
JurnalPost.com – Skala peperangan kemanusiaan yang sedang terjadi antara Israel-Hamas sedang memanas antara kedua belah pihak. Banyak warga sipil yang berjatuhan setiap harinya sejak 7 Oktober 2023, yang tercatat sudah memakan sebanyak 11 ribu jiwa dari pihak Israel dan Palestina akibat konflik tersebut. Dari banyaknya korban yang berjatuhan dan terjadinya konflik ini, banyak khalayak yang memberikan dukungan kemanusiaan agar peperangan tersebut segera bisa dihentikan, tidak terutama juga dukungan dari perusahaan-perusahaan tertentu terhadap kedua sisi pihak dan menerima reaksi keras sebagai hasilnya.
Banyaknya warga sipil yang menjadi korban peperangan ini memberikan rasa simpati dari banyak khalayak seluruh dunia dan beberapa perusahaan-perusahaan yang memberikan pasokan atau bantuan kepada warga yang terlibat dalam peperangan tersebut. Namun, perusahaan-perusahaan tersebut malah menerima reaksi yang tidak mengenakan dari masyarakat, yaitu aksi boikot massal yang dilakukan sejumlah negara terutama dari Indonesia yang sejak awal masa bung Karno hingga sekarang, Indonesia tetap konsisten mendukung Palestina untuk kemerdekaannya.
Aksi boikot tersebut merupakan hasil kekecewaan dan aksi perlawanan masyarakat Indonesia karena banyak dari perusahaan-perusahaan tertentu memberikan donatur dan memiliki kerjasama dengan Israel. Mereka mulai memboikot dan mengurangi penggunaan produk dari perusahaan-perusahaan tersebut serta menyuarakan seruan untuk memboikot produk dari perusahaan-perusahaan tersebut melalui media sosial.
Boikot sendiri menurut OJK (Otoritas Jasa Keuangan) terbagi dalam dua arti, yaitu:
1. Tindakan pencegahan dalam kelangsungan bisnis dengan memaksa orang untuk tidak membeli produk-produk dari perusahaan
2. Kegiatan memaksa orang untuk tidak lagi berbisnis dengan pihak tertentu.
Namun, setelah menyatakan seruan untuk memboikot perusahaan-perusahaan tersebut, banyak juga yang memberikan rekomendasi produk pengganti menjadi produk lain selain produk-produk milik perusahaan yang memiliki afiliasi dengan Israel pada media sosial seperti Instagram, Facebook, Tiktok dan X– yang sebelumnya dikenal sebagai Twitter.
Kebanyakan dari masyarakat Indonesia ingin memboikot perusahaan-perusahaan tersebut agar perusahaan tersebut menghasilkan penurunan pembelian. Namun, apakah hal tersebut akan menjadi membantu? Tidak efektif, karena hal tersebut dapat membuat penurunan perekonomian di Indonesia, dan banyak tenaga kerja lokal akan terancam kehilangan pekerjaan mereka dan juga stok dari perusahaan-perusahaan tersebut didapatkan dari UMKM Indonesia yang akan merugikan bisnis perdagangan UMKM tersebut karena menurunnya minat pembeliam oleh konsumen.
Adakah cara lain selain memboikot?
Terdapat banyak cara, salah satunya adalah jika produk-produk yang anda pakai merupakan hasil dari perusahaan yang terafiliasi dengan israel, daripada dibuang, maka lebih baik disimpan dan dipakai sampai habis agar tidak mubazir atau menjadi sia-sia. Namun, jika sudah habis anda bisa menggantinya ke produk lain, seperti misalkan memilih produk-produk lokal. Hal tersebut akan membantu memberdayakan dan menggerakan roda perekonomian Indonesia.
Kita sebagai masyarakat juga harus bijak dalam memilah informasi yang tersebar di media sosial, termasuk perusahaan-perusahaan yang melakukan kerjasama dan memberikan donatur kepada Israel, karena satu kesalahan informasi dapat menyebabkan kerugian yang besar.
Jika produk dari perusahaan-perusahaan tersebut menjadi hal yang tidak bisa ditinggalkan maka tidak apa-apa dalam memakainya karena hukumnya tidak haram. Namun, perlu ditekankan bahwa aksi boikot yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia merupakan aksi dari kekecewaan masyarakat Indonesia agar perusahaan tersebut tidak memberikan kembali dana kepada Israel. Proses pemboikotan ini juga didorong oleh taktik menuju tercapainya target bernama BSD (Boikot, divestasi, dan sanksi Israel) yang menggerakan dan memberikan tekanan untuk melawan perang yang terjadi di Palestina, Gaza. Proses pemboikotan yang disuarakan oleh BSD akan memerlukan waktu yang tidak sebentar, agar memberikan efek suksesnya aksi pemboikotan tersebut kepada perusahaan-perusahaan yang berafiliasi kepada israel dan menurut BSD hal yang paling efektif dalam pemboikotan tersebut adalah dengan memfokuskan pada satu perusahaan bukan melakukan pemboikotan masal secara bersamaan secara langsung.
Apakah memboikot perusahaan pro-Israel bisa menghentikan peperangan antara Israel-Hamas?
Tidak, namun dengan terus menyuarakan dan menyebarkan informasi-informasi mengenai apa yang terjadi di Palestina akan memberikan pandangan terbuka pada berbagai pihak. Menyebarkan informasi sama juga dengan membantu warga palestina dalam menyuarakan suara mereka agar didengar oleh seluruh dunia. Memakai tagar #FreePalestine dan #CaseFireNow menjadi salah satu bantuan bagi palestina. Bantuan lain juga bisa bersumber dari donasi, donasi kecil besar sudah akan membantu mereka yang menjadi korban peperangan kemanusian melalui kantong-kantong donasi yang disebarkan oleh berbagai pihak.
Penulis: Ushulyah Dirmanto
Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Malang