Oleh: Wisnu Yogi Firdaus
”Peluk dan bercintalah denganku malam ini“- kutip Cantik Itu Luka.
Kalimat yang menggambarkan betapa nikmatnya hubungan seksual. Hal itulah yang menjadi gambaran untuk aktivitas haram -prostitusi. Prostitusi dianggap hadir atas kebutuhan biologis manusia.
Dalam perjalanannya, prostitusi kerap dijumpai di dekat sarana transportasi publik, seperti pelabuhan ataupun stasiun. Letak yang tidak terlalu di jauh dinilai menjadi pasar bagi para konsumen -lelaki hidung belang pada umumnya. Mereka berasal dari para pekerja yang jarang pulang akibat tuntutan pekerjaan. Alhasil ketika dorongan biologis itu muncul perlu adanya objek dalam melampiaskannya.
Menilik dari hal itu, maka sebagian kelompok masyarakat mendirikan bedeng-bedeng kecil. Dengan tujuan menarik konsumen agar mau bercinta, meski hanya menjual hasrat seksualitas yang bersifat semu.
Fantasi Patriarkis dalam Menjerat Perempuan
Melalui posisi maskulinitas yang masih terbilang tinggi. Sebagian laki-laki kerap memposisikan strata yang lebih dominan ketimbang perempuan. Akibatnya perempuan hanya hadir sebagai alat pemuas, bukan sebagai bagian harmoni kehidupan.
Pandangan ini dapat dijumpai pada dampak prostitusi. Perempuan-perempuan yang terjerat pada pusaran bisnis, dinilai sebagai makhluk yang rendah. Mereka dinilai tidak dapat menjaga norma dan akidah yang berlaku. Mereka tidak lagi dipandang sebagai bagian masayarakat, pengucilan dan ejekan menjadi bagian yang selalu dilalui.
Alhasil mereka yang kadung sudah menyelam di dalamnya, tidak dapat berbuat banyak, justru menginginkan perlindungan dari para pelanggannya. Dominasi ini telah membentuk sebuah rantai jeratan yang tidak terputus. Mereka tidak akan menjumpai masa depan, mereka hanya dapat bertahan melalui percintaan semu.
Dominasi ini pula yang membentuk strata perempuan. Mereka yang berharga dinilai memiliki paras yang cantik, tubuh ideal, dan bagian tertentu yang indah -payudara yang besar. Beberapa nilai ini telah mendorong pula tarif yang diberikan atas cinta semu itu.
Semakin tinggi tawaran yang diberikan maka besar pula ganjaran yang akan didapatkan.
Lelaki yang Menjerat atau Justru Sebaliknya?
Melalui sudut pandang maskulin, posisi perempuan kerap kali dikesampingkan. Sehingga perempuan menjadi entitas yang lemah dan selalu dilindungi.
Konsep ini memang mengecilkan perempuan, tetapi disatu sisi justru dapat dijadikan alibi. Dengan pengecilan peran perempuan, mereka ternyata dapat menguasai pemikiran para pria. Melalui fantasi patriarkis perempuan dapat menjual percintaan semu.
Pada novel Cantik Itu Luka, sosok Dewi Ayu yang memiliki paras yang cantik dan tubuh yang indah, telah membutakan mata lelaki untuk menikmati dirinya. Tidak menampik hal itu, justru sang Dewi memanfaatkannya untuk mendapatkan segala keinginannya.
Ketika dirinya ikut ditawan oleh militer Jepang, ia memiliki seorang teman perempuan dalam tahanan. Diketahui temannya tidak ditawan sendirian melainkan bersama dengan seorang ibu. Sayangnya ibunya menderita sebuah penyakit.
Keinginan untuk mengobati ibunya dijanjikan oleh seorang kepala penjara. Sayangnya ia harus melayani hasrat seksualitas sang kepala. Dirinya termangu dan menceritakan kepada sang Dewi.
Ketidakmampuan secara mental, berujung kesedian Dewi Ayu untuk menggantikan temannya, demi wanita itu mendapatkan perawatan.
Atau ketika ingin mendapatkan uang, Dewi Ayu memanfaatkan setiap inci tubuhnya. Perbedaan yang mencolok antara dirinya dengan perempuan kebanyakan, telah mengundang banyak pria-lelaki hidung belang untuk menidurinya.
Seakan gerombolan lebah yang berusaha mendapat nektar dari setangkai bunga. Silih berganti pria menikmati tubuhnya, silih berganti pula kenikmatan duniawi yang didapatkan Dewi Ayu.
Jika disandarkan dengan realita yang terjadi, situasi ini seperti seorang wanita tuna susila (WTS) yang memiliki seorang pria yang berusaha menjaganya. Dalam wawancara penulis dengan Mia Rumiasari, salah seorang petugas Panti Sosial Bina Harapan Mulia, menuturkan salah seorang mantan warga binaan berusaha dilepaskan oleh oknum kepolisian.
Tidak sampai disitu, dalam melancarkan tujuannya oknum itu melakukan intimidasi. Penangkapan wanita hiburannya, telah mendorong untuk melakukan sesuatu yang dinilai telah menciderai integritas seorang aparat.
Jeratan seksualitas semu yang hanya didapatkan oleh segelintir orang, telah mendorong pihak-pihak untuk mengamankan jasanya. Ambisi ini menjadi motif WTS untuk meminta keamanan dirinya, demi mendapatkan kesenangan duniawi melalui pergaulan semu itu.
Konsep Patriarkis yang Justru Menjerat Semuanya
Ilusi-ilusi semu dari kenikmatan prostitusi, telah membutakan mereka -laki-laki hidung belang. Mereka menganggap telah memiliki kuasa atas perempuannya, tetapi di saat bersamaan justru permpuan lah yang memiliki mereka.
Stereotip laki-laki selalu melindungi perempuan, laki-laki yang mengayomi perempuan, dan hanya laki-laki yang dapat menjaga perempuan, telah dimanfaatkan secara ekonomi untuk meningkatkan taraf hidup si perempuan.
Tuntutan demi tuntutan yang terpenuhi kepada wanita prostitusi. Dimanfaatkan oleh mereka untuk menjerat para pelanggan melalui kenikmatan semu.
Abainya realita atas rantai jeratan prostitusi telah menyihir semuanya. Anggapan bahwa laki-laki jauh lebih dominan, atau mereka tidak akan terjerat. Nyatanya sejak mereka mendekati gerbang itu -prostitusi. Mereka telah masuk tipu daya semu semalam.
Mereka terlelap, terhibur, dan menikmati sensasi seksualitas semu dalam setiap malam.