
JurnalPost.com Generasi Z atau sering disebut sebagai Gen Z adalah salah satu Generasi paling multikultral. Generasi yang lahir dari pertengahan tahun 1990 sampai awal tahun 2010 tumbuh di dunia yang serba digital yang memudahkan untuk saling terhubung dengan cepat, yang tentunya membentuk perspektif keberagaman dan inklusivitas. Menurut data BPS di tahun 2020 (dalam Rahkmah, 2021), Generasi ini menduduki posisi sebagai populasi terbanyak di Indonesia dengan persentase sebesar 27,94%.
Generasi ini juga keberadaannya beragam di tempat kerja, baik dalam bidang gender, seksualitas, maupun agama. Dikarenakan kemudahan dalam akses informasi, Mereka memiliki kesadaran akan isu-isu global, berpartisipasi dalam gerakan-gerakan terkait keberagaman dan kesetaraan seperti Gerakan Black Lives Matter, Zero Waste dan LGBTQ+ (Ortega, et al., 2019). Gen Z yang multikultural menguasai banyak bahasa dan memiliki identitas global. Konsumsi media yang beragam seperti media sosial (dalam Firamadhina & Krisnani, 2020), mengedepankan pendidikan (menurut Adeccousa, 2016), dan memiliki jiwa kewirausahaan yang tinggi (Purnomo, et al., 2019) menjadi ciri khas bagi Generasi ini.
Dalam dunia kerja, Gen Z mendorong terciptanya lingkungan kerja yang inklusif, mengutamakan kesehatan mental, serta aktif dengan kegiatan digital dalam kesehariannya. Mereka memprioritaskan perpaduan dan pertukaran lintas budaya dan keragaman kognitif Mereka dihargai di tempat kerja. Angkatan kerja Generasi Z mendapatkan serangkaian tantangan dan peluang baru bagi pemberi kerja. Mereka yang cenderung multibahasa, multikultural, serta berpikiran terbuka sangat mengedepankan keseimbangan kehidupan kerja.

Berikut adalah tantangan yang dihadapi oleh Generasi Z sebagai Generasi paling multikultural di dunia kerja:
– Kesulitan dalam memahami nilai dan budaya Generasi sebelumnya
Karakteristik dan nilai yang dipegang oleh Generasi sebelumnya berbeda dengan Generasi ini, sehingga dapat menyebabkan kesenjangan Generasi.
– Persaingan yang ketat dalam mencari pekerjaan yang diinginkan, karena Generasi Z memiliki populasi yang besar dan semakin kompetitif
Bonus demografi yang dirasakan di Indonesia menciptakan populasi dalam Generasi ini menjadi semakin banyak. Hal ini mengurangi kesempatan kerja di suatu perusahaan dan berakhir pada tingkat pengangguran yang tinggi. Data BPS (dalam Ahdiat, 2023) mencatat bahwa sebanyak 7.99 juta penduduk di Indonesia pada Februari 2023 menganggur. Sementara tercatat bahwa per 2022 (dalam BPS, 2022) pengangguran didominasi oleh Generasi Z.
– Stigma yang melekat pada Generasi Z sebagai Generasi pemalas dan kurang berkomitmen terhadap pekerjaan
Generasi ini menghargai fleksibilitas dalam bekerja karena Mereka ingin bekerja di tempat yang memberikan kebebasan waktu dan tempat kerja sehingga seringkali dianggap malas dan tidak tepat waktu (dalam Putri, 2023).
– Kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja yang kurang inklusif dan mendukung
Menurut Forbes (2018) Generasi Z akan memilih perusahaan yang berkomitmen dalam keberagaman dalam mencari pekerjaan. Hal ini dikarenakan keinginan Mereka untuk inklusif, menjadikan Mereka pribadi yang terbuka dan mengedepankan hak serta kebebasan sehingga ekslusivitas menghambat Mereka untuk mengeksplor hal-hal lain dalam pekerjaan.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, berikut saran yang dapat dilakukan oleh angkatan kerja Generasi Z:
– Pekerja Gen Z dapat bersikap proaktif dalam mempelajari budaya dan perspektif yang berbeda. Menurut Mahardika & Kistyanto (2020), kepribadian yang proaktif akan meningkatkan kemampuan beradaptasi pada karir yang mengarah pada kesuksesan seseorang.
– Pekerja Gen Z dapat membangun hubungan dengan rekan kerja dan manajernya. Hal ini akan membantu menciptakan lingkungan kerja yang lebih suportif dan inklusif. Menurut Rico, et al. (2023) dengan usaha membangun lingkungan kerja yang positif, dapat berdampak pada peningkatan motivasi kerja sehingga karyawan akan melakukan upaya lebih dalam memajukan tujuan organisasi.
– Pekerja Gen Z dapat melibatkan hukum apabila mengalami diskriminasi atau prasangka di tempat kerja. Mereka harus berbicara dengan atasan atau bagian HRD dan berusaha memperjuangkan hak Mereka dalam bekerja.
Sejatinya budaya tidak benar-benar ada dikarenakan sudah begitu banyak terjadi pencampuran budaya yang tidak tercatat. Hal ini menjadikan Generasi Z penuh dengan budaya yang tidak homogenus. Heine, seorang psikolog budaya mengemukakan bahwa diperlukan adanya pertimbangan mengenai pentingnya konteks budaya dalam melihat perilaku dan proses mental seseorang (Heine, 2016). Meskipun sulit beradaptasi dengan nilai-nilai yang dianut Generasi-generasi sebelumnya, orang yang multikultural akan dengan mudah beradaptasi sesuai dengan lingkungan budaya yang sedang dihadapinya. Hal ini memungkinkan Generasi Z dapat memahami bagaimana ia harus bertindak, terutama sebagai angkatan kerja.
Daftar Pustaka
Ahdiat, A. (2023, Mei 5). Awal 2023 ada 7,9 juta pengangguran di Indonesia. Databoks. https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2023/05/05/awal-2023-ada-79-juta-pengangguran-di-indonesia.
Adeccousa. (2016, Juli 6). Millennials vs. Gen Z: Key differences in the workplace. Adecco. https://www.adeccousa.com/employers/resources/generation-z-vs-millennials-infographic/.
Firamadhina, F.I.R., Krisnani, H. Perilaku Generasi Z terhadap penggunaan media sosial Tiktok: Tiktok sebagai media edukasi dan aktivisme. Social Work Jurnal, 10(2), 199-208. doi: 10.24198/share.v10i2.31443.
Heine, Steven J. (2016). Cultural psychology. New York: W. W. Norton & Company, Inc.
Mahardika, M. D., Kistyanto, A. (2023). Pengaruh kepribadian proaktif terhadap kesuksesan karir melalui adaptabilitas karir. Jurnal Forum Ekonomi, 25(3), 185-195. ISSN Print: 1411-1713 ISSN Online: 2528-150X.
Purnomo, A., Asitah, N., Rosyidah, E., Septianto, A., Daryanti, M. D., Firdaus, M. Generasi Z sebagai Generasi Wirausaha. (2019).
Putri, P. K. (2023, Juni 16). Cara mendapatkan hati Gen Z si pengisi angkatan kerja masa kini. https://ppm-manajemen.ac.id/cara-mendapatkan-hati-gen-z-si-pengisi-angkatan-kerja-masa-kini/.
Rahkmah, D. N. (2021, Februari 4). Gen Z dominan, apa maknanya bagi pendidikan kita? Kemdikbud. https://pskp.kemdikbud.go.id/produk/artikel/detail/3133/gen-z-dominan-apa-maknanya-bagi-pendidikan-kita.
Rico, Adawiyah, M., Ushansyah, Ibnor, R. (2023). Pengaruh lingkungan kerja terhadap semangat kerja pegawai pada kantor kecamatan Kapuas Kuala. Journal on Education, 05(04), 13228-13242. E-ISSN: 2654-5497, P-ISSN: 2655-1365.
Sthal, A. (2018, September 26). Gen Z: what to expect from the new workforce. Forbes. https://www.forbes.com/sites/ashleystahl/2018/09/26/gen-z-what-to-expect-from-the-new-work-force/?sh=a343e2863e05.
Zúñiga Ortega, D. C., Garcia, D. A., Rodríguez, J. B., & Calvo, J. M. D. M. (2019). Work ethic in Ecuador: An analysis of the differences in four generational cohorts. Anales de Psicología, 35(3), 496–505. doi: https://doi.org/10.6018/analesps.35.3.342671.



