
Cianjur, JurnalPost.com – Ratusan warga yang berasal dari kawasan lereng Gunung Gede Pangrango menggelar aksi unjuk rasa di Pendopo Bupati, Jalan Siliwangi, Kecamatan Cianjur, Provinsi Jawa Barat.
Aksi ini bertujuan menagih komitmen Bupati Cianjur, Muhammad Wahyu, untuk secara tegas menolak dan mengambil tindakan melawan rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) atau proyek geothermal di wilayah konservasi tersebut.
Massa yang merupakan bagian dari Aliansi Masyarakat Kaki Gunung Gede ini tiba di gerbang utama Pendopo setelah melakukan perjalanan dari kaki gunung menggunakan berbagai jenis kendaraan.
Juru bicara aliansi, Deden Patra, mengungkapkan bahwa kedatangan mereka adalah untuk menuntut realisasi janji yang pernah dilontarkan Bupati Muhammad Wahyu saat periode kampanye.
“Kami datang ke sini hanya untuk menagih janji Bapak Bupati Cianjur yang pernah menyatakan akan menolak serta menentang proyek geothermal ini,” tegas Deden dalam keterangan tertulis yang diterima JurnalPost, pada Kamis (11/12/2025).
Dalam hal ini lebih lanjut kekhawatiran utama masyarakat berpusat pada potensi kerusakan lingkungan serius yang bisa ditimbulkan oleh proyek tersebut di tengah ekosistem Gunung Gede Pangrango.
Mengingat riwayat Cianjur sebagai wilayah yang rentan terhadap gempa bumi, warga berpendapat bahwa pelaksanaan proyek berskala besar berpotensi besar memicu bencana alam yang dampaknya bisa jauh lebih menghancurkan.
Kekecewaan warga semakin memuncak karena Bupati Muhammad Wahyu tidak berada di tempat untuk menemui mereka. Deden Patra menilai ketidakhadiran Bupati sebagai bentuk tidak adanya kepemimpinan daerah. “Dengan tidak hadirnya Bupati, kami anggap Cianjur tidak punya kepala daerah,” ujarnya.
Aliansi yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat mulai dari petani, tokoh agama, pemuda, hingga aktivis lingkungan menyatakan bahwa aksi penolakan ini akan terus berlanjut hingga tuntutan mereka dipenuhi oleh Pemerintah Kabupaten Cianjur.
Mereka bahkan berencana membawa isu ini ke Pemerintah Provinsi Jawa Barat apabila tidak ada tanggapan yang memuaskan dari Pemkab.
Warga bersikeras menolak kehadiran PT Geothermal karena mereka memandang Gunung Gede sebagai urat nadi kehidupan yang menyediakan air bersih, mendukung aktivitas pertanian, dan menyimpan nilai-nilai warisan budaya yang harus dijaga.
“Kami tidak mau gunung yang menjadi sumber kehidupan kami dirusak oleh kegiatan industri,” ujar salah satu perwakilan menjelaskan.
Penolakan ini didukung oleh beredarnya rekaman video Muhammad Wahyu saat kampanye yang menjanjikan penolakan proyek strategis panas bumi, dengan fokus utamanya pada pengembangan sektor pariwisata.
Dalam janji kampanyenya, Bupati bertekad mengembalikan reputasi Gunung Gede Pangrango agar sejajar dengan gunung-gunung ternama lainnya. Kini, masyarakat menunggu realisasi janji lisan tersebut menjadi kebijakan daerah yang nyata.