Kembali
Mode hapus aktif. Klik paragraf, foto, judul, tabel, atau bagian lain yang tidak ingin masuk PDF.
JurnalPost.com

Aristoteles di Desa: Makhluk Sosial dan Tantangan Modern di Kabupaten Serang

Tim Editor: Redaksi · Tanggal: 9 Januari 2026

Penulis: Mirnawati, Angga Rosidin, S.I.P.,M.A.P., Zakaria Habib Al-Ra’zie,S.I.P.,M.Sos. Program Studi Administrasi Negara, Universitas Pamulang (UNPAM) Kampus Serang.

JurnalPost.com – Aristoteles yang menegaskan bahwa manusia yang dasarnya yaitu zoom politikon yaitu mahluk sosial atau politik yang dapat mencapai kesempurnaan hidupnya dalam komunikasi politik.

Pandangan ini juga bukan hanya sekedar klaim etis-metafisik yaitu yang berarti bagi arisotoles kehidupan yang bermasyarakat dapat memungkinkan praktik kebajikan dan kehidupan yang baik (eudaimonia).
Jika dapat dipahami yaitu sebagai kerangka untuk menganalisis desa,klaim Aristoteles yang dapat mengajak kita melihat desa bukan hanya sekedar lokasi ekonomi melainkan ruang relasi sosial yang bersama dan institusi lokal yang dapat membentuk kualitas suatu warganya.

Di kabupaten serang juga struktur desanya Masi menyimpan modal sosial penting seperti jaringan kekerabatan,gotong royong,tradisi lokal dan lembaga adat atau informal yang dapat memediasi konflik dan memfasilitasi kerja kolektif. Modal sosial ini juga sering menjadi bantalan ketika infrastruktur formal yang lemah seperti koordinasi bantuan saat bencana atau pengelolaan irigasi sederhana.
Namun modal sosial itu juga sedang di uji oleh dinamika modern yang beralih fungsi menjadi lahan, urbanisasi di sekitar kawasan metropolitan,dan mobilitas tenaga kerja.
Pernyataan ini juga dapat mendukung data demografis yang dapat menunjukan pertumbuhan penduduk dan dominasi usia produktif di kawasan kabupaten serang yaitu yang dapat memengaruhi tekanan ekonomi dan mobilitas tenaga kerja.

Tantang yang dapat menguji zoon politikon desa-desa yang ada di serang hari ini yang meliputi

1.kerawanan pangan pada sejumlah desa yang faktornya dapat merusak kepercayaan sosial dan ketahanan komunitas.

2.kesenjangan infrastruktur yaitu seperti jalan,irigasi dan pasokan air. Yang dapat menghambat akses pasar layanan publik.

3.masalah tata kelola dan digitalisasi yang setengah jadi yang termasuk kedalam kasus proyek website desa yang dapat menuai kontoversi yang dapat mengikis kepercayaan publik.

4.serta erosi kesempatan suatu ekonomi bagi generasi muda yang dapat mendorong migrasi ke kota. Semua ini juga bukan hanya sekedar masalah teknis,tetapi memengaruhi kapasitas desa untuk mempertahankan jaringan sosial yang sehat.

Dari perspektif aristotelian juga solusi bukan hanya sekedar pembangunan fisik atau transfer Anggaran semata,melainkan penguatan bentuk-bentuk koinonia (kemitraan sosial) yang dapat memungkinkan warga bersama-sama berpartisipasi dalam kehidupan kolektif.
Praktiknya di serang ini yaitu dapat memperkuat kelembagaan desa atau musyawarah desa yang benar-benar partisipatif.
Program pemberdayaan ekonomi juga berbasis komunitas seperti koperasi pertanian,agribisnis lokal.

Investasi infrastruktur kecil jiga dapat memaksimalkan akses pasar dan program literasi digital dan transparansinya anggaran desa agar inisiatif digital tidak dapat menjadi sumber konflik.
Upaya-upaya ini juga dapat memelihara kapasitas desa untuk bertindak sebagai ruang yang dimana kebijakan sosial dapat dipraktikkan.

Kesimpulan
Aristoteles dapat membawa ke desa-desa yang ada di kabupaten serang yang berarti mengingatkan kita bahwa pembangunan yang berhasil bukan hanya soal angka investasi,melainkan soal kualitas relasi sosial dan kemampuan untuk dapat mewujudkan kebaikan bersama.

Dan dapat memperkokoh makhluk sosial di tingkat desa yang melalui partisipasi,kerja sama ekonomi lokal, tata kelola yang transparan,dan infrastruktur yang tepat.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/read/aristoteles-di-desa-makhluk-sosial-dan-tantangan-modern-di-kabupaten-serang/22709/
Dicetak dari JurnalPost.com pada 08 November 2026 09:04.