
JurnalPost.com – Rabu 27 september, UIN Gusdur Pekalongan mengajak mahasiswanya agar bisa bersosialisasi yang berlokasi di Desa Jolotigo Kecamatan Talun Kabupaten Pekalongan, untuk hidup berdampingan dan bergotong royong satu sama lain dengan menjalin komunkasi yang baik. Kegiatan awal mula kami mengunjungi Desa Jolotigo tepatnya Di Dukuh Purbo kami bersilaturahmi mempererat hubungan serta membahas moderasi agama dengan salah satu warga sekitar. Gotong royong merupakan sikap kekeluargaan antar masyarakat untuk saling bahu membahu dan saling bergandengan tangan, serta bukanlah sikap yang mementingkan pribadi atupun suatu kelompok masyarakat. Gotong royong menjadi suatu kegiatan yang tumbuh secara alami didalam masyarakat, sedangkan toleransi ialah rasa saling menghargai dan saling tolong menolong antar sesama masyarakat. Sikap gotong royong juga dapat terjalin dengan baik diantara umat beragama. Meskipun berbeda agama yang dianut oleh masing-masing masyarakat, namun dengan menumbuhkan sikap gotong royong serta rasa toleransi, dapat menjalin hubungan yang erat antar umat beragama, sebagaimana contohnya pada Desa Jolotigo ini.
Di Desa Jolotigo mayoritas penduduknya beragama kristen dan minoritas muslim. Walaupun mayoritas penduduknya kristen mereka sangat menjunjung tinggi kerukunan antar warganya. Terutama dalam bentuk gotong royong antar umat beragama yang tercerminkan dalam kegiatan-kegiatan masyarakat yang dikerjakan bersama secara aktual ditengah masyarakat. Contohnya membangun tempat ibadah, kerja bakti, saling menjaga keamanan. Dengan total warga 64 kepala rumah beragama islam dan 124 beragama kristen mereka tidak pernah mempermasalahkan perbedaan yang ada. Gotong royong itu sendiri telah menjadi kebiasaan yang tumbuh di tengah-tengah warga Dukuh Purbo Desa Jolotigo ini. “disini mereka yang beragama kristen sangat menghormati kami bahkan saat membangun atau merenovasi masjid umat agama kristen pun turut menyumbangkan tenaga mereka dan bergotong royong untuk ikut membangun masjid, begitupun sebaliknya. Kami tidak mempermasalahkan perbedaan yang ada yang penting kita tidak saling menganggu saling menghargai dan menghormati.” ujar Sudarti salah satu warga beragama islam. Sudarti juga menuturkan kehidupan beragama di Desa tersebut tidak pernah ada persoalan, terutama pada saat perayaan hari besar warga terbiasa bergotong royong dalam persiapan hari besar baik itu hari besar umat kristen ataupun umat islam.

Pada saat kegiatan-kegiatan tertentu mereka juga bergotong royong untuk mensukseskan kegiatan tersebut misalnya, pada 17 agustus mereka saling bergotong royong untuk mengadakan karnaval dan syukuran. Mereka berkumpul berdoa bersama dengan kepercayaan mereka masing-masing, kegiatan tersebut tidak memandang perbedaan yang ada. Dalam hal ini umat beragama di Dukuh Purbo ini akan semakin tumbuh dan memiliki rasa kekeluargaan yang sangat erat. Dengan adanya kegiatan gotong royong ini merupakan suatu program yang sangat positif serta berdampak bukan hanya dalam menciptakan kebersihan lingkungan, tetapi guna membina kerukunan antar umat beragama di wilayah Dukuh Purbo yang minoritasnya beragama islam. Dengan adanya gotong royong dan rasa toleransi antar umat beragama, maka mereka akan dijauhkan dari konflik antar umat beragama serta tidak menimbulkan keinginan untuk menciptakan kelompok ataupun pribadi-pribadi yang menolak keberagaman beragama. Melalui gotong royong dan toleransi ini, masyarakat indonesia khususnya bagi antar umat beragama dijauhkan dari pemikiran-pemikiran radikal dari agamanya masing-masing. Dengan tindakan tersebut bagi antar umat beragama, akan mencerminkan keaslian rakyat indonesia yang bersatu dalam kerukunan dan gotong royong sebagai pokok toleransi antar sesama.



