
Oleh: Zahra Agustiani / Mahasiswa Prodi Bimbingan dan Konseling di Universitas Mercu Buana Yogyakarta
JurnalPost.com – Masalah perundungan atau bullying di sekolah kini bukan lagi sekadar kenakalan remaja biasa, melainkan ancaman serius yang menghantui dunia pendidikan kita. Jika dulu perundungan sering dianggap remeh, saat ini bentuknya telah berkembang menjadi kekerasan verbal, fisik, sosial, hingga cyberbullying yang merusak kesehatan mental siswa. Namun, di tengah situasi yang mengkhawatirkan ini, Kota Balikpapan justru menghadapi krisis tenaga Guru Bimbingan dan Konseling (BK). Kondisi ini menjadi alarm bahaya karena sekolah kehilangan sosok penting yang seharusnya mendampingi perkembangan emosional dan psikologis peserta didik.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Balikpapan, Irfan Taufik, mengakui bahwa kebutuhan guru BK masih sangat tinggi dan tidak sebanding dengan jumlah sekolah yang terus bertambah. Sebagai gambaran, pada sebuah workshop di bulan Mei 2026, hanya ada sekitar 100 guru BK yang hadir, padahal jumlah sekolah di Balikpapan mencapai ratusan dari jenjang PAUD hingga SMA. Ketimpangan ini membuat layanan pendampingan siswa tidak berjalan maksimal, padahal persoalan remaja saat ini semakin kompleks dan memerlukan penanganan khusus.
Padahal, peran guru BK sangatlah krusial dan jauh melampaui sekadar mengurus murid yang melanggar aturan. Mereka berfungsi sebagai pendamping psikologis, mediator konflik, konselor, serta penyedia ruang aman bagi siswa untuk bercerita. Merujuk pada penelitian dalam Jurnal Pendidikan Tambusai, layanan BK sangat penting dalam mencegah masalah emosional berkembang menjadi gangguan psikologis yang lebih berat. Selain itu, guru BK juga bertanggung jawab dalam membangun karakter dan kemampuan sosial siswa di lingkungan sekolah.
Kekurangan tenaga BK ini berdampak nyata pada meningkatnya kasus kekerasan yang menghebohkan publik. Pada tahun 2023, Balikpapan digemparkan oleh kasus siswa SMP yang mengalami kekerasan fisik brutal di area masjid hingga harus menjalani visum. Insiden yang menyerupai aksi kekerasan ekstrem tersebut dipicu oleh masalah di media sosial dan menunjukkan betapa bahayanya emosi remaja yang tidak terkendali tanpa pendampingan yang tepat. Secara nasional pun, data Federasi Serikat Guru Indonesia mencatat adanya 22 kasus kekerasan sepanjang awal tahun 2026, di mana Kalimantan Timur turut menjadi salah satu wilayah yang dilaporkan.
Dampak dari bullying ini tidak bisa dipandang sebelah mata bagi masa depan siswa. Berdasarkan penelitian Zhao dkk., korban perundungan memiliki risiko tinggi mengalami depresi, kecemasan (PTSD), hingga gangguan tidur. Korban juga cenderung kehilangan rasa percaya diri, kesulitan bersosialisasi, bahkan merasa takut untuk datang ke sekolah. Di era digital, tekanan ini semakin berat karena adanya cyberbullying yang membuat perundungan terjadi kapan saja dan tersebar luas melalui internet, memberikan beban mental yang lebih berat dibandingkan cara konvensional.
Sebagai mahasiswa Bimbingan dan Konseling, saya melihat krisis guru BK di Balikpapan adalah persoalan serius yang tidak boleh disepelekan. Sekolah seharusnya tidak hanya menjadi tempat mengejar nilai akademik, tetapi juga menjadi ruang aman bagi pertumbuhan emosional siswa. Pemerintah daerah perlu memprioritaskan penambahan dan pemerataan guru BK agar setiap siswa mendapatkan akses layanan konseling yang layak. Selain itu, stigma bahwa guru BK adalah sosok yang menakutkan harus segera diubah; mereka adalah pendamping siswa dalam menghadapi rumitnya kehidupan remaja. Jika kondisi ini terus diabaikan, kita sedang mempertaruhkan masa depan generasi muda dan kualitas pendidikan bangsa kita.