
Oleh : Daffa Hilmi Rabbani
Dosen Pengampu : Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A.
Mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya (Untag Surabaya)
JurnalPost.com – Pengalaman pariwisata sering dipahami sebagai pengalaman mengunjungi tempat-tempat menarik. Namun, sebuah pengalaman pariwisata tetap perlu menyajikan makna yang menarik dibalik keindahan dan keunikannya. Bisa dipahami, pariwisata bukan hanya lahir dari keberadaan tempat tersebut, tetapi juga melalui hubungan wisatawan, tempat yang dikunjungi, dan informasi yang diperoleh wisatawan.
Dalam bukunya Philip Kotler yaitu Marketing Place, ia menjelaskan bahwa negara, kota, atau suatu tempat bisa dipasarkan seperti produk melalui pembangunan citra dan positioning. Dengan demikian, keberhasilan suatu destinasi tidak hanya ditentukan oleh kondisi fisiknya, tetapi juga bagaimana pembangunan citra dan posisi yang kuat, sehingga mudah dikenal, mudah diingat, dan menarik minat para wisatawan, sebagai mana sebuah produk menarik peminat para pembeli.
Dan di sinilah komunikasi berperan sebagai penggerak utama dalam menyampaikan citra dan positioning tersebut kepada publik. Melalui komunikasi, destinasi pariwisata bukan hanya hadir sebagai tempat yang ditafsirkan secara mandiri oleh pengunjung, tetapi sebagai entitas yang mengarahkan cara pandang tersebut, dimana destinasi pariwisata mampu mempengaruhi cara pengunjung menafsirkan pengalaman, agar sesuai dengan makna yang ingin dibangun oleh destinasi tersebut.
Menurut Philip Kotler, positioning merupakan upaya untuk menempatkan suatu produk atau destinasi dalam benak konsumen agar memiliki citra yang khas dan unik. Dalam konteks pariwisata, positioning menentukan bagaimana sebuah destinasi ingin dikenal, apakah sebagai tempat yang tenang, penuh sejarah, kaya budaya, atau memiliki nilai spiritual tertentu. Dengan adanya positioning yang jelas, wisatawan tidak hanya mengetahui keberadaan suatu tempat, tetapi juga memahami “karakter” dari destinasi pariwisata tersebut.
Lalu, bagaimana komunikasi membangun citra sebuah destinasi wisata? Yaitu dengan melalui pesan yang terstruktur dan disampaikan berulang-ulang sehingga membentuk kesan tertentu dalam benak publik. Di sini dapat dipahami bahwa komunikasi tidak berjalan sekali, namun berkali-kali hingga menjadi persepsi.
Komunikasi bekerja dengan mengemas pesan visual, narasi, dan simbol yang mampu menarik perhatian serta membangun kesan pada para wisatawan. Foto destinasi yang estetik, video promosi yang sinematik, dan juga cerita yang melekat pada tempat destinasi wisata, hal ini dapat memperkuat citra wisata yang ingin ditampilkan kepada para wisatawan. Dengan pengulangan pesan strategis yang konsisten tersebut, destinasi wisata mulai membentuk gambaran tertentu mengenai identitasnya, yang mampu mempengaruhi perspektif wisatawan, dalam memaknai destinasi wisata tersebut, bahkan sebelum mereka mengunjungi tempatnya secara langsung.
Dan pendistribusian pesan juga sangatlah penting. Pesan mengenai citra wisata tidak boleh berjalan hanya sekali, ia harus di berikan pengulangan hingga membentuk persepsi publik. Dan di zaman ini media turut mempercepat proses pembentukan citra ini, seperti konten media sosial yang bisa menjadi jalan utama penyebaran pesan tersebut, mengingat hampir semua orang aktif dalam menggunakan media sosial.
Dalam hal ini, pesan pembangunan citra pariwisata yang disebarkan secara konsisten melalui media massa maupun sosial yang mampu menjangkau masyarakat yang lebih luas, akan melekat pada benak masyarakat sehingga dikenal dan diingat publik dengan cara yang sesuai dengan identitas yang ingin dibangun destinasi pariwisata tersebut.
Namun dalam pembentukan citra pariwisata, keselarasan antara citra yang dibangun dengan pengalaman yang dirasakan wisatawan, juga perlu dipertimbangkan, ketika pesan yang disampaikan sesuai dengan realitas di lapangan, maka citra tersebut akan semakin terpercaya. Sebaliknya, ketidaksesuaian antara komunikasi dan kenyataan dapat merusak persepsi yang telah terbentuk. Oleh karena itu, komunikasi tidak hanya berfungsi membangun citra, tetapi juga menjaga konsistensi antara harapan dan pengalaman wisatawan.
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa komunikasi merupakan proses yang berkelanjutan dalam membentuk citra pariwisata. Melalui penyampaian pesan yang terstruktur, berulang, dan konsisten, komunikasi mampu menciptakan persepsi pada masyarakat atas identitas suatu destinasi. Dimana hal ini mempengaruhi cara wisatawan memahami, memaknai dan merasakan pengalaman pariwisata yang nanti mereka alami.