Kembali
Mode hapus aktif. Klik paragraf, foto, judul, tabel, atau bagian lain yang tidak ingin masuk PDF.
JurnalPost.com

<em>Commuting Stress</em></strong><strong> dan <em>Work-Life Balance</em> pada Pekerja Wanita

Tim Editor: Redaksi · Tanggal: 23 Desember 2025

Oleh : Adinda Saraswati dan Keisha Maharani Artaputri

JurnalPost.com Partisipasi perempuan dalam ranah kerja profesional semakin meningkat setiap tahunnya. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan Indonesia mencapai 56,42% pada tahun 2024. Pekerja wanita sering kali harus menghadapi tantangan besar yang terkait dengan perjalanan menuju tempat kerja, mulai dari perjalanan jauh, kemacetan lalu lintas, hingga kerumunan yang dapat menjadi sumber stress. Berdasarkan data hasil survey komuter pada Tahun 2023 oleh BPS, hasil Survei Komuter Jabodetabek 2023 menunjukkan bahwa terdapat sekitar 14,9 persen penduduk komuter dari 29,6 juta penduduk Jabodetabek berumur 5 tahun ke atas.  Persentase menunjukkan bahwa sebagian besar individu komuter memiliki kegiatan utama untuk bekerja sebesar 18,1% dengan perbandingan penumpang perempuannya senilai 32,7%

Perjalanan durasi panjang dapat menimbulkan dampak buruk bagi yang melakukannya, diantaranya berdampak pada aspek kesehatan fisik, mental, performa kerja, dan kehidupan sosial. Aktivitas perjalanan yang jauh dan dilakukan secara berulang memiliki efek merugikan yang penting pada kesehatan psikologis perempuan. Herdayati & Eryando (2017) dalam Irfan, dkk (2019) menemukan bahwa perempuan lebih berisiko mengalami masalah fisik daripada laki-laki. Setiap tantangan di perjalanan dapat menimbulkan tekanan yang tidak diinginkan, seperti perjalanan jauh, kemacetan lalu lintas, hingga kerumunan yang dapat menjadi sumber stres yang familiar disebut dengan commuting stress.

Commuting stress merupakan tekanan yang timbul saat seseorang melakukan perjalanan ke atau dari tempat kerja, yang dapat berdampak negatif pada kesejahteraan mereka. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas pekerja wanita di Jabodetabek memiliki tingkat commuting stress yang bervariasi: 42 orang (16,5%) mengalami tingkat rendah, 124 orang (48,8%) mengalami tingkat sedang, dan 88 orang (34,6%) mengalami tingkat tinggi. Tingginya tingkat commuting stress yang dialami oleh pekerja wanita tidak hanya berdampak pada aspek kesehatan, tetapi juga berpengaruh besar terhadap kemampuan individu dalam menjaga keseimbangan antara tuntutan pekerjaan dan kehidupan pribadi. Dalam konteks ini, work-life balance menjadi semakin sulit dicapai ketika waktu, energi, dan kondisi psikologis telah terkuras selama perjalanan, sehingga menyisakan sedikit kapasitas untuk menjalani peran di luar pekerjaan, seperti sebagai ibu, istri, atau individu sosial lainnya. Oleh karena itu, kajian terhadap dinamika work-life balance pada pekerja wanita dengan mobilitas tingkat tinggi di kota metropolitan menjadi penting untuk mendorong strategi coping yang mendukung kesejahteraan serta kesadaran pekerja wanita dalam menyeimbangkan dinamika serta tantangan dalam bekerja dengan kehidupan sehari – hari.

Meningkatnya partisipasi serta akses perempuan dalam dunia kerja profesional di Indonesia mencerminkan pergeseran sosial yang signifikan dalam hal kesempatan ekonomi dan kesetaraan gender. Perempuan tetap menghadapi hambatan-hambatan berdampak pada kesejahteraan psikologis dan keberlangsungan karir mereka. Salah satu aspek yang relevan dengan konteks urban dan perempuan pekerja metropolitan adalah commuting stress, yakni stres yang muncul akibat durasi dan intensitas perjalanan menuju tempat kerja dan kembali ke rumah. Seiring bertambahnya jarak, waktu yang dihabiskan dalam perjalanan juga bertambah, sehingga menyisakan lebih sedikit waktu untuk aktivitas pribadi, istirahat, atau pemulihan. Hilangnya waktu pribadi ini dapat berkontribusi pada perasaan frustasi, kelelahan, dan penurunan kesejahteraan, yang dapat memperburuk stres dan kecemasan. Paludi (2010) menyoroti bahwa tekanan tersebut berakar dari “the identity juggle” dimana terdapat  konflik internal yang muncul akibat tumpang tindihnya peran sebagai pekerja, ibu, istri, dan individu pribadi. Perempuan mengalami konsekuensi fisik dan psikologis yang lebih besar dibandingkan laki-laki dalam menavigasi beban kerja harian, khususnya ketika mereka harus menjalani berbagai peran sosial dan profesional

Commuting stress bukan hanya soal kelelahan fisik akibat kemacetan atau lamanya waktu perjalanan, tetapi juga mewakili beban psikologis yang lebih dalam. Tekanan yang berkepanjangan akibat perjalanan kerja berdampak negatif terhadap self-efficacy, kepercayaan diri, serta motivasi perempuan untuk mempertahankan atau meningkatkan kualitas hidup mereka secara menyeluruh. Perempuan yang mengalami kelelahan karena commuting seringkali menunjukkan gejala-gejala emotional burnout, termasuk iritabilitas, kecemasan, dan gangguan tidur. Work-life balance pada perempuan pekerja tidak dapat dipisahkan dari dimensi yang membentuk relasi kerja mereka. Perempuan yang menghadapi tekanan sosial untuk tetap berperan dominan dalam kehidupan domestik sering kali merasa bersalah ketika waktu dan energi habis untuk pekerjaan dan aktivitas lainnya. Dalam hal ini, commuting menjadi invisible labor dimana mobilisasi sehari – hari seolah – olah seperti suatu pekerjaan yang tidak dihitung dalam jam kerja formal tetapi menguras kapasitas emosional dan waktu produktif mereka. Paludi (2010) menyebutnya sebagai “role overload”, yakni kondisi ketika seseorang dihadapkan pada tuntutan yang melebihi kapasitas adaptif mereka dalam berbagai peran. Dampak dari role overload akibat commuting juga bersinggungan dengan isu kesehatan mental. Individu yang bekerja dalam lingkungan kerja yang tidak fleksibel, dan harus menempuh perjalanan panjang, memiliki risiko lebih tinggi terhadap depresi ringan hingga sedang, serta mengalami keterputusan dengan jejaring sosial dan keluarga. Hasil survey pun menunjukkan prevalensi tingkat stress pekerja yang dalam kesehariannya bermobilisasi, dalam survei tersebut diketahui bahwa 42 orang (16,5%) mengalami tingkat rendah, 124 orang (48,8%) mengalami tingkat sedang, dan 88 orang (34,6%) mengalami tingkat tinggi.

Berdasarkan situasi tersebut pentingnya pendekatan individu, organisasi, maupun negara dalam menanggapi kondisi ini. Burke (2003) mengklasifikasikan 3 level pencegahan, diantaranya adalah pencegahan primer melibatkan upaya yang diarahkan untuk mengurangi atau menghilangkan faktor risiko stres di tempat kerja dan/atau sumber stres. Pencegahan sekunder melibatkan membantu perempuan mengelola respons mereka terhadap tuntutan pekerjaan dan rumah yang tak terhindarkan, sementara pencegahan tersier mengarahkan upaya untuk menyembuhkan perempuan dan organisasi melalui perawatan profesional yang Sehubungan dengan pencegahan primer, organisasi dapat memberlakukan kebijakan dan prosedur untuk mencapai tujuan berikut: menyediakan jadwal kerja yang fleksibel, dukungan psikososial seperti akses terhadap konseling kerja, budaya organisasi yang responsif terhadap gender dan keragaman peran, serta kebijakan institusional yang mengakomodasi realitas perjalanan kerja panjang, khususnya bagi perempuan yang tinggal di wilayah suburban atau pinggiran kota besar.

Partisipasi perempuan dalam dunia kerja profesional, khususnya di kota-kota metropolitan, telah menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. Namun, di balik kemajuan ini, perempuan masih menghadapi tantangan besar terkait keseimbangan antara peran kerja dan kehidupan pribadi (work-life balance), terutama akibat beban perjalanan kerja yang panjang dan melelahkan (commuting stress). Tekanan yang dialami perempuan tidak hanya berdampak pada aspek fisik dan mental, tetapi juga memperlemah keterlibatan sosial dan kualitas relasi dalam kehidupan domestik. Mencapai work-life balance yang sehat bagi perempuan pekerja bukanlah tugas individual semata, melainkan membutuhkan dukungan dari komunitas, organisasi, dan pemerintah untuk menciptakan kebijakan inklusif, dan membangun budaya kerja yang memanusiakan semua peran sosial perempuan

REFERENSI
A growing concern: long commutes and mental fatigue among workers. (2024). Makara Journal of Health Research, 28(3). https://doi.org/10.7454/msk.v28i3.1725

Badan Pusat Statistik Indonesia. (5 Mei 2025). Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut Jenis Kelamin, 2024. Diakses pada 11 Juli 2025, dari https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/MjIwMCMy/tingkat-partisipasi-angkatan-kerja-menurut-jenis-kelamin.html

Badan Pusat Statistik Indonesia. (28 Maret 2024). Statistik Komuter Jabodetabek Hasil Survei Komuter Jabodetabek 2023. Diakses pada 11 Juli 2025, dari https://www.bps.go.id/id/publication/2024/03/28/33b6bef825944e576e7ea3ba/statistik-komuter-jabodetabek-hasil-survei-komuter-jabodetabek-2023.html

Irfan, M., & Nooraeni, R. (2021). KARAKTERISTIK PEKERJA KOMUTER PEREMPUAN YANG MENGALAMI PERJALANAN DURASI PANJANG JABODETABEK 2019. Seminar Nasional Official Statistics, 2020(1), 682-694. https://doi.org/10.34123/semnasoffstat.v2020i1.472

Paludi, M. A. (Ed.). (2010). The psychology of women at work: Challenges and solutions for our female workforce (Vols. 1–3). Praeger

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/read/commuting-stress-dan-work-life-balance-pada-pekerja-wanita/22202/
Dicetak dari JurnalPost.com pada 08 November 2026 10:09.