Dyah Ayu Puspitasari1, Zainnur Wijayanto2
[email protected]1, [email protected]2
Abstrak
This study aims to describe the implementation of the Tri N philosophy (Niteni, Niroke, Nambahi) in fostering students’ creativity through the use of Canva as a digital learning medium. Tri N, an educational philosophy introduced by Ki Hadjar Dewantara, promotes a natural and gradual learning process that involves observing (niteni), imitating (niroke), and developing (nambahi). This research employs a descriptive qualitative approach, using observation, interviews, and analysis of students’ work as the primary instruments. The results show that integrating the Tri N approach with Canva enhances students’ creative thinking skills, strengthens their digital literacy, and encourages the production of original and meaningful works. Technology-based learning also increases student motivation and enthusiasm throughout the learning process. Therefore, this learning strategy is relevant to the context of 21st-century education, which demands innovation, adaptability, and digital fluency.
Keyword : Tri N, Creativity, Canva
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan penerapan ajaran Tri N (Niteni, Niroke, Nambahi) dalam mengembangkan kreativitas siswa melalui pemanfaatan aplikasi Canva sebagai media pembelajaran digital. Ajaran Tri N, yang merupakan filosofi pendidikan dari Ki Hadjar Dewantara, mendorong proses belajar secara bertahap dan alami, mulai dari mengamati (niteni), meniru (niroke), hingga mengembangkan (nambahi). Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik observasi, wawancara, dan analisis karya siswa sebagai instrumen utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi antara ajaran Tri N dan penggunaan aplikasi Canva mampu meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa, memperkuat literasi digital, serta mendorong siswa untuk menghasilkan karya orisinal yang bermakna. Pembelajaran berbasis teknologi ini juga terbukti meningkatkan motivasi dan antusiasme siswa dalam mengikuti proses belajar. Dengan demikian, strategi pembelajaran ini relevan untuk diterapkan dalam konteks pendidikan abad ke-21 yang menuntut kemampuan inovatif, adaptif, dan melek teknologi.
PENDAHULUAN
Pendidikan abad ke – 21 menuntut adanya pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga mampu mengembangkan kreativitas, berpikir kritis, dan keterampilan teknologi siswa. Dalam konteks ini, guru dituntut untuk menerapkan pendekatan pembelajaran yang inovatif dan kontekstual agar siswa mampu menghadapi tenatangan zaman secara kreatif dan adaptif.Zaman sekarang ini di era revolusi industry 5.0, pada lembaga pendidikan telah menyusun beberapa perubahan agar dapat menyesuaikan dengan perkembangan zaman, salah satunya yaitu inovasi dalam kegiatan proses belajar mengajar.Inovasi tersebut dapat diterapkan dalam media, model,ataupun proses berpikir siswa atayu lebih dikenal dengan istilah critical thingking.
Usaha meningkatkan kemampuan siswa agar dapat berpikir kritis dan kreatif tidak hanya terletak pada kemampuan guru dalam proses belajar mengajar yang berpusat kepada siswa, namun juga didukung dengan menerapkan strategi pembelajran yang sesuai (Yusmanto, 2017). Dengan demikian guru menerapkan setrategi dalam meningkatkan siswa dalam kreatifitas dapat dilakukan dengan menerapkan model pembelajaran yang sesuai.
Tokoh Bapak Pendidikan Ki Hajdar Dewantara yang juga merupakan tokoh pendiri Tamansiswa memiliki ajaran yang dapat dimuat dalam model pembelajaran yaitu Tri-N (Niteni,Niroke,Nambahi). Strategi yang dapat dilakukan oleh seorang guru dalam mengembangkan sikap kreatif adalah menggunakan ajaran Tri N. Terdapat tiga fase pada ajaran Tri N ini, yaitu Niteni (memahami atau mengamati): siswa terlebihdahulu mengamati , memperhatikan dengan seksama arahan dan penjelasan guru tentang subjek yang sedang dipelajari. Niroke (menirukan) : adalah fase guru memastikan siswa sudah memahami dengan baik apa yang telah disampaikan. Jika siswa tidak dapat meniru , guru perlu menjelaskan ulang agar anak mampu meniru dengan baik apa yang telah dijelaskan oleh guru. Fase terakhir dari ajaran ini adalah nambahke ( mengembangkan atau memodifikasi ), disini siswa bebas mengembangkan kreatifitas atau menambahkan ide dalam tugas yang telah diberikan. Ketiga tahap ini menggambarkan proses belajar yang bersifat alami dan bertahap, yang sangat sesuai dengan cara anak – anak memahami serta mengembangkan pengetahuan dan keterampilan baru.
Di sisi lain, kemajuan tekonologi digital juga memberikan peluang besar bagi pengembanhgan kreativitas siswa. Salah satu media yang kini populer dan mudah digunakan oleh siswa maupun guru adalah aplikasi canva. Canva merupakan platfrom desain grafis berbasis web yang menyediakan berbagai alat untuk membuat poster, persentasi, infografi, dan media visual lainnya secara menarik dan interaktif. Penggunaan canva dalam pemvelajaran memungkinkan siswa untuk mengekspresikan ide dan gagasannya secara visual, sekaligus mengasah keterampilan desain dan berpikir kreatif.
Menggabungkan nilai – nilai dalam ajaran Tri N dengan pemanfaatan aplikasi digital seperti canva dapat menjadi strategi pembelajaran yang efektif untuk mengembangkan kreatifitas siswa. Melalui proses niteni, siswa dapat mengamati desain – desain yang telah tersedia dan sesuai dengan apa yang mereka akan buat, memberikan contoh cara menggunakan sesuai kebutuhan terhadap siswa ; dalam tahap niroke, siswa mengamati pengejaran yang telah diberikan dengan meniru desain sederhana sebagai latihan ; dan di tahap nambahi, siswa didorong untuk mengembangkan serta menambahkan ide – ide kreatif mereka sendiri. Pendekatan ini tidak hanya melestarikan nilai – nilai nudaya, tetapi juga menjawab kebutuhan zaman dengan memanfaatkan teknologi digital secara produktif.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendektan kualitatif deskriptif, yang bertujuan untuk menggambarkan secara mendalam bagaimana penerapan ajaran Tri N dapat mengembangkan kratifitas siswa melalui aplikasi Canva. Pendekatan ini dipilih berdasarkan kemampuan untuk mengekplorasi fenomena secara kontekstual dan mendalam berdasarkan pengalaman langsung oleh siswa dan guru dalam proses pembelajaran. Instrumen yang digunakan yaitu penelitian kualitatif adalah peneliti itu sendiri, dibantu dengan panduan observasi dan wawancara. Selain itu, lembar analisis karya juga digunakan untuk menilai aspek kreativitas dalam hasil karya siswa berdasarkan indikator tertentu.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Tri N (Niteni , Niroke , Nambahi
Ki Hadjar Dewantara (KHD) merupakan Bapak Pendidikan Indopnesia yang memiliki jasa mengubah sistem pendidikan indonesia dari yang berbasis penjajahan menjadi berbasis nasionalis. Beliau melakukan revolusi pendidikan melalui perguruan Tamansiswa dengan mengimplementasikan berbagai ajaran. Salah satu ajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran adalah Tri N. Ajaran Tri N merupakan bagian dari filsafat pendidikan Ki Hadjar Dewantara yang menggambarkan proses belajar alami dan bertahap.Tri N merupakan ajaran yang digunakan untuk menumbuhkan kreatifitas siswa agar dapat menciptakan hal yang baru dalam dunia pendidikannya sejak dini. Hal ini perlu dikembangkan sebagai cara menempuh ilmu pengetahuan agar tidak asal meniru belaka, dalam artian “menjiplak “ atau “mengcopy”, melainkan memasaknya ( mengolah ) segala bahan dari dunia asing untuk dijadika “ masakan baru “ yang lezat dan menyehatkan diri.1
Niteni adalah proses kognitif atau pikiran manusia, berasal dari kata ” titeni ”, yang menunjukan pada kemampuan siswa secara cermat mengenali, dan menangkap makna (sifat, ciri, prosedur , kebenaran) darisuatu objek yang diamati, dengan cara memperhatikan, membandingkan, mengamati secara seksama, jeli dan mendalam serta melibatkan seluruh indra. Diartikan dalam proses berkarya, aktivitas pertama yang dilakukan ialah mengamati, dan menalaah. Mengamati tidak sekedar membaca , melihgat tetapi jiga dicerna, dan diwujudkan dengfan baik.2 Tindakan niteni fungsi utama dibebankan pada pemikiran.3
Niroke, berarti menirukan apa yang telah mereka pahami, atau tindak lanjut dari proses niteni dengan melibatkan seluruh pribadinya. Niroke adalah aktivitas menirukan dari apa yang telah silihat, didengar, dirasakan dalam bentuk contoh atau teladan yang baik. Perilaku meniru ini tidak salah, menirukan dapat diartikan sebagai menduplikasi diri terhadap karya yang sudah ada, yang hendak ” dicontoh” metodenya, bagaimana mengolah permasalahan menjadi karya yang baik, yang mudah dicerna dan mudah dipahami sesuai fungsinya. Tetapi juga, bukan hanya sebuah pembiaran dalam praktik plagiarisme, ini merupakan kegiatan proses belajar. Tahapan mengamati merupakan tahapan awal dalam proses terinspirasi yang disebut tahap pengenalan dalam niroke.
Nambahke merupakan tahap terakhir , bukan sekedar aktivitas meniru tetapi sudah ada unsur penambahan, suatu aktivitas melengkapi, menyempurnakan sesuai dengan keinginan individu melalui mengolah, mengubah, mengembangkan, memodifikasi, memprbaiki, menginovasi, menambahkan, mengurangi, dan proses berpikir kreatif dalam rangka memunculkan unsur pembeda, yaitu asas kebaruan. Adakalanya nambahke tersebut dengan tujuan mulia, mewujudkan suatu temuan, atau kemungkinan atas buah makna kebaruan.
Berdasarkan penjelasan di atas, Tri N merupakan ajaran yang digunakan untuk menumbuhkan kreativitas anak dengan mengajarkan anak didik untuk mengenali dan menangkap makna dari objek yang mereka amati dengan cermat dan seksama. Pembelajaran juga dilakukan dengan meniru dari apa yang telah dilihat, didengar, dan dirasakan yang dilanjutkan dengan kegiatan penambahan dengan melengkapi, mengembangkan, menyempurnakan sesuai dengan keinginan individu dengan menambah, mengolah, memodifikasi dan proses berpikir kreatif dalam memunculkan asas kebaruan. Ajaran ini sangat perlu ditanamankan dalam pembelajaran agar siswa dapat menumbuhkan jiwa kreatif dan mampu menciptakan hal yang baru yang dapat diperoleh dari memerhatikan hal yang sudah ada, mengikuti caranya dan kemudian menabahkan agar menjadi suatu hal yang baru melalui kreativitas.
B. Kreativitas Siswa
Kreativitas berasal dari kata kreatif yang berartikan bahwa berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.Kreativitas didefinisikan sebagai kemampuan untuk menghasilkan ide, prodeuk, atau solusi yang orisinal, bermanfaat, dan sesuai konteks (Guilford,1950; Torrance, 1974). kreativitas diartikan sebagai ciri khas yang dimiliki oleh individu yang ditandai dengan adanya kemampuan untuk menciptakan sesuatu dari kombinasi karya – karya yang telah ada sebelumnya. Proses ini menghasilkan karya yang berbeda dari yang sudah ada, dan biasanya dilakukan melalui interaksi aktif dengan lingkungan. Kreativitas juga muncul sebagai respon terhadap masalah, dimana individu mencari solusi alternatif dengan menggunakan cara berpikir yang divergen.
Kreativitas sering digambarkan dengan kemampuan berpikir kritis, mempunyai banyak ide, mampu menggabungkan suatu gagasan yang belum pernah ada sebelumnya dan kemampuan untuk menemukan ide untuk memecahkan suatu permasalahan. Kraativitas dapat membantu seseorang dalam menjelaskan dan menggambarkan konsep – konsep asbtrak dengan melibatkan keterampilan seperti keingintahuan, kemampuan menemukan sesuatu, eksplorasi dan lain sebagainya yang semuanya merupakan kualitas yang sangat besar bagi siswa.
Indikator dari kreativitas sendiri, antara lain, yaitu : (1) memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar; (2) sering mengajukan suatu pertanyaan yang berbobot; (3) memberikan banyak gagasan dan usulan; (4) mampu menyatakan pendapat spontan dan tidak malu – malu; (5) mempunyai pendapat sendiri dan tidak mudah terpengaruh orang lain; (6) memiliki imajinasi yang tinggi; (7) mampu menyampaikan pemikiran dan gagasan yang berbeda dengan orang lain; (8) memiliki rasa keindahan ;(9) dapat bekerja sendiri; (10) senang mevoba hal – hal baru; (11) dapat mengembangkan suatu gagasan.
Berdasarkan pernyataan diatas ini kreativitasa merupakan kemampuan siswa dalam kegiatan pembelajaran yang ditujukan dengan : (1) kemampuan siswa dalam melakukan inovasi dengan melengkapi, menyempurnakan, memperbaiki atau menambahkan dari karya atau ide yang telah ada; dan (2) mempunyai pendapat sendiri dan mampu menyampaikan pemikiran dan gagasanya kepada orang lain.
C. Pemanfaatan Aplikasi Canva
Menurut panduri (2023) canva merupakan aplikasi desain grafis berbasis online yang mudah digunakan pada setiap kalangan usia yang mana sudah tersedia untuk desktop maupun mobile sehingga dapat diakses dengan mudah untuk membuat visual konten maupun media pembelajaran, namun harus memiliki jaringan internet yang bagus (Handayani Parinduri, 2023). Hal ini sejalan dengan Resmini dkk (2021) canva adalah suatu program untuk desain grafis online yang menyediakan berbagai macam template yang dapat digunakan untuk membuat konten/ media pembelajaran (Resmini et al,2021). Dengan ini , dapat disimpulkan bahwa canva memiliki definisi suatu aplikasi untuk desain grafis berbasis online yang mudah digunakan karena menyediakan berbagau macam template gratis serta dapat diakses dengan mudah melalui desktop ataupun mobile saat menggunakan internet.
Penggunaan canva dalam proses pembelajaran dapat meningkatkan kreativitas literasi digital, siswa menjadi lebih terampil dalam menggunakan teknologi digital, memahami informasi visual, dan memprodduksi konten digital yang menraik dan kreatif. Selain itu, siswa juga menjadi lebih termotivasi dan atusias dalam proses pembelajaran karena adanya unsur interaktif dan visual yang menarik dari aplikasi canva. Teknologi abad 21 mengalami perekembangan yang cukup pesat. Hal ini dapat ditinjau dari berbagai aspek, teknologi memiliki dampak yang sangat terasa. Tidak terkecuali pada bidang pendidikan, perkembangan teknologi juga berdampak pada pembelajaran baik luring maupun daring. Pembelajaran berbasis teknologi saat ini terdengar sangat akrab bagi para guru dan siswa.
Namun tak lepas dari itu canva merupakan aplikasi yang tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan. Adapun kelebihan dari aplikasi canva sebagai berikut ini : (1) canva memiliki berbagai macam template desain grafis yang meliputi poster, infografis, persentasi, anismasi dan sebagainya;(2) canva mudah diakses melalui handphone maupun komputer, karena sudah tersedia di playstore maupun appstore, jika menggunkan leptop atau komputer dapat dibuka melalui web tanpa harus mendownload ;(3) Canva juga mudah diakses dimanapun dan kapanpun, canva dapat menciptakan desain lebih efisien dan efektif. Adapun kekurangan dari aplikasi canva sendiri sebagai berikut, yaitu : (1) aplikasi canva hanya dapat digunakan dengan jaringan internet yang stabil, jika tidak ada jaringan internet maka tidak dapat digunakan dalam membuat desain grafis; (2) canva memiliki beragam fitur yang dapat digunakan namun tidak semua fitur digunakan secara gratis karena ada beberapa fitur yang digunakan secara berbayar.
Berdasarkan pernyataan diatas yaitu aplikasi canva merupakan aplikasi berbasih online yang mudah digunakan oleh semua kalangan usia. Penggunaan canva dalam proses pembelajaran terbukti dapat meningkatkan kreativitas siswa, keterampilan litersi digital,serta kemampuan dalam memahami dan memproduksi informasi visual secara menarik dan interaktif.Adapun keunggulan dari canva yaitu menyediakan banyak template yang mudah diakses, disisi lain canva memiliki keterbatasan seperti ketergantungan koneksi internet yang stabil dan adanya fitur premium yang hanya bisa diakses melalui langganan berbayar.
D. Integrasi Ajaran Tri N dan Teknologi dalam Meningkatkan Kreativitas
Integrasi ajaran Tri N ( Niteni, Nirokke, Nambahi) dengan media digital seperti aplikasi canva dapat menciptakan sebuah proses pembelajaran yang bersifat kolabratif, inovatif, dan kontekstual. Tri N sebagai filosofi pembelajaran dari ajaran Ki Hadjar Dewantara, memiliki pendekatan bertahap yang sejalan dengan proses pembelajaran abad 21, terutama dalam mengembangkan kreativitas dan keterampilan berpikir tingkat tinggi.
- Niteni ( mengamati )
Tahap awal dalam proses pembelajaran, Dimana siswa melakukan pengamatan terhadap berbagai contoh desain atau media visual yang telah tersedia di Canva. Siswa dapat mengamati tamplete presentasi atau poster yang ada. Pada pembelajaran ini tugas yang akan diberikan merupakan poster, maka siswa melihat desain poster, diberikan contoh untuk mencari template sesuai judul. Proses ini melatih kepekaan estetika dan pemahaman terhadap elemen visual seperti warna, tata letak, dan tipo grafi
- Nirokke ( meniru)
Setelah memahami konsep dasar melalui pengamatan, siswa mulai untuk mennirukan desai tersebut menggunakan Canva. Siswa dapat membuat ulang poster dengan mengikuti contoh, namun tetap menggunakan isi data sesuai tugas. Pada tahap ini penting untuk membangun keterampilan teknis awal, melatih penggunaan alat digital, serta memperkuat pengasaan konsep dan melatih motorik halus anak.
- Nambahi ( mengembangkan )
Ini merupakan tahap terakhir yaitu mengembangkan. Siswa dapat mengembangkan ide – ide kreatif yang akan diluapkan pada poster. Tahap tertinggi Tri N adalah Ketika siswa mulai menambahkan unsur kretivitas dan modifikasi dalam karya mereka. Dengan fitur Canva yang fleksibel , siswa bisa mengubah font , menambahkan elemen baru, bahkan menciptakan desain dari nol bersadarkan ide sendiri. Siswa didorong untuk tidak hanya meniru tetapi juga menciptakan sesuatu yang unik dan sesuai dengan konteks pembelajaran.
KESIMPULAN
Ajaran Tri N yang digagas oleh Bapak Pendidikan yaitu Ki Hadjar Dewantara merupakan pendekatan pendidikan yang bertahap dan sesuai dengan karakteristik alami proses belajar siswa. Dengan tahapan Niteni( mengamati ), Niroke (meniru), dan Nambahi ( mengembangkan), siswa diarahkan untuk tidak hanya menerima informasi secara pasif, namun juga aktif dalam proses berpikir dapat menciptakan ha yang beru dan berinovasi.
Integrasi ajaran Tri N dengan pemanfaatan teknologi digital seperti aplikasi Canva menjadi strategi yang sangat efektif dalam meningkatkan kreativitas siswa di era digital ini. Melalui Canva, siswa dapat mengamati contoh desain (Niteni), menirukan dengan mengerjakan ulang desain sederhana (Niroke), dan kemudian mengembangkan ide-ide kreatif mereka sendiri untuk menghasilkan karya yang orisinal dan bermakna (Nambahi). Proses ini tidak hanya melatih keterampilan berpikir kritis dan estetika, tetapi juga mendorong literasi digital dan semangat berkarya.
Dengan demikian, pendekatan Tri N yang dipadukan dengan teknologi modern dapat menjadi model pembelajaran yang selaras dengan kebutuhan abad ke-21. Strategi ini tidak hanya menumbuhkan kreativitas dan inovasi siswa, tetapi juga memperkuat nilai-nilai budaya lokal yang relevan dengan tantangan dan perkembangan zaman.
DAFTAR PUSTAKA
Dewantara, K. H. (n.d.). Pendidikan menurut Taman Siswa. Yogyakarta: Penerbit Taman Siswa.
Guilford, J. P. (1950). Creativity. American Psychologist, 5(9), 444–454.
Mishra, P., & Koehler, M. J. (2006). Technological Pedagogical Content Knowledge: A Framework for Teacher Knowledge. Teachers College Record, 108(6), 1017–1054.
Parinduri, H. (2023). Canva sebagai media pembelajaran digital interaktif. Jurnal Teknologi Pendidikan, 8(2), 45–58.
Resmini, F., Sari, D. P., & Amelia, R. (2021). Pemanfaatan Canva dalam pembuatan media pembelajaran. Jurnal Inovasi Pendidikan, 10(1), 12–20.
Torrance, E. P. (1974). Torrance Tests of Creative Thinking. Lexington, MA: Personnel Press.
Yusmanto, Y. (2017). Strategi pembelajaran untuk mengembangkan kreativitas siswa. Jurnal Pendidikan Kreatif, 3(1), 25–33.