
Aceh Tamiang, JurnalPost.com – Di tengah luka yang belum sepenuhnya pulih akibat bencana hidrologi, secercah harapan kini mulai menerangi Desa Kasih Sayang. Sejak dilaksanakannya program pada 24 Februari 2026, wilayah terdampak bencana hidrologi dahsyat mengakibatkan krisis listrik dan tanpa penerangan itu perlahan bangkit melalui inovasi energi terbarukan berupa Mini Solar Power Plant, yang diwujudkan melalui penerangan tenaga surya skala kecil.
Bagi warga Desa Kasih Sayang, listrik bukan sekadar kebutuhan, melainkan simbol kehidupan yang kembali berjalan. Bencana hidrologi seperti banjir bandang telah merusak infrastruktur penerangan, membuat masyarakat sulit memperoleh penerangan di jalan umum. Terlebih saat pemadaman listrik berkala, penerangan desa lumpuh total. Namun kini, kehadiran penerangan dengan Mini Solar Power Plant membawa perubahan nyata. Panel surya yang dipasang pada lampu jalan mampu menangkap sinar matahari yang melimpah di wilayah tersebut, kemudian mengubahnya menjadi energi listrik dan tenaga penerangan sepanjang malam.
“Ketika banjir datang, banyak tiang listrik di sepanjang jalan desa tumbang sehingga menyebabkan aliran listrik padam. Kondisi ini membuat masyarakat kesulitan melintasi jalan, terlebih karena sisi jalan berbatasan langsung dengan area persawahan yang rawan kecelakaan. Selain itu, anak-anak yang pulang pada malam hari setelah mengaji merasa takut untuk berjalan kembali ke rumah masing-masing,” ujar Datok Desa Kasih Sayang.
“Sekarang, walaupun bencana datang, kami masih punya sumber penerangan, untuk berkumpul” ujar salah satu warga.
Teknologi ini tidak hanya menghadirkan penerangan, tetapi juga memberikan rasa aman bagi masyarakat melalui pemasangan lampu jalan berbasis tenaga surya. Fasilitas yang diberikan berupa tiang lampu setinggi 6 meter dengan penyangga kokoh, dilengkapi lampu sorot dan panel surya sebagai sumber energi mandiri. Program ini merupakan bagian dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat tanggap bencana yang diinisiasi oleh Universitas Samudra. Kehadiran penerangan ini membuat aktivitas warga di malam hari menjadi lebih lancar, mulai dari mobilitas harian hingga kegiatan belajar mengajar yang kini dapat berlangsung dengan lebih nyaman.
Lebih dari sekadar solusi teknis, Mini Solar Power Plant menjadi simbol ketahanan dan kemandirian energi bagi desa yang selama ini rentan terhadap bencana hidrologi. Melalui program pengabdian kepada masyarakat tanggap bencana, Universitas Samudra mendorong pemanfaatan energi terbarukan sebagai solusi jangka panjang di wilayah terdampak. Dengan sistem yang memanfaatkan energi matahari serta perawatan yang relatif sederhana, teknologi ini dinilai sangat tepat diterapkan di daerah yang sering mengalami gangguan listrik akibat bencana.

Dr. Ginda Maruli Andi S., S.Pd., M.Si selaku pelaksana kegiatan dari Universitas Samudra menyampaikan bahwa program ini dirancang tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan penerangan, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh. “Kami ingin menghadirkan solusi yang berkelanjutan. Penerangan jalan berbasis tenaga surya ini diharapkan dapat membantu masyarakat tetap beraktivitas dengan aman, sekaligus menjadi langkah awal menuju kemandirian energi di daerah rawan bencana,” ujarnya.
Para penggagas program ini berharap, keberhasilan di Desa Kasih Sayang dapat menjadi contoh bagi wilayah lain yang menghadapi permasalahan serupa. Di tengah ancaman perubahan iklim yang semakin nyata, pendekatan berbasis energi terbarukan menjadi langkah penting menuju masa depan yang lebih tangguh.
Kini, ketika malam tiba, Desa Kasih Sayang tak lagi sepenuhnya gelap. Lampu-lampu jalan yang berdiri kokoh tidak hanya menerangi lingkungan sekitar, tetapi juga menyalakan harapan—bahwa bahkan di tengah bencana, selalu ada jalan untuk bangkit dan bersinar kembali.