
JurnalPost.com – Di Indonesia, bias gender yang menjadi perbincangan kini sudah menjelma sebagai sebuah budaya yang diturunkan dari generasi ke generasi salah satunya yaitu patriarki. Ini dikarenakan adanya keberlanjutan tradisi budaya lokal atau adat yang mengandung nilai nilai dominasi laki laki turut menjadi salah satu faktor mengapa patriarki sulit dihilangkan dari kehidupan masyarakat. Patriarki dan segala stigma yang menyertai di belakangnya menyebabkan adanya ketidak setaraan gender dan banyak permasalahan terkait gender di Indonesia, seperti kekerasan terhadap perempuan di sosial media, rendahnya partisipasi perempuan di beberapa industri pekerjaan, pelecehan seksual, serta lainnya. Oleh karena itu, penting bagi seluruh masyarakat untuk menyadari bagaimana patriarki mengambil banyak peran di kehidupan sehari-hari, khususnya dalam lingkup masyarakat Indonesia.
Patriarki kini terus berkembang menjadi sebuah sistem dan ideologi. Mendominasi kan laki-laki di kalangan masyarakat kini bukan lagi dipandang sebagai sebuah fenomena, tetapi sebagai normalitas yang memberikan pemikiran bahwa memang sudah seharusnya laki-laki memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada perempuan.
Contoh salah satu kasus yang terjadi pada tahun 2019, terkait sejumlah jurnalis yang menyatakan perlu untuk aksi afirmatif agar dapat memerangi bias gender dalam peliputan dan pemberitaan media indonesia. Faktor munculnya pemberitaan tersebut karena kurangnya database narasumber perempuan di redaksi media Indonesia. Penulis menyarankan para jurnalis dan redaksi media untuk keluar dari zona nyaman mereka guna mendorong kesetaraan gender di Indonesia. Awalnya jurnalis tersebut lebih merekomendasikan mengganti narasumber perempuan dengan laki-laki dengan alasan kompetensi narasumber. Tetapi saat ini jurnalis tersebut telah memprioritaskan narasumber perempuan ketimbang laki-laki dalam beberapa tahun terakhir.
Media tersebut juga mengapresiasi ketika ada lembaga yang menyediakan narasumber perempuan di berbagai bidang bagi jurnalis untuk mengatasi bias gender dalam pemberitaan. Menurutnya, Kita sebagai media punya peran mendorong agar suara-suara dari perempuan bisa masuk juga dalam pemberitaan. Namun database narasumber perempuan tersebut juga perlu di jaga kerahasiaannya sehingga tidak disalahgunakan pihak selain jurnalis.
Oleh: Bima Pramayuda Ardiansyah – 1152000242 – Ilmu Komunikasi – Universitas 17 Agustus Surabaya