Kembali
Mode hapus aktif. Klik paragraf, foto, judul, tabel, atau bagian lain yang tidak ingin masuk PDF.
JurnalPost.com

Aku Punya Standar, atau Aku Takut Terluka?

Tim Editor: Redaksi · Tanggal: 19 Desember 2025

Oleh: Ni Luh Putu Sintya Ayuningsih, I Gusti Ayu Suryaning Wagiswari, dan I.G.A Pradnya Keysha Suwardewi.

JurnalPost.com – Ucapan seperti “Aku punya standar”, “Bukan tipe aku”, “Dia terlalu red flag buat aku”, kini sering terdengar ketika seseorang menjelaskan alasan sulitnya menjalin hubungan atau memilih mundur dari pendekatan romantis. Di kalangan Gen Z, ungkapan-ungkapan tersebut terdengar wajar dan bahkan dianggap sebagai upaya pendewasaan secara emosional, atau lebih dikenal dengan istilah maturing emotionally. Memiliki standar dalam memilih pasangan dipahami sebagai bentuk menghargai diri sendiri dan tidak sembarang dalam menjalin relasi romantis. Namun, di balik keyakinan tersebut muncul satu pertanyaan penting yang perlu dijawab dengan jujur: apakah standar tersebut benar-benar lahir dari kesadaran diri, atau justru menjadi cara halus untuk menghindari kemungkinan terluka kembali?

Sebagai generasi yang akrab dengan isu kesehatan mental, Gen Z tumbuh dengan banyak istilah psikologis yang kini menjadi bagian dari percakapan sehari-hari. Istilah seperti red flag, green flag, secure energy, high value mindset, hingga emotionally mature kerap digunakan untuk menilai relasi sejak tahap awal. Pemahaman ini memberikan manfaat terhadap individu untuk lebih waspada terhadap pola hubungan yang berpotensi tidak sehat. Namun, apabila digunakan tanpa adanya refleksi, istilah-istilah tersebut dapat beralih fungsi menjadi pembatas emosional. Akibatnya, hubungan bukan dipahami sebagai proses saling mengenal dan bertumbuh, melainkan sebagai pemenuhan kriteria tahap awal.

Dalam psikologi, terdapat salah satu konsep yaitu mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) yang merupakan sebuah strategi yang bekerja secara tidak sadar untuk melindungi diri individu itu sendiri dari kecemasan atau rasa sakit emosional (Lubis, 2011). Salah satu bentuk yang sering muncul dalam relasi adalah penghindaran, yakni menjaga jarak emosional dengan cara tidak melanjutkan pendekatan, cepat menarik diri, atau menunda komitmen. Standar yang terlalu tinggi dan tidak fleksibel bisa menjadi bagian dari rasionalisasi dalam mekanisme ini (Sulistianto, 2022). Dengan alasan “tidak selevel” atau “tidak sesuai kriteria,” seseorang merasa aman tanpa harus membuka diri. Pada kenyataannya, ketika individu memiliki pengalaman dilukai, dikhianati, atau diremehkan, maka yang ia tanamkan adalah “mendekat itu berisiko”. Maka dari itu, pembentukan standar yang tinggi menjadi sebuah penyangkalan atau denial untuk mengamankan diri dari kemungkinan luka yang serupa hadir kembali.

Teori kelekatan (attachment theory) yang dikemukakan oleh Bowlby menjelaskan bahwa pengalaman emosional pada masa lalu berperan penting dalam membentuk cara individu membangun dan mempertahankan hubungan pada masa kini (Dewanti & Setyadi, 2024). Individu dengan avoidant attachment cenderung menekankan kemandirian dan kesulitan membangun kedekatan emosional. Mereka sering tampak selektif dan memiliki standar tinggi dalam memilih pasangan. Di balik sikap tersebut, sering kali tersimpan ketakutan akan kehilangan kendali atau kekecewaan. Standar tersebut akhirnya menjadi tameng yang terlihat rasional, tetapi berfungsi melindungi luka yang belum sepenuhnya pulih.

Gen Z hidup dalam budaya perbandingan sosial yang intens melalui media sosial. Gambaran pasangan ideal, hubungan harmonis, dan standar kebahagiaan yang ditampilkan secara terus-menerus menciptakan tekanan tersendiri. Tanpa disadari, individu merasa harus memilih dengan sangat hati-hati agar tidak salah langkah. Ketakutan akan gagal, disakiti, atau dianggap kurang bijak, membuat standar yang dibangun semakin tinggi. Akibatnya, hubungan dipandang sebagai potensi ancaman, bukan ruang untuk bertumbuh bersama.

Penting untuk dipahami bahwa memiliki standar bukanlah sesuatu yang keliru. Standar membantu seseorang mengenali nilai diri dan menetapkan batas yang sehat dalam relasi. Namun, standar yang sehat bersifat reflektif dan fleksibel, bukan kaku dan menutup diri. Ketika standar justru membuat seseorang semakin sulit percaya, semakin mudah menjauh, dan semakin takut terlibat, perlu ada refleksi lebih dalam. Mungkin yang perlu direfleksikan bukan hanya kualitas pasangan, tetapi juga luka yang belum sepenuhnya sembuh.

Pada akhirnya, kedewasaan emosional bukan ditentukan oleh seberapa tinggi standar yang dimiliki, melainkan oleh seberapa jujur seseorang pada alasan di baliknya. Bertanya pada diri sendiri menjadi langkah penting dalam proses ini. Apakah saya memilih karena benar-benar tahu apa yang saya butuhkan, atau karena takut mengulang rasa sakit yang sama? Hubungan yang sehat tidak menjanjikan bebas luka, tetapi menawarkan ruang aman untuk belajar, bertumbuh, dan pulih bersama.
 
REFERENSI
Dewanti, H. P., & Setyadi, D. (2024). Hubungan Antara Gaya Kelekatan Dewasa Dengan Toxic Relationship Pada Mahasiswa Bimbingan dan Konseling yang Berpacaran. Katalis Pendidikan: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Matematika, 1(3), 164-176.
Namora Lumongga Lubis, “Memahami Dasar-Dasar Konseling dalam Teori dan Praktik”, (Jakarta, Prenada Media Group, 2011), 147.\
Sulistianto, A. P. (2022, September). Mekanisme Pertahanan Diri pAda Mahasiswi Korban Kekerasan Pada Pacaran. In Proceeding of Conference on Strengthening Islamic Studies in The Digital Era (Vol. 2, No. 1, pp. 364-376).

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/read/aku-punya-standar-atau-aku-takut-terluka/22050/
Dicetak dari JurnalPost.com pada 08 November 2026 10:33.