JurnalPost.com – Seperti yang kita tahu masalah terbesar yaitu energi, di Era revolusi industri 5.0 diperlukan energi terbarukan yang dikembangkan untuk memaksimalkan potensi sumber daya yang ada di bumi ini. Diketahui Indonesia adalah negara kepulauan terbesar yang ada di dunia. Hal ini membuat Indonesia memiliki potensi hasil laut yang sangat banyak. Terlebih 30 persen dari 70 persen total perikanan di Kawasan Asia Pasifik berada di Indonesia.
Didukungnya dengan SDGs point 7 yaitu Energi Bersih dan Terjangkau, memastikan akses universal ke layanan energi yang terjangkau, dapat diandalkan, berkelanjutan, dan modern. Oleh karena itu, terdapat inovasi terbarukan yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut (PLTGL). Diperlukan lokasi yang strategis untuk mendirikan Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut (PLTGL). Daerah yang memiliki gelombang laut yang stabil dan tinggi dapat menjadi lokasi optimal untuk membangun fasilitas pembangkit listrik ini. Sebagai contoh, pantai-pantai yang memiliki arus laut yang kuat atau daerah perairan tertentu dengan perbedaan suhu yang signifikan dapat dijadikan sebagai tempat yang ideal untuk mengembangkan PLTGL. Namun, apakah pembangkit listrik tersebut efektif dari kaca mata Industri?
Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut (PLTGL) merupakan bentuk energi terbarukan yang menggunakan energi kinetik dari gelombang laut untuk menghasilkan listrik. Untuk mengevaluasi keefektifan PLTGL dari perspektif industri, beberapa faktor harus dipertimbangkan:
1. Ketersediaan Energi:
Keberhasilan PLTGL sangat bergantung pada keberadaan gelombang laut yang kuat dan konsisten. Lokasi dengan gelombang laut yang tinggi dan stabil lebih sesuai untuk penerapan PLTGL.
2. Biaya Investasi dan Operasional:
Proyek PLTGL melibatkan investasi yang signifikan dalam pembangunan dan operasional. Kelayakan ekonomi harus dipertimbangkan secara cermat untuk memastikan keberlanjutan proyek.
3. Dampak Lingkungan:
Meskipun dianggap sebagai sumber energi bersih, dampak lingkungan selama tahap konstruksi, operasi, dan pemeliharaan PLTGL perlu dievaluasi. Upaya mitigasi harus diterapkan untuk meminimalkan dampak tersebut.
4. Teknologi dan Inovasi:
Tingkat kematangan teknologi memengaruhi efektivitas PLTGL. Inovasi dalam desain dan teknologi dapat meningkatkan kinerja dan efisiensi operasional PLTGL.
5. Ketersediaan Teknologi Lain:
Efektivitas PLTGL perlu dibandingkan dengan teknologi energi terbarukan lainnya dan sumber energi konvensional. Analisis ini diperlukan untuk memastikan bahwa PLTGL merupakan pilihan terbaik dan efisien.
6. Ketahanan Terhadap Cuaca Buruk:
PLTGL harus dirancang dengan keberlanjutan operasional dalam kondisi cuaca buruk, seperti badai atau ombak besar. Desain yang tahan terhadap kondisi ekstrim akan meningkatkan kehandalan PLTGL.
Perlu diingat bahwa keefektifan PLTGL dapat bervariasi tergantung pada lokasi geografis dan kondisi lingkungan setempat. Sebelum mengimplementasikan PLTGL secara industri, evaluasi kelayakan yang komprehensif harus dilakukan, mencakup aspek teknis, ekonomis, dan lingkungan. Monitoring perkembangan terbaru dalam teknologi PLTGL juga penting untuk mengoptimalkan pemanfaatannya. Dapat disimpulkan Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut (PLTGL) memiliki potensi besar sebagai solusi berkelanjutan yang dapat berkontribusi signifikan dalam upaya diversifikasi sumber energi global.
Nasywa Almaas Khaliza
165221041 Teknik Industri Universitas Airlangga



