
JurnalPost.com – Berawal dari platform hiburan pendek yang kini berkembang pesat menjadi sebuah ruang dimana para guru, ilmuan, penulis, dokter dan profesi lainnnya membagikan ilmu mereka sehingga Tiktok tidak hanya media hiburan tetapi juga menjadi pembelajaran dinamis yang mengkombinasikan antara hiburan dan pendidikan. Hal tersebut membuka pintu bagi penyerapan pengetahuan yang lebih luas, sekaligus menciptakan pengalaman belajar yang lebih hidup dan interaktif bagi para penonton serta memudahkan akses untuk pengetahuan para pelajar dalam metode pendidikan non formal.
Berikut ini beberapa contoh konten kreator yang bisa bisa dijadikan sebagai bahan pembelajaran:
• Sains Populer (@chemteacherphil): Eksperimen singkat dan penjelasan konsep kompleks ilmiah yang kompleks dengan gaya yang menyenangkan dan mudah dipahami.
• Sejarah Visual (@sejarahseru.id): Menghidupkan kembali peristiwa bersejarah melalui reenactment dan narasi yang menarik, membuat sejarah terasa lebih relevan dan tidak membosankan.
• Kesehatan Mental (@therapyjeff): TentangPsikoedukasi/ edukasi yang mengenai pemaham psikis atau mental. Konten tersebug membantu banyak orang memahami isu-isu mental dengan bahasa yang sederhana dan empatik.
• Bahasa Asing (@iamthatenglishteacher): Mengajarkan bahasa Inggris dengan pendekatan kontekstual, sehingga pembelajaran bahasa terasa lebih nyatadan menyenangkan.
Menurut data lokal pengguna aktif diperkirakan hampir mencapai 2 Miliar orang dari berbagai usia dan tempat asal. Tiktok dapat digunakan sebagai media edukasi pengetahuan yang menarik, singkat, dan mudah untuk di akses siapapun. Dengan adanya aksesibilitas yang tinggi dan adanya fitur interaktif seperti komentar, dan QnA yang memungkinkan penonton dapat berkomunikasi dengan pengajar atau creator konten secara tidak langsung. Interaksi ini yang menciptakan ruang diskusi yang menjadi tempat berproses untuk menumbuhkan rasa ingin tahu.
Namun, dibalik kemudahan itu terdapat tantangan dan juga risiko yang juga sering dialami. Seperti:
– Minimnya literasi digital di beberapa pengguna yang akan membuat masalah jika mereka membagikan informasi yang belum tentu dibenarkan.
– Kurangnya kelengkapan dan kebenaran isi konten, karena tidak semua konten terverifikasi secara ilmiah sehingga berpotensi menyebarkan misinformasi.
– Ketergantungan untuk selalu mengikuti tren yang tidak berkaitan dengan pendidikan dapat mengalihkan fokus pengguna dari tujuan awalnya.
Walaupun begitu kita masih bisa mengoptimalkan penggunaan TikTok sebagai media belajar dengan bebrapa strategi berikut ini:
– Memverifivikasikan sumber dari konten sebelum mempercayai atau membagikan informasi, untuk memastikan keakuratan dan kredibilitas materi yang diakses.
– Menyimpan konten-konten vidio edukasi dengan tema yang sama dan mengikuti akun profesional/institusi terpercaya, untuk validitas dan akurasi dengan tema yang sama, serta mengikuti akun-akun profesional atau institusi terpercaya, guna menjaga validitas dan relevansi informasi.
– Menggunakan tiktok sebagai pemicu ketertarikan untuk belajar mendalami suatu topik lebih lanjut melalui sumber-sumber pembelajaran yang lebih komprehensif di luar platform.
Dapat kita lihat bahwa TikTok telah menjadi media belajar dengan metode pendidikan non formal yang mudah untuk di jangkau para generasi muda. Namun, kita juga harus ingat bahwa konten edukasi di platform ini menjadi tanggungjawab bagi para pengunggah. TikTok tidak dibuat hanya untuk menggantikan pendidikan formal, tetapi juga berperan sebagai pelengkap yang menyenangkan dan menghibur, terutama ketika metode belajar mulai terasa membosankan atau kurang menarik.
Kita sebagai pengguna juga perlu ikut serta dalam bertanggung jawab untuk saling berbagi konten edukasi yang berkualitas. Dengan memanfaatkan media masa secara bijak dan sesuai dengan tujuan awal diciptakannya teknologi yaitu mempermudah akses informasi dan pengetahuan akan menjadi awal perubahan modern sesungguhnya bagi para pengguna.
Penulis: Zahratusyifa Al Fadiah
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Non Formal di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa