. Dengan pengelolaan yang serius, Damar Kurung dapat menjadi ikon kreatif Gresik yang tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Damar Kurung membuktikan bahwa industri kreatif dapat tumbuh dari akar budaya lokal. Dengan sinergi antara pemerintah, pelaku kreatif, dunia pendidikan, dan masyarakat, Gresik berpeluang dikenal tidak hanya sebagai kota industri, tetapi juga sebagai kota kreatif yang berangkat dari budayanya sendiri.