Kembali
Mode hapus aktif. Klik paragraf, foto, judul, tabel, atau bagian lain yang tidak ingin masuk PDF.
JurnalPost.com

About My Self Harm

Tim Editor: Redaksi · Tanggal: 30 Desember 2023

JurnalPost.com – Rasa takut yang selalu menghantui, riuh di kepala yang tidak pernah diam, rasa bersalah yang selalu datang, tangis yang tidak ada habisnya, membuat gadis ini sangat kelelahan dengan kehidupannya. Sorot matanya yang sayu menatap sekitar nya dengan nanar tatapan itu, adalah tatapan dalam yang begitu menyakitkan. Tubuh yang gemetar hebat, ia tidak bisa menahannya semuanya berisik sangat menggangu ia ingin menghentikan semuanya sekarang.

Aruna, gadis yang terbilang masih muda, cantin jelita dengan rambut panjang tergerai indah, siapa saja yang melihat nya pasti iri dengannya, bukan hanya cantik ia juga pintar dalam berbagai bidang tak ayal orang-orang sangat mengaguminya. Namun, tidak dengan Aruna ia tidak menyukai dirinya bahkan tidak sedikit pun malah sebaliknya ia benci dengan dirinya sendiri. Orang-orang melihat kalau dirinya baik-baik saja dengan sebuah senyuman yang selalu terpampang jelas di wajahnya, namun itu salah senyuman itu hanya pura-pura sebagai topeng belaka.

Tepat pada malam ini ia berada disini di tengah jalanan yang sunyi ia berjalan, dengan langkah gontai ia menyusuri jalanan sunyi. Tetesan air mata itu tidak terbendung, derasnya air mata tidak bisa menyembuhkan sakitnya. Langkah kakinya menuju pada suatu jembatan, Aruna menatap kebawah sana ia sungai dengan arus deras sekali, pikirannya tidak karuan entah apa yang ia rasakan sekarang tapi rasanya ia ingin hilang, hilang dari semua orang.

Ingatan nya kembali pada beberapa waktu tadi, keributan hebat dari sang kedua orang tuanya membuat dirinya merasa sangat takut, ketika ribut itu datang yang terpikirkan hanya satu orang yaitu kakak nya namun sang kakak tidak begitu perduli padanya orang yang selalu ia anggap rumah kini hilang entah kemana jati dirinya.

“SAYA MUAK DENGAN KAMU!”

“SAYA MAU BERCERAI!”

Suara itu berkeliling dipikiran Aruna, “Kamu harus jadi juara! jangan pemalas nilai kamu turun! Lihat kenapa menjadi 98? Dasar anak tidak berguna!” Kata-kata itu membuat dirinya tertekan, ia mencari pelampiasan untuk memuaskan dirinya dengan cara menggoreskan benda tajam itu pada tangan-tangan cantiknya.

Namun kini ia lelah dengan semua itu, sekarang di tengah sunyi ini Aruna tertegun menatap indahnya malam di iringi suara arus dari sungai.

Tangan nya menggenggam erat jembatan itu, matanya terpejam ia merasakan angin yang menerpa wajahnya.”untuk kali ini aja, kasih aku ketenangan” ucapnya pelan.

“JANGANNN!!!”

Aruna yang hampir saja menerjun bebaskan dirinya ke sungai tertahan ketika mendengar suara teriakan seorang laki-laki di samping jembatan sana, dari kejauhan laki-laki itu berlari menghampiri Aruna yang ingin melompat ke sungai tersebut. “Lo gila ya! Kalau mau mati jangan disini dong, yang ada lo nyusahin orang-orang!” Ucap laki-laki tersebut.

Tepat berhadapan dengan Aruna, laki-laki itu menarik Aruna agar ia mau kembali dan tidak kembali mencoba untuk meloncat sesuai pemikiran nya tadi. Aruna melihat jelas siapa laki-laki itu, ternyata laki-laki itu adalah teman sekelasnya bisa di bilang anak ini sangat jarang berinteraksi dengan orang sekitar, entah kenapa tiba-tiba ia ada disini di tempat sunyi seperti ini. “Kenapa nahan gue sih! Lepasin engga!” Ucap Aruna.

Genggam tangan Arkana begitu kuat bahkan Aruna saja tidak bisa melepaskan genggamannya, ia meringis kesakitan ketika genggam itu mengenai luka di tangan nya. Iya benar, luka yang ia buat sebagai pelampiasan ketika rasa kecewa itu muncul, ketika rasa bersalah itu datang ia buat goresan untuk kepuasan dirinya. Arkana menatap gadis itu dari ujung kaki hingga ujung kepala Aruna sangat buruk, Arkana menghelan nafasnya melihat penampilan gadis ini. Mata nya sembab karna menangis terus-menerus begitu sakitnya ketika Arkana tau bagaimana keadaan Aruna.

“Sini ikut gue” Ajak Arkana.

Mereka berdua pergi dari jembatan itu, entah sekarang Arkana membawanya berjalan kemana yang pasti Aruna hanya mengikutinya saja. Sesampainya di tempat tersebut Aruna menatap bangunan putih yang nampak sepi, rumah itu sangat besar namun nampak tidak ada siapa-siapa itu sangat sunyi bahkan ketika mereka masuk tidak ada suara apa-apa hanya ada suara jangkrik ketika malam hari.

Arkana menyuruh Aruna untuk duduk dan menunggu nya sebentar, “duduk gue mau ambil sesuatu” Aruna mengangguk ia pun duduk di jajaran sofa hitam yang tersusun rapi di ruang tamu, rumah ini sangat mewah tidak mungkin kan kalau hanya Arkana yang tinggal disini.

Aruna melirik sekitar namun benar-benar tidak ada orang, “gue sendirian, orang tua gue sibuk engga usah di cari” anak itu memang sangat ketus tapi Aruna tidak apa-apa ia juga tidak perduli akan hal tersebut.

Arkana datang membawa sebuah kotak, ternyata itu kotak P3K yang berisikan banyak obat-obatan. Arkana meminta Aruna membentangkan tangannya, ketika baju itu ia tarik sungguh Arkana terkejut banyak sekali goresan yang di buat Aruna bahkan bukan di satu tangan melainkan kedua tangannya. Aruna menatap Arkana yang mematung, ia langsung menarik lengan bajunya kembali seperti semula.

“Sini gue obatin, jangan di biarin itu engga baik” Ucap Arkana.

Aruna kembali membukakan lengan bajunya, dengan telaten Arkana mengobati luka goresan tersebut ia meringis ketika melihat goresan tersebut. “Kalau lo bisa obatin luka gue, setidaknya obatin juga luka yang ada di jari jempol lo itu” mata Aruna sangat jeli, ia mendapati luka-luka yang ada di tepi jari Arkana. Aruna menghelan nafas panjang, ia paham betul kenapa orang-orang seperti itu hanya diam, ia tidak pernah bilang dengan keadaan yang sebenarnya, ia lebih baik memendam dan melampiaskan semuanya dimana saja, entah itu di dinding, pada benda tajam, atau yang lainnya.

“Manusia jahat-jahat ya? Mereka engga tau apa ya dengan ucapan mereka bisa menyakiti perasaan kita? Apa mereka engga punya perasaan? Kenapa mereka cuman bisa berkomentar aja, kenapa mereka engga melihat diri mereka sendiri? Kenapa mereka selalu menuntut kita buat segalanya, kenapa engga mereka sendiri? kenapa…” Tangis Aruna pecah banyak hal yang ia benci di dunia ini, banyak orang yang ingin ia singkirkan, banyak hal yang menyakitkan baginya namun kenapa sampai sekarang ia masih berada disini? Kenapa? apa yang Tuhan siapkan untuk dirinya?

Arkana menatap gadis itu ia tau itu sangat menyakitkan karna itu juga terjadi pada dirinya, ia sering di kucilkan karena sikap nya yang berbeda dari beberapa orang, ucapan-ucapan yang selalu ia ingat, makian-makian itu ia tidak pernah lupa, Arkana hampir gila ia juga sama hampir saja mengakhiri hidupnya. Tapi Arkana menemukan jalannya, jalan untuk keluar dari itu semua dari hal buruk yang menimpa nya, ia mencoba untuk keluar lari dari sana, dari gelap menuju cahayanya.

“Mereka engga tau soal lo, mereka emang cuman bisa berkomentar tentang diri lo, mereka emang cuman bisa nuntut lo, mereka engga tau gimana rasanya jadi lo. Mereka yang bilang itu cuman hal biasa, padahal lukanya luar biasa. Sulit untuk tutup telinga tapi kalau kita engga gitu kita bakal tetap ada disini, di tengah gelap tanpa melihat cahaya besar disana-”

“-lo boleh nangis, lo boleh kecewa, lo boleh teriak engga ada yang ngelarang. Cuman, jangan bunuh diri, tunggu lo di panggil Tuhan biar dia yang jemput lo jangan pulang ke Tuhan duluan. Banyak hal yang belum lo tau, entah apa yang Tuhan siapkan buat lo tapi itu pasti suatu hal yang besar buat lo.”

Arkana menahan ucapannya, hatinya sangat sesak ia teringat akan dirinya yang dulu begitu hebatnya ia melawan semuanya sendirian tanpa di ketahui orang tua nya kalau anaknya ini sedang terpuruk kesakitan. “Jangan buat orang-orang sekitar lo sedih, mereka engga suka dengan cara lo bahkan Tuhan engga suka itu. Jangan ngelakuin itu lagi ya Run? Tangan nya engga boleh ada goresan lagi, lo cantik tangan lo harus cantik juga”

“Pelan-pelan ya Run? Gue tau lo bisa buktinya sekarang lo ada disini sama gue, berarti Tuhan mau lo tau banyak hal yang harus lo lewati lagi, pasti ada bahagia. Mau gue temani Run? Kita sembuh bareng-bareng ”

Arkana tiba-tiba memberikan buku gambar kepada Aruna, “Kalau lo lagi sedih atau kecawa lo bisa coret-coret disini ya? Jangan di tangan lagi, lo bisa robek-robek buku ini tapi jangan nampar dinding lagi ya? Sekarang lo engga sendirian ada gue kalau lo lagi sedih lari ke gue, nangis ke gue aja Run jangan kaya tadi, jangan lampiaskan semuanya ke tubuh lo ya?” Ucapan Arkana itu membuat Aruna terdiam, tidak banyak yang tau tentang sisi dirinya seperti ini yang orang-orang tau hanya Aruna yang terlihat sempurna nyatanya itu kebohongan semata. Aruna kira Arkana anak yang pendiam karna ia tidak mudah berinteraksi secara intens seperti ini pada seseorang, ternyata Aruna salah Arkana adalah anak yang tak jauh berbeda dengan nya sekarang ia paham dengan ucapan Arkana, kita harus keluar dari gelap ini ada cahaya besar menunggu kita disana jangan terlena dengan gelap yang menyakitkan tapi lihat lah terang yang begitu indah dimata dan banyak yang mendambakan, di sini Aruna dan Arkana memulai hal baru menuju cahaya itu.

Oleh: Naila Luthfiyana Izzati

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/read/about-my-self-harm/10145/
Dicetak dari JurnalPost.com pada 05 November 2026 15:21.