
Bogor, JurbalPost.com — Hasil riset mengenai persepsi persiapan pensiun menunjukkan bahwa sebagian besar calon pensiunan di Indonesia masih belum benar-benar siap menghadapi masa pensiun, baik secara finansial, mental, maupun aktivitas pasca kerja.
Riset yang dilakukan oleh Dr. Jumadi Subur dari PT Reborn Purnakarya Akademi ini dilaksanakan pada periode 20–30 April 2026 dengan melibatkan responden dari kalangan pegawai BUMN dan korporasi, mulai dari level staff hingga manajerial.
Press release hasil riset tersebut disampaikan di Hydro Corporate University pada tanggal 6 Mei 2026.
Dalam survey tersebut, ketika responden ditanya mengenai tingkat kesiapan menghadapi masa pensiun, sebanyak 45,5% menyatakan masih ragu-ragu terhadap kesiapan mereka. Sebanyak 36,5% merasa siap, sementara 9% mengaku sangat tidak siap. Menariknya, hanya sekitar 1% responden yang merasa sangat siap menghadapi masa pensiun.
Hasil survey juga menunjukkan bahwa kekhawatiran terbesar menjelang pensiun bukan hanya soal finansial. Sebanyak 59,1% responden mengaku khawatir karena belum memiliki rencana yang jelas setelah pensiun. Sementara itu, 50,1% responden khawatir kehilangan penghasilan tetap, dan 36% lainnya merasa cemas kehilangan aktivitas atau kesibukan setelah tidak lagi bekerja.
“Temuan ini menunjukkan bahwa pensiun bukan sekadar persoalan berhentinya pekerjaan, tetapi juga menyangkut identitas diri, produktivitas, dan arah hidup seseorang,” ujar Dr. Jumadi Subur.
Mayoritas responden juga menyadari bahwa persiapan pensiun sebaiknya dilakukan jauh hari sebelum masa pensiun tiba. Sebanyak 54,5% responden menyatakan bahwa persiapan idealnya dimulai sejak 5–10 tahun sebelum pensiun, sementara 36,4% lainnya memilih rentang 2–5 tahun sebelum pensiun.
Terkait kebutuhan pelatihan, topik yang paling diminati responden adalah membangun bisnis setelah pensiun (30%), perencanaan keuangan dan investasi (20%), serta personal branding atau profesi kedua (15%). Hal ini menunjukkan adanya kebutuhan besar untuk tetap produktif dan memiliki penghasilan setelah pensiun.
Dari sisi metode pembelajaran, responden lebih menyukai pendekatan praktis seperti workshop langsung, coaching dan mentoring, serta sharing pengalaman nyata dibandingkan metode seminar konvensional. Sementara itu, fasilitas yang paling diharapkan dalam pelatihan adalah konsultasi bisnis dan investasi, sesi coaching personal, serta akses ke komunitas pasca pelatihan.
Survey ini juga menunjukkan bahwa mayoritas peserta lebih menginginkan trainer dari kalangan praktisi bisnis atau entrepreneur sukses. Sebanyak 82% responden memilih trainer dengan pengalaman nyata di dunia usaha dibandingkan pendekatan teoritis semata.
Menurut Dr. Jumadi Subur, hasil riset ini menjadi sinyal penting bagi perusahaan agar mulai melihat program persiapan pensiun sebagai bagian dari employee well-being dan bentuk kepedulian terhadap masa depan karyawan. “Pensiun bukan akhir produktivitas. Dengan persiapan yang tepat, pensiun justru bisa menjadi fase baru kehidupan yang tetap aktif, mandiri, dan bermakna,” tutupnya.