Kembali
Mode hapus aktif. Klik paragraf, foto, judul, tabel, atau bagian lain yang tidak ingin masuk PDF.
JurnalPost.com

Asesmen Digital vs Asesmen Tradisional, Mana yang Lebih Efektif?

Tim Editor: Redaksi · Tanggal: 1 Mei 2026

Asesmen

Ditulis oleh:
Zahy Riswahyudha Ariyanto, S.Pd.
Dr. Main Sufanti, M.Hum.
Universitas Muhammadiyah Surakarta

JurnalPost.com – Fenomena di ruang-ruang kelas hari ini menunjukkan sebuah pergeseran yang menarik sekaligus memunculkan tanda tanya. Di satu sisi, masih banyak siswa yang mengerjakan ujian dengan pensil 2B di atas lembar jawaban. Di sisi lain, semakin banyak pula siswa yang terbiasa mengerjakan kuis melalui Google Form, Quizizz (Wayground), atau berbagai platform digital lainnya. Dua pendekatan ini berjalan berdampingan dan membentuk dinamika baru dalam praktik evaluasi pembelajaran. Pertanyaan yang kemudian muncul bukan lagi soal mana yang lebih modern, melainkan mana yang lebih relevan serta sejauh mana keduanya mampu menjawab kebutuhan siswa?

Evaluasi tradisional, dalam bentuk ujian tertulis di atas kertas, telah lama menjadi fondasi sistem pendidikan. Ada kepastian yang terasa dalam metode ini karena bentuk soal jelas, waktu terukur, dan hasilnya dinyatakan dalam angka. Berdasarkan kebijakan, pendekatan ini sejalan dengan standar nasional pendidikan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menempatkan evaluasi sebagai alat untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik.

Namun persoalan mulai terlihat ketika evaluasi berhenti pada angka semata. Banyak siswa mampu menjawab soal pilihan ganda dengan baik, tetapi mengalami kesulitan saat diminta menjelaskan konsep secara mendalam. Situasi ini memperlihatkan bahwa evaluasi tradisional kerap hanya menyentuh permukaan. Pembelajaran pada akhirnya berisiko terjebak pada hafalan, padahal pemahaman dan kemampuan menerapkan konsep justru menjadi tujuan yang lebih penting.

Pada pembelajaran Bahasa Indonesia, dinamika ini tampak cukup jelas. Siswa sering kali mampu menjawab pertanyaan tentang isi teks karena mengingat bagian tertentu, namun belum tentu mampu menafsirkan makna, mengaitkan gagasan, atau menyusun argumen secara runtut. Ketika diminta menulis ulang dengan sudut pandang sendiri, sebagian siswa justru mengalami kesulitan. Hal ini menunjukkan adanya jarak antara kemampuan menjawab soal dan kemampuan berpikir secara utuh.

Contoh lain dapat dilihat saat ujian berlangsung. Siswa yang terbiasa menghafal cenderung lebih unggul dalam sistem evaluasi berbasis pilihan ganda. Sementara itu, siswa yang sebenarnya memiliki pemahaman lebih dalam tidak selalu memperoleh hasil yang sebanding. Di titik inilah muncul pertanyaan tentang sejauh mana sistem evaluasi benar-benar mencerminkan kemampuan siswa.

Di tengah kondisi tersebut, evaluasi digital hadir membawa pendekatan yang berbeda. Dengan dukungan teknologi mutakhir, penilaian dapat dikemas lebih beragam, mulai dari soal berbasis video, simulasi interaktif, hingga game edukatif. Suasana kelas pun mengalami perubahan. Siswa terlihat lebih terlibat, lebih responsif, dan lebih terbuka dalam mengikuti proses evaluasi.

Menurut pendapat beberapa guru, penggunaan Quizizz dalam kuis harian mampu mengubah dinamika kelas secara signifikan. Siswa yang sebelumnya cenderung pasif menjadi lebih antusias karena dapat langsung mengetahui hasil pekerjaan disertai umpan balik yang membantu memahami kesalahan secara lebih cepat. Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, pendekatan ini menghadirkan pengalaman yang lebih kontekstual, misalnya ketika siswa diminta memahami isi teks, mengidentifikasi struktur, atau menelaah penggunaan bahasa. Proses evaluasi terasa lebih dekat dengan aktivitas membaca dan menafsirkan sehingga siswa terdorong untuk benar-benar memahami materi.

Pendekatan ini sejalan dengan arah kebijakan pendidikan yang tertuang dalam Permendikbudristek Nomor 21 Tahun 2022 tentang Standar Penilaian Pendidikan. Dalam regulasi tersebut ditegaskan bahwa penilaian berfungsi untuk memperbaiki proses pembelajaran, bukan sekadar mengukur hasil akhir. Artinya, evaluasi seharusnya menjadi bagian yang menyatu dalam proses belajar. Meski demikian, realitas di lapangan tidak selalu berjalan sesuai harapan.

Kendala paling nyata dalam penerapan evaluasi digital berkaitan dengan akses dan infrastruktur. Tidak semua sekolah memiliki fasilitas yang memadai. Di beberapa wilayah, jaringan internet masih belum stabil. Ketersediaan perangkat juga belum merata di kalangan siswa. Situasi ini membuat penerapan evaluasi digital sering kali menghadapi hambatan teknis yang tidak sederhana.

Realita di lapangan menunjukkan bahwa upaya menggunakan platform digital dalam evaluasi tidak selalu berjalan mulus. Ada guru yang mencoba menerapkan ujian berbasis daring, namun harus menghadapi kendala akses siswa dan gangguan jaringan. Akibatnya, proses evaluasi menjadi kurang efektif dan pada akhirnya kembali menggunakan metode kertas yang dianggap lebih aman.

Selain persoalan teknis, tantangan lain muncul dalam aspek kejujuran akademik. Evaluasi yang dilakukan secara daring membuka peluang bagi siswa untuk bekerja sama atau mencari jawaban dari berbagai sumber tanpa pengawasan langsung. Dalam situasi seperti ini, keakuratan hasil penilaian menjadi sulit dipastikan.

Di sisi lain, evaluasi tradisional pun memiliki persoalan tersendiri. Praktik mencontek masih kerap terjadi meskipun pengawasan dilakukan secara langsung. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan integritas bukan semata ditentukan oleh metode evaluasi, melainkan juga oleh budaya belajar yang terbentuk.

Kesiapan guru juga menjadi faktor penting dalam dinamika ini. Tidak semua guru merasa nyaman dengan penggunaan teknologi dalam evaluasi. Padahal, Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menegaskan bahwa guru dituntut memiliki kompetensi profesional, termasuk dalam memanfaatkan teknologi pembelajaran. Tanpa dukungan pelatihan yang memadai, penerapan evaluasi digital berpotensi berjalan setengah hati.

Melihat berbagai kondisi tersebut, rasanya kurang tepat jika evaluasi tradisional dan digital diposisikan sebagai dua pendekatan yang saling menggantikan. Keduanya memiliki peran yang dapat saling melengkapi. Evaluasi tradisional masih memiliki kekuatan dalam menjaga konsistensi dan standar. Evaluasi digital membuka ruang bagi pendekatan yang lebih kontekstual dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

Pada pembelajaran Bahasa Indonesia, perpaduan keduanya dapat memberikan hasil yang lebih utuh. Evaluasi tertulis dapat digunakan untuk mengukur pemahaman dasar, sementara evaluasi digital dapat dimanfaatkan untuk melatih kemampuan menafsirkan, mengkritisi, dan mengekspresikan gagasan. Bilamana pendekatan dilakukan seimbang, proses penilaian dapat mencerminkan kemampuan siswa secara lebih menyeluruh.

Maka yang menjadi inti bukan terletak pada media yang digunakan, melainkan pada makna dari evaluasi itu sendiri. Apakah evaluasi mampu mendorong siswa untuk berpikir lebih dalam. Apakah ia membantu siswa memahami proses belajar mereka. Atau justru berhenti sebagai rutinitas yang sekadar menghasilkan angka.

Arah kebijakan pendidikan sebenarnya sudah cukup jelas, yaitu mengembangkan potensi siswa secara menyeluruh. Tantangan yang tersisa adalah bagaimana menerjemahkan arah tersebut dalam praktik yang nyata dan konsisten di ruang-ruang kelas. Jika tidak dikelola dengan bijak, perubahan dari kertas ke layar hanya akan menjadi perpindahan bentuk tanpa perubahan makna.

Sumber:
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022). Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 21 Tahun 2022 tentang Standar Penilaian Pendidikan. Jakarta.

Republik Indonesia. (2003). Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Sekretariat Negara.

Republik Indonesia. (2005). Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Jakarta: Sekretariat Negara.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/read/asesmen-digital-vs-asesmen-tradisional-mana-yang-lebih-efektif/25006/
Dicetak dari JurnalPost.com pada 08 November 2026 05:47.