
MOJOKERTO, JurnalPost.com – Program budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) dengan sistem self harvesting yang dijabarkan oleh Kelompok KKN R4 Sub Kelompok 5 UNTAG Surabaya di Desa Candiwatu patut diapresiasi sebagai bentuk inovasi dan kepedulian mahasiswa terhadap persoalan lingkungan dan ekonomi desa. Namun demikian, di balik berbagai manfaat yang ditawarkan, program ini juga perlu dilihat secara lebih kritis dan realistis agar tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial semata.
Salah satu hal yang perlu menjadi perhatian adalah keberlanjutan program pasca-KKN. Budidaya maggot BSF memerlukan konsistensi dalam pengelolaan, ketersediaan pakan organik, serta pemahaman teknis yang berkelanjutan. Tanpa pendampingan lanjutan atau komitmen kuat dari warga, terdapat risiko bahwa instalasi budidaya hanya akan aktif selama mahasiswa KKN berada di lokasi.
Selain itu, tidak semua warga desa secara langsung siap menerima dan menjalankan budidaya maggot. Faktor budaya, persepsi terhadap serangga, serta kekhawatiran terkait bau dan kebersihan masih menjadi tantangan di beberapa wilayah pedesaan. Oleh karena itu, pendekatan edukatif jangka panjang dan sosialisasi yang lebih intensif menjadi kebutuhan penting, bukan sekadar pelatihan singkat.
Dari sisi ekonomi, maggot BSF memang memiliki potensi pasar, namun akses pemasaran dan stabilitas harga masih perlu dipertimbangkan. Tanpa adanya kepastian pasar atau jaringan distribusi yang jelas, warga berpotensi mengalami kesulitan dalam menjual hasil panen secara optimal. Hal ini menunjukkan bahwa budidaya maggot seharusnya diintegrasikan dengan perencanaan usaha yang matang, bukan hanya sebagai solusi instan.

Peran pemerintah desa juga menjadi krusial. Apresiasi dari Kepala Desa Candiwatu merupakan langkah awal yang positif, tetapi dukungan kebijakan, penganggaran desa, dan regulasi lokal akan menentukan apakah program ini benar-benar mampu berkembang menjadi usaha kolektif warga atau hanya menjadi proyek percontohan terbatas.
Dengan demikian, budidaya maggot BSF dengan sistem self harvesting di Desa Candiwatu sebaiknya dipandang sebagai langkah awal, bukan tujuan akhir. Keberhasilannya sangat bergantung pada kesinambungan pendampingan, kesiapan sosial masyarakat, serta dukungan kelembagaan desa. Jika aspek-aspek tersebut dapat dipenuhi, maka inovasi ini berpotensi menjadi solusi lingkungan dan ekonomi yang benar-benar berkelanjutan bagi warga Desa Candiwatu.
Oleh : Mochammad Fiqi Alfarizi