
Oleh: Gadis Putri Amelia Pratama
Universitas Negeri Surabaya
JurnalPost.com – Pendidikan merupakan salah satu pondasi terpenting dalam Pembangunan bangsa. Pendidikan yang berkualitas akan menghasilkan sumber daya manusia yang unggul dan mampu bersaing di era globalisasi saat ini. Oleh sebab itu Pemerintah Indonesia terus berupaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan, salah satunya melalui inovasi kurikulum.
Kurikulum Merdeka merupakaan salah satu inovasi kurikulum yang telah diluncurkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbutristek) pada tahun 2022. Kurikulum Merdeka merupakan penyempurnaan dari Kurikulum 2013 yang bertujuan untuk menciptakan pendidikan yang lebih relevan dan dinamis sehingga membantu peserta didik untuk mengembangkan potensi dan minatnya secara optimal lagi. Kurikulum ini juga lebih relevan dengan kehidupan sehari-hari peserta didik, sehingga membantu mereka untuk memahami dan mengaplikasikan pengetahuannya dengan lebih baik.
A. Karakteristik Kurikulum Merdeka
1. Pengembangan Soft Skills dan Karakter
Pengembangan Soft Skills dan karakter melalui projek penguatan profil pelajar Pancasila. Projek penguatan profil pelajar Pancasila merupakan kegiatan kokurikuler yang memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk:
a. Mengeksplorasi ilmu pengetahuan, mengembangkan keterampilan menguatkan pengembangan enam dimensi profil pelajar Pancasila. Enam dimensi profil pelajar Pancasila yaitu: 1) Beriman, bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, 2) Mandiri, 3) Bergotong-royong, 4) Berkebinekaan global, 5) Bernalar kritis, dan 6) Kreatif.
b. Mempelajari secara mendalam tema-tema atau isu penting, seperti gaya hidup berkelanjutan, toleransi, Kesehatan mental, budaya, wirausaha, teknologi, dan kehidupan berdemokrasi.
c. Melakukan aksi nyata sebagai respon terhadap isu-isu tersebut sesuai dengan perkembangan dan tahapan belajar mereka.
2. Fokus pada Materi Esensial
Materi Esensial merupakan materi yang menjadi dasar untuk memahami konsep-konsep yang lebih kompleks. Kurikulum Merdeka fokus pada materi esensial, relevan, dan mendalam sehingga ada waktu yang cukup untuk membangun kreativitas dan inovasi peserta didik dalam mencapai kompetensi dasar seperti literasi dan numerisasi.
3. Pembelajaran lebih Fleksibel
Kurikulum Merdeka memberikan keleluasaan atau kebebasan bagi guru untuk melakukan pembelajaran yang sesuai dengan tahap capaian dan perkembangan masing-masing peserta didik dan melakukan penyesuaian dengan konteks muatan lokal. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
B. Dampak Positif penerapan Kurikulum Merdeka
Menurut Mendikbudristek, Nadiem Anwar Makarim mengungkapkan bahwa Kurikulum Merdeka hadir untuk mengurangi krisis pembelajaran di Indonesia. Penerapan Kurikulum Merdeka diharapkan berdampak pada terciptanya generasi yang adaptif yang mampu untuk bertahan dalam menghadapi perubahan zaman dengan kekuatan diri mereka sendiri, Hal ini juga di ungkapkan oleh Kepala Badan Standar, Kurikulum, Dan Asesmen Pendidikan (BSKAP), Anindito Aditomo bahwa Indonesia saat ini memerlukan Kurikulum yang bersifat adaptif karena Kurikulum yang bersifat adaptif mengedepankan karakter serta kompetensi yang mendasar pada peserta didik. Adapun dampak positif dari penerapan kurikulum Merdeka yakni:
1. Menciptakan ruang belajar yang positif
Implementasi Kurikulum Merdeka berfokus pada pembelajaran esensial dan sesuai dengan minat dan bakat peserta didik. Pembelajaran esensial menghasilkan interaksi yang membangun terbentuknya suatu ruang belajar yang positif, dimana Guru mengajarkan pada level yang tepat dan peserta didik mendapatkan ilmu pada level yang tepat juga.
2. Menghasilkan guru yang lebih Kompeten
Program penggerak merupakan bagian dari Upaya pemerintah untuk membentuk guru- guru yang lebih berkompeten dan bisa berkembang sesuai dengan zaman. Kurikulum Merdeka ini tidak hanya fokus pada peningkatan peserta didik saja, namun juga fokus pada pengembangan kompetensi guru.
3. Peningkatan Relevensi Pendidikan
Kurikulum Merdeka dirancang untuk mempersiapkan siswa dalam mengahadapi tantangan di masa depan. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan relevensi pendidikan agar membuat siswa lebih siap untuk memasuki dunia kerja atau melanjurkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
C. Tantangan Dalam Penerapan Kurikulum Merdeka
Tantangan dalam menerapkan Kurikulum Merdeka sangat beragam antara lain adalah kurangnya pemahaman dan kesiapan guru dalam mengajar dengan Kurikulum Merdeka, kurangnya kreativitas guru dalam penyampaian materi, kurangnya sarana dan prasarana yang memadai, serta kesulitan dalam mengatasi perbedaan kemampuan dan minat siswa.
Selain itu, ada tantangan dalam memastikan bahwa Kurikulum Merdeka dapat diakses oleh semua kalangan, termasuk anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah (tidak mampu) dan terpencil. Oleh sebab itu, diperlukan upaya untuk memberikan pelatihan dan pendampingan kepada guru dalam mengajar dengan menerapkan Kurikulum Merdeka, serta memastikan ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai untuk mendukung pembelajaran.
Kurikulum Merdeka memiliki beberapa keunggulan dibandingkan kurikulum sebelumnya. Keunggulan-keunggulan tersebut menjadikan kurikulum Merdeka sebagai peluang untuk mewujudkan Pendidikan yang relevan dan dinamis. Pendidikan yang relevan adalah pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan siswa. Sedangkan, Pendidikan yang dinamis adalah pendidikan yang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungan Masyarakat. Meskipun memiliki banyak keunggulan.Kurikulum Merdeka juga memiliki beberapa tantangan dalam implementasinya. Salah satunya yaitu masih rendahnya pemahaman guru dan kepala sekolah tentang kurikulum Merdeka. Guru dan Kepala sekolah masih perlu dampingan agar dapat menerapkan kurikulum Merdeka dengan baik. Kurangnya ketersediaan fasilitas belajar yang mendukung kurikulum Merdeka juga menjadi suatu tantangan pengimplementasiannya. Satauan pendidikan perlu melengkapi fasilitas belajar siswa agar mereka dapat melakukan pembelajaran sesuai dengan prinsip-prinsip pada kurikulum Merdeka belajar.



