
JurnalPost.com – Ponorogo, kota yang terkenal dengan keseniannya, mempunyai kekayaan budaya berupa pertunjukan tari dan musik yang terus dilestarikan oleh masyarakatnya. Berbagai tradisi daerah juga turut disertakan. Salah satu tradisi yang mendapat perhatian adalah Bedingin Bunga, sebuah ritual yang sarat dengan nilai budaya dan spiritual.
“Bedingin Bunga tetap dipentaskan, namun hanya pada malam Suro di bulan Suro Rabiul Awal,” kata kepala desa.
Sejarah dan Makna Bedingin Bunga
Bedingin Bunga merupakan upacara adat yang dilakukan masyarakat Ponorogo sebagai ungkapan rasa syukur dan hormat kepada leluhur.
Ritual ini dilakukan setiap bulan pada bulan Suro (Muharram) dan pada hari lahir Nabi (Rabiul Awal).
Ritual ini biasanya dilakukan di bawah pohon beringin yang dianggap keramat oleh masyarakat setempat.
Pohon beringin sendiri mempunyai makna filosofis yang dalam, melambangkan keteduhan, kekuatan dan perlindungan.
Proses Ritual Bedingin Bunga
Ritual Bedingin Bunga biasanya diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh sesepuh adat atau tokoh masyarakat.
Doa ini ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan kepada roh nenek moyang yang dipercaya menjaga dan melindungi desa tersebut.
Usai salat, masyarakat diarak mengelilingi pohon beringin sambil membawa bunga dan sesaji sebagai simbol rasa syukur dan hormat.
Setiap bunga yang digunakan dalam ritual ini juga mempunyai makna.
Misalnya bunga kenanga melambangkan kesucian, bunga melati melambangkan ketulusan, dan bunga mawar melambangkan cinta dan kasih sayang.
Usai prosesi, bunga tersebut diletakkan di bawah pohon beringin sebagai persembahan.
Dampak Bedingin Bunga Bagi Masyarakat
Bedingin Bunga tidak hanya menjadi ajang melestarikan dan melestarikan tradisi, namun juga menjadi momen penting untuk mempererat tali silaturahmi antar warga.
Melalui ritual ini, masyarakat dapat berkumpul, berbincang, berbagi cerita, serta menciptakan rasa kebersamaan dan kebersamaan yang kuat.
Selain itu, Bedingin Bunga juga mempunyai daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin mengetahui lebih jauh tentang budaya Ponorogo.
Kehadiran wisatawan tentu memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat setempat, khususnya di bidang pariwisata dan kerajinan tangan.
Tantangan dan Harapan
Seiring berjalannya waktu, tradisi Bedingin Bunga pun menghadapi berbagai tantangan terutama terkait dengan modernisasi dan perubahan gaya hidup masyarakat. Harapannya warga masyarakat Bekerja tetap meneruskan kiprahnya dalam mewariskan tradisi Bedingin bunga Bunga/Kenduri Besar secara turun temurun, agar anak cucu mereka dapat terus menjunjung tinggi tradisi tersebut.
Oleh: Muhammad Rezky Ramadhan, ananda tribagus h, Muhammad Ramadhan Iswayuda