Kembali
Mode hapus aktif. Klik paragraf, foto, judul, tabel, atau bagian lain yang tidak ingin masuk PDF.
JurnalPost.com

Crisis Of Meaning: Momen Ketika Hidup Meminta Kita Berpikir Ulang

Tim Editor: Redaksi · Tanggal: 27 Desember 2025

Oleh: I Gede Pande Indra Yogiswara & Made Indira Diva Prameswari

JurnalPost.com – Ada masa dalam hidup ketika segala sesuatu tampak berjalan seperti biasa. Aktivitas harian tetap dilakukan, tuntutan akademik atau pekerjaan tetap diselesaikan, dan hubungan sosial tetap terjaga. Namun di balik semua itu, muncul perasaan kosong yang sulit dijelaskan. Bukan karena hidup sedang kacau, melainkan karena hidup terasa berjalan tanpa benar-benar dipahami maknanya.

Perasaan semacam ini sering terlihat di media sosial. Banyak orang membagikan isi hati mereka melalui unggahan singkat, reflektif, atau video yang berisi curahan perasaan. Kalimat seperti “aku capek, tapi tidak tahu capek karena apa” atau “aku tidak tahu lagi sebenarnya aku sedang mengejar apa” muncul berulang kali. Ungkapan-ungkapan tersebut menunjukkan bahwa yang sedang dialami bukan sekadar kelelahan fisik atau emosi, melainkan kebingungan yang lebih dalam tentang arah dan tujuan hidup.

Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai crisis of meaning, yaitu situasi ketika individu mulai mempertanyakan kembali makna hidupnya, nilai yang selama ini dipegang, serta alasan di balik pilihan-pilihan hidup yang telah dijalani. Krisis ini tidak selalu muncul karena kegagalan besar, tetapi justru sering hadir ketika hidup terlihat baik-baik saja dari luar. Makna hidup merupakan bagian penting dalam kehidupan psikologis manusia. Makna hidup merujuk pada sejauh mana seseorang merasa bahwa hidupnya memiliki tujuan, arah, dan nilai yang membuatnya layak untuk dijalani. Makna tidak selalu identik dengan kebahagiaan atau kesenangan, melainkan dengan rasa memahami mengapa seseorang memilih untuk bertahan dan melanjutkan hidupnya (Afidah & Khusumadewi, 2023).

Ketika individu memiliki makna hidup yang jelas, ia cenderung lebih mampu menghadapi tekanan, perubahan, dan ketidakpastian. Sebaliknya, ketika makna hidup mulai kabur, muncul perasaan hampa, kehilangan motivasi, dan kebingungan batin. Pada kondisi ini, yang terganggu bukan hanya suasana hati, tetapi cara individu memandang kehidupannya secara keseluruhan. Makna hidup juga bersifat dinamis. Ia dapat berubah seiring perubahan peran, nilai, dan pengalaman hidup. Ketika perubahan tersebut tidak diiringi dengan proses penyesuaian makna, individu dapat mengalami ketegangan batin yang kemudian berkembang menjadi crisis of meaning.

Viktor Frankl (2006) menjelaskan bahwa dorongan utama manusia adalah keinginan untuk menemukan makna dalam hidupnya. Dalam pendekatan logoterapi, kehampaan eksistensial dipahami sebagai kondisi ketika individu kehilangan rasa bermakna dalam kehidupannya. Kehampaan ini bukan dianggap sebagai gangguan semata, melainkan sebagai tanda bahwa individu sedang kehilangan hubungan dengan nilai hidup yang diyakininya. Frankl (2006) juga menekankan bahwa makna hidup tidak selalu ditemukan dalam kondisi yang nyaman. Justru dalam situasi sulit, penuh tekanan, atau ketidakpastian, individu sering kali terdorong untuk mencari makna yang lebih dalam. Oleh karena itu, crisis of meaning dapat dipahami sebagai bagian dari proses refleksi diri yang penting, meskipun sering kali terasa tidak menyenangkan.

Dari sudut pandang perkembangan psikososial, krisis makna berkaitan erat dengan proses pembentukan identitas. Erikson menjelaskan bahwa pada masa dewasa awal, individu dihadapkan pada tuntutan untuk membuat keputusan penting terkait karier, hubungan, dan arah hidup (Erikson, 1968). Ketika pilihan-pilihan tersebut tidak lagi terasa sesuai dengan diri, muncul kebingungan dan keraguan terhadap identitas yang sedang dibangun. Kondisi ini sering dikaitkan dengan quarter-life crisis, yaitu fase ketika individu merasa cemas terhadap masa depan, ragu terhadap pilihan hidup, dan mempertanyakan pencapaian diri (Rosyiddin & Afandi, 2023). Dalam konteks ini, crisis of meaning menjadi inti dari pergolakan tersebut, karena individu tidak hanya bertanya tentang apa yang harus dilakukan, tetapi juga mengapa ia harus melakukannya.

Makna hidup memiliki hubungan yang erat dengan cara individu memandang masa depannya. Ketika seseorang memiliki tujuan hidup dan perencanaan yang dirasa bermakna, ketidakpastian dapat dihadapi dengan lebih tenang. Sebaliknya, ketika masa depan terasa tidak jelas dan tidak selaras dengan nilai pribadi, individu lebih rentan mengalami krisis makna (Habibie et al., 2025). Dalam kondisi ini, individu sebenarnya tidak kekurangan pilihan, tetapi justru kebingungan memilih mana yang benar-benar bermakna. Banyak pilihan tersedia, namun tidak semuanya terasa sesuai dengan diri. Akibatnya, individu merasa berjalan, tetapi tidak tahu ke mana arah yang ingin dituju. Cara seseorang memaknai kebahagiaan turut memengaruhi kestabilan makna hidupnya. Ketika kebahagiaan dipahami hanya sebagai pencapaian materi, status sosial, atau pengakuan dari lingkungan, makna hidup menjadi mudah goyah. Sebaliknya, individu yang memaknai kebahagiaan sebagai keselarasan antara nilai, proses, dan pengalaman hidup cenderung memiliki makna hidup yang lebih stabil (Sulastri & Kusuma, 2022).

Mengalami crisis of meaning sering kali membuat seseorang merasa dirinya lemah atau tidak bersyukur. Ada anggapan bahwa selama hidup terlihat baik-baik saja, seseorang tidak seharusnya merasa hampa atau bingung. Padahal, kehilangan makna bukanlah tanda kegagalan menjalani hidup, melainkan tanda bahwa individu sedang berusaha memahami dirinya secara lebih jujur. Perasaan hampa sering muncul ketika cara lama memaknai hidup tidak lagi mampu menjelaskan pengalaman yang sedang dijalani. Pada titik ini, hidup seolah meminta kita untuk berhenti sejenak dan meninjau ulang arah yang selama ini diambil. Proses ini memang tidak nyaman, tetapi penting, karena memaksa individu untuk berdialog dengan dirinya sendiri.

Kehampaan dalam crisis of meaning bukanlah musuh yang harus segera dihindari. Ia dapat menjadi ruang refleksi, tempat seseorang belajar mengenali kembali nilai, harapan, dan tujuan yang benar-benar penting baginya. Tidak semua pertanyaan harus segera dijawab. Terkadang, keberanian untuk mengakui bahwa kita belum tahu justru menjadi langkah awal menuju pemahaman yang lebih utuh. Pada akhirnya, hidup tidak selalu menuntut kita untuk bergerak lebih cepat atau mencapai lebih banyak. Ada saat-saat ketika hidup justru meminta kita untuk berhenti, merenung, dan bertanya dengan jujur apakah arah yang kita tempuh masih terasa bermakna. Dari proses inilah, makna baru sering kali tumbuh secara perlahan, sederhana, dan lebih dekat dengan diri yang sebenarnya.

DAFTAR PUSTAKA
Erikson, E. H. (1968). Identity youth and crisis (No. 7). WW Norton & company.

Frankl, V. E. (1985). Man’s search for meaning. Simon and Schuster.

Habibie, A., Alvico, R. S., Takdir, A. M., Alfina, I., Saputra, E. J., & Ishak, M. (2025). The Effect Of Meaning In Life And Career Planning On Quarter-Life Crisis In College Students. MOTIVA: JURNAL PSIKOLOGI, 8(1), 32-39.

Khusumadewi, A. (2024). Peran makna hidup dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis santri smp pondok pesantren insan kamil sidoarjo. Jurnal BK UNESA, 14(4).

Rosyiddin, A. A. A., & Afandi, N. A. (2023, February). Quarter-life crisis in generation z adults. In Proceedings of International Conference on Psychology, Mental Health, Religion, and Sprirituality (Vol. 1, No. 1, pp. 34-40).

Sulastri, T., & Kusuma, P. (2022). Makna kebahagiaan pada Generasi Z. Indonesian Journal of Social and Educational Studies, 3(2), 183-190.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/read/crisis-of-meaning-momen-ketika-hidup-meminta-kita-berpikir-ulang/22345/
Dicetak dari JurnalPost.com pada 08 November 2026 09:47.