Kembali
Mode hapus aktif. Klik paragraf, foto, judul, tabel, atau bagian lain yang tidak ingin masuk PDF.
JurnalPost.com

Bukan Malas, Hanya Butuh Cara Belajar yang Berbeda: Memahami Anak dengan Kesulitan Belajar

Tim Editor: Redaksi · Tanggal: 3 Desember 2025
Oleh : Asrianti Clara Agnestiara (Mahasiswa S2 Psikologi Universitas Tarumanagara)
Pamela Hendra Heng, S.Pd., M.P.H., M.., Ph.D, & Dr. Riana Sahrani, Psikolog (Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara)JurnalPost.com – Bayangkan seorang anak bernama Rafi. Ia cerdas, aktif, dan selalu antusias saat pelajaran berlangsung. Namun, ketika diminta membaca di depan kelas, suaranya mendadak pelan. Ia tertukar antara huruf “b” dan “d”, sering mengulang kata, dan tampak gelisah setiap kali teman-temannya menatap. Gurunya sempat berpikir Rafi malas berlatih membaca, tapi setelah diperiksa lebih lanjut, ternyata Rafi mengalami disleksia ringan — salah satu bentuk kesulitan belajar yang cukup umum terjadi pada anak-anak usia sekolah dasar.

Kisah seperti Rafi sebenarnya tidak jarang terjadi. Banyak anak di Indonesia yang menghadapi kesulitan belajar, tetapi tidak semuanya terdeteksi sejak dini. Akibatnya, mereka sering disalahpahami, bahkan mendapat label negatif dari lingkungan sekolah maupun rumah. Padahal, kesulitan belajar bukan tanda anak tidak cerdas, melainkan cara otaknya memproses informasi yang berbeda dari kebanyakan orang.

Apa Itu Kesulitan Belajar?

Istilah learning disability pertama kali diperkenalkan oleh Samuel A. Kirk (1963) yang mendefinisikannya sebagai:

“Gangguan dalam satu atau lebih proses psikologis dasar yang terlibat dalam memahami atau menggunakan bahasa, baik lisan maupun tulisan.”

Dengan kata lain, anak dengan kesulitan belajar memiliki kognisi normal, namun mengalami hambatan pada proses tertentu seperti membaca, menulis, atau berhitung.

Beberapa jenis kesulitan belajar yang sering ditemukan antara lain:

  • Disleksia – kesulitan membaca atau mengeja kata.
    •Disgrafia – kesulitan menulis dengan rapi dan menyusun kata dengan benar.
    •Diskalkulia – kesulitan memahami angka, pola, atau konsep matematika.
    •Lamban belajar (slow learner) – kemampuan belajar sedikit di bawah rata-rata, tetapi bukan gangguan intelektual.

Masing-masing anak memiliki tantangannya sendiri. Mereka bukan tidak mampu, hanya membutuhkan waktu lebih lama dan pendekatan belajar yang berbeda.

Tanda-Tanda Anak Mengalami Kesulitan Belajar

Banyak orang tua baru menyadari masalah ini setelah anaknya menunjukkan penurunan nilai di sekolah. Beberapa indicator awal yang umum menurut Snowling & Hulme (2020) :

  • Anak tampak cerdas saat berbicara, tetapi kesulitan membaca atau menulis.
  • Nilai akademik terus menurun meski sudah belajar keras.
  • Sering salah mengeja, menulis huruf terbalik, atau bingung membaca angka.
  • Lambat memahami instruksi atau konsep baru.
  • Cepat lelah, frustrasi, atau kehilangan fokus saat belajar.
  • Menghindari pelajaran tertentu, terutama matematika atau bahasa.

Jika tanda-tanda ini muncul, jangan buru-buru menilai anak “malas” atau “tidak niat belajar”. Bisa jadi, ia sedang menghadapi tantangan yang tidak terlihat oleh mata.

Dampak Emosional : Luka yang Tidak Terlihat

Menurut Shaywitz, anak dengan kesulitan belajar kerap mengalami secondary emotional problems seperti rasa malu, cemas, menarik diri, menolak sekolah, hingga depresi ringan. Meski sudah berusaha keras, mereka tetap merasa gagal karena hasil belajar tidak sesuai harapan. Luka emosional ini sering tidak terlihat: ada yang menjadi pendiam dan menarik diri, ada pula yang meluapkannya lewat kemarahan atau penolakan pergi ke sekolah. Dalam situasi seperti ini, peran orang tua dan guru sangat krusial—bukan sekadar memperbaiki nilai, tetapi menjaga kesehatan mental anak agar tetap merasa diterima dan didukung.

Peran Guru: Lebih dari Sekadar Mengajar

Guru adalah sosok pertama yang bisa melihat tanda-tanda awal kesulitan belajar di sekolah. Dengan kepekaan dan empati, guru bisa menjadi kunci perubahan besar dalam kehidupan seorang anak. Beberapa hal yang dapat dilakukan guru antara lain:

  • Menyesuaikan metode belajar dengan gaya anak (visual, auditori, atau kinestetik).
    •Menggunakan pendekatan multisensori — belajar dengan melihat, mendengar, dan bergerak.
    •Memberikan waktu tambahan untuk tugas atau ujian.
    •Menghindari tekanan berlebihan agar anak tidak merasa takut belajar.
    •Menyampaikan temuan kepada orang tua dengan empati, bukan menyalahkan.
    •Melakukan bentuk evaluasi yang berbeda, disesuaikan dengan kemampuan anak—misalnya, ujian lisan bagi anak yang mengalami kesulitan membaca, atau menggunakan evaluasi berbasis teknologi seperti kuis audio, video, atau aplikasi interaktif.

Guru juga bisa bekerja sama dengan psikolog sekolah untuk membantu mengidentifikasi kondisi anak secara objektif dan memberikan rencana belajar yang sesuai.

Orang Tua Sebagai Sumber Rasa Aman

Di rumah, orang tua memegang peran penting dalam membantu anak yang mengalami kesulitan belajar. Bukan dengan menambah jam belajar, melainkan memberikan dukungan emosional dan rasa aman. Ketika anak berkata, “Aku kok nggak bisa-bisa ya, Bu?”, orang tua sebaiknya menghindari komentar seperti “Kamu malas” atau “Anak lain saja bisa.” Respons sederhana seperti, “Ibu tahu kamu sudah berusaha. Ayo kita cari cara belajar yang cocok buat kamu,” justru jauh lebih berarti bagi anak yang sedang berjuang.

Dukungan itu bisa diwujudkan melalui rutinitas belajar yang tenang, apresiasi terhadap setiap usaha kecil, serta kerja sama dengan guru atau psikolog untuk memahami kebutuhan anak. Orang tua juga dapat mendorong anak tetap bersosialisasi agar ia merasa diterima dan tidak terisolasi. Pada akhirnya, yang paling dibutuhkan anak adalah keyakinan bahwa ia tidak sendirian dan selalu memiliki tempat aman untuk pulang.

Mengapa Deteksi Dini Itu Penting?

Semakin cepat kesulitan belajar dikenali, semakin mudah ditangani. Anak yang dibantu sejak dini akan lebih cepat beradaptasi dengan cara belajar yang sesuai.

Deteksi dini membantu:

  • Mencegah anak tertinggal jauh dari teman-temannya.
  • Mengurangi stres dan frustrasi pada anak.
  • Membantu guru dan orang tua menyesuaikan pendekatan belajar.
  • Menumbuhkan rasa percaya diri anak sejak awal.

Sayangnya, masih banyak sekolah atau orang tua yang belum memahami pentingnya deteksi dini. Kadang anak baru diperiksa ketika sudah menunjukkan perilaku ekstrem seperti menolak sekolah atau terus-menerus merasa gagal.

Membangun Sekolah yang Lebih Inklusif

Anak dengan kesulitan belajar bukan anak “bermasalah”. Mereka hanya memproses informasi dengan cara yang berbeda. Karena itu, sekolah seharusnya menjadi ruang yang ramah dan inklusif, tempat setiap anak dihargai terlepas dari perbedaan kemampuan yang dimilikinya.

Pendidikan bukan sekadar angka di rapor, tetapi bagaimana membantu anak tumbuh sesuai potensinya. Anak dengan disleksia bisa berkembang menjadi penulis hebat. Anak dengan diskalkulia mungkin menemukan jalannya sebagai desainer kreatif. Anak yang belajar lebih lambat pun dapat menunjukkan kemajuan besar ketika mendapat kesempatan dan bimbingan yang tepat.

Yang dibutuhkan anak bukan label atau penilaian negatif, melainkan pemahaman. Bukan tekanan untuk selalu sempurna, tetapi dukungan yang membuat mereka berani mencoba. Dan bukan perbandingan dengan anak lain, tetapi keyakinan bahwa setiap anak memiliki kelebihan sendiri dan berkembang dengan ritmenya masing-masing.

Kesulitan belajar bukan kegagalan—itu hanya cara otak memahami dunia dengan pola yang berbeda. Tugas pendidikan adalah memberi ruang bagi perbedaan itu untuk tumbuh menjadi kekuatan, bukan mengubahnya menjadi hambatan.

Pada akhirnya, setiap anak berhak tumbuh tanpa takut salah atau merasa tertinggal. Mereka tidak membutuhkan label yang membatasi, melainkan lingkungan yang melihat potensi, bukan kekurangan. Kesulitan belajar bukan akhir dari perjalanan, tetapi titik awal untuk menemukan cara belajar yang lebih sesuai bagi anak.

Ketika sekolah, guru, dan orang tua bergerak bersama, anak akan memiliki ruang yang aman untuk mencoba, gagal, bangkit, dan berkembang. Sebab pendidikan sejatinya bukan tentang siapa yang paling cepat memahami pelajaran, tetapi siapa yang diberi kesempatan untuk menemukan caranya sendiri memahami dunia.

Referensi :
Shaywitz, S. E. (2021). Overcoming Dyslexia. Vintage Books.
Snowling, M. & Hulme, C. (2020). The Science of Reading. Wiley-Blackwell.
Kirk, S. A. (1963). Learning Disabilities Concept Introduction

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/read/bukan-malas-hanya-butuh-cara-belajar-yang-berbeda-memahami-anak-dengan-kesulitan-belajar/21278/
Dicetak dari JurnalPost.com pada 08 November 2026 12:25.