Mukhlis Ahmad Fadhillah, Esti Afna Amelia, Jesika Diah Ayu Safitri, Hidayatul Hasanah, Herawati Agustine, Ayu Sayidatul Islamiah
Excel Oka Jonanta, Sinta Meylani Putri, Kukuh Agil Wibowo, Nanda Nur Saputra, Silma Najmi Nurlatifah, Betania Elysia Hasna
Universitas Muhammadiyah Semarang, Semarang, Indonesia
Abstrak
Transformasi digital mendorong usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk tidak hanya hadir secara daring, tetapi juga memiliki identitas visual, informasi usaha, dan kanal promosi yang mudah ditemukan konsumen. Kegiatan pengabdian ini bertujuan mendeskripsikan pelaksanaan dan keluaran program optimalisasi digitalisasi dan branding UMKM oleh Kelompok KKN 43 Universitas Muhammadiyah Semarang di Desa Jeketro, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan. Metode yang digunakan adalah pengabdian deskriptif-partisipatif berbasis pelatihan, pendampingan, dan dokumentasi program selama 29 Juli–27 Agustus 2026. Pelatihan digitalisasi dilaksanakan pada 19 Agustus 2026 di Balai Desa Jeketro dan diikuti sekitar 20 peserta dari unsur pelaku UMKM, PKK, Karang Taruna, dan pemerintah desa. Materi mencakup Canva, Linktree, dan Google Merchant. Program branding dilengkapi dengan pemberian media promosi MMT kepada lima UMKM, pengecatan ulang dua tempat usaha, produksi video branding, serta pembuatan titik lokasi digital bagi UMKM sasaran. Hasil kegiatan menunjukkan terbentuknya keluaran awal berupa peningkatan paparan pengetahuan digital, identitas visual yang lebih jelas, materi promosi, dan aksesibilitas lokasi usaha. Namun, dokumentasi program belum memuat pengukuran kuantitatif perubahan omzet, jangkauan, atau kompetensi sebelum-sesudah kegiatan. Program ini menunjukkan bahwa integrasi branding fisik dan digital dapat menjadi langkah awal yang praktis bagi UMKM desa, dengan kebutuhan pendampingan lanjutan agar aset digital tetap diperbarui dan dikelola secara mandiri.
Kata kunci: digitalisasi UMKM; branding; pemasaran digital; KKN; Desa Jeketro
Abstract
Digital transformation requires micro, small, and medium enterprises (MSMEs) not only to be present online but also to develop recognizable visual identities, accurate business information, and promotional channels that are easy for consumers to find. This community service activity describes the implementation and outputs of an MSME digitalization and branding program conducted by the 43rd Community Service Program team of Universitas Muhammadiyah Semarang in Jeketro Village, Gubug District, Grobogan Regency. A descriptive-participatory approach was applied through training, mentoring, and program documentation during 29 July–27 August 2026. A digitalization training session was held on 19 August 2026 at Jeketro Village Hall, involving approximately 20 participants representing MSME owners, PKK members, youth organizations, and the village government. The materials covered Canva, Linktree, and Google Merchant. The branding activities were complemented by printed promotional media for five MSMEs, repainting of two business premises, production of branding videos, and creation of digital location points for targeted MSMEs. The activities generated initial outputs in the form of improved exposure to digital knowledge, clearer visual identities, promotional materials, and better business-location accessibility. Nevertheless, the available program documentation did not include quantitative measurements of revenue, digital reach, or pre- and post-training competencies. The program indicates that combining physical and digital branding can provide a practical entry point for village MSMEs, provided that follow-up mentoring supports the continued maintenance and independent management of digital assets.
Keywords: MSME digitalization; branding; digital marketing; community service; Jeketro Village
PENDAHULUAN
Transformasi digital telah mengubah cara usaha skala kecil membangun hubungan dengan konsumen, menyampaikan informasi produk, dan membentuk citra usaha. Bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), digitalisasi tidak selalu harus dimulai dari sistem teknologi yang kompleks. Langkah dasar seperti memiliki informasi lokasi yang akurat di mesin pencari, materi promosi visual yang konsisten, kanal kontak yang mudah diakses, serta kemampuan membuat konten secara mandiri dapat menjadi fondasi penting untuk memperluas visibilitas usaha. Perspektif ini relevan bagi UMKM desa yang umumnya memiliki sumber daya terbatas, tetapi dekat dengan konsumen lokal dan memiliki produk yang dapat dikembangkan melalui kombinasi pemasaran luring dan daring.
Konteks nasional menunjukkan bahwa transformasi digital UMKM bukan isu marginal. Publikasi Statistik E-Commerce 2024 mencatat bahwa usaha e-commerce di Indonesia didominasi UMKM sebesar 96,91 persen, sementara jumlah usaha e-commerce pada 2024 meningkat 15,30 persen dibandingkan tahun sebelumnya (Badan Pusat Statistik [BPS], 2025). Angka tersebut memperlihatkan bahwa pelaku usaha kecil merupakan aktor utama dalam ekonomi digital Indonesia. Pada saat yang sama, tingginya proporsi UMKM dalam ekosistem e-commerce tidak otomatis berarti bahwa seluruh pelaku memiliki tingkat kemampuan digital yang sama. OECD (2021) menekankan bahwa usaha kecil cenderung tertinggal dalam adopsi teknologi dibandingkan perusahaan yang lebih besar karena keterbatasan sumber daya, keterampilan, dan kapasitas organisasi. Dengan demikian, agenda digitalisasi UMKM perlu diterjemahkan menjadi intervensi yang mudah dipahami, terjangkau, dan dapat langsung dipraktikkan.
Studi mengenai UMKM Indonesia juga menunjukkan bahwa adopsi teknologi digital berkembang secara bertahap. Rahayu dan Day (2017), melalui survei terhadap 292 UMKM di Indonesia, menemukan bahwa sebagian besar responden masih berada pada tahap awal adopsi e-commerce dan pemanfaatannya banyak diarahkan untuk aktivitas pemasaran. Meskipun demikian, manfaat yang dirasakan mencakup perluasan jangkauan pasar, perbaikan komunikasi eksternal, peningkatan citra perusahaan, dan peningkatan penjualan. Temuan tersebut menegaskan bahwa digitalisasi memiliki potensi ekonomi, tetapi tingkat manfaat sangat dipengaruhi oleh kedalaman adopsi dan kemampuan pelaku usaha dalam mengelola teknologi secara berkelanjutan.
Pada level praktik pengabdian masyarakat, pelatihan digital marketing terbukti menjadi salah satu pintu masuk yang relevan untuk meningkatkan keterampilan dasar pelaku UMKM. Purwana et al. (2017) menunjukkan bahwa pelatihan yang menggabungkan penjelasan, diskusi, dan praktik langsung dapat mendorong ketertarikan pelaku UMKM untuk menggunakan media sosial secara lebih aktif sebagai sarana promosi. Febriyantoro dan Arisandi (2018) juga mencatat bahwa digital marketing memudahkan pelaku UMKM menyampaikan informasi, berinteraksi dengan konsumen, memperluas pangsa pasar, dan meningkatkan kesadaran terhadap produk. Kedua penelitian tersebut memberi dasar bahwa kegiatan digitalisasi sebaiknya tidak berhenti pada penyampaian teori, melainkan perlu memberi pengalaman penggunaan alat yang sederhana dan relevan dengan kebutuhan sehari-hari.
Selain aspek digital marketing, branding memiliki peran penting karena konsumen tidak hanya berhadapan dengan produk, tetapi juga dengan identitas, kesan, dan konsistensi pengalaman. Keller (2013) menjelaskan bahwa kekuatan merek dibangun melalui struktur pengetahuan konsumen mengenai merek, termasuk kemampuan konsumen mengenali dan mengingat identitasnya. Kotler dan Keller (2016) memandang merek sebagai instrumen diferensiasi yang membantu konsumen mengidentifikasi sumber produk sekaligus membedakan penawaran satu pelaku usaha dengan yang lain. Dalam konteks UMKM desa, konsep tersebut dapat diterapkan dalam bentuk sederhana seperti nama usaha yang terlihat jelas, warna dan tampilan tempat usaha yang lebih terawat, banner atau media promosi yang informatif, foto produk yang konsisten, serta penggunaan desain yang mudah dikenali di media sosial.
Canva menjadi salah satu aplikasi yang relevan untuk konteks tersebut karena menyediakan antarmuka desain yang relatif mudah dipelajari oleh pengguna non-desainer. Studi pengabdian terbaru menunjukkan bahwa pelatihan Canva dapat membantu peserta menghasilkan materi promosi secara lebih terstruktur dan menarik. Hasanah et al. (2025) melaporkan peningkatan keterampilan desain grafis digital pada kegiatan pelatihan Canva bagi UMKM dan Karang Taruna, sedangkan Supardi et al. (2026) menemukan respons positif peserta terhadap kemudahan penggunaan Canva untuk branding visual. Putrawangsa et al. (2026) juga menunjukkan bahwa pelatihan Canva yang disertai praktik dapat meningkatkan kemampuan peserta dalam membuat materi promosi seperti logo, poster, dan brosur. Temuan-temuan ini menguatkan pilihan Canva sebagai alat pengembangan kapasitas yang sesuai untuk pelatihan dasar digitalisasi UMKM.
Aspek lain yang sering luput dari program branding adalah keterhubungan informasi. Pelaku UMKM dapat memiliki beberapa kanal sekaligus—misalnya WhatsApp, Instagram, katalog produk, lokasi Google Maps, atau marketplace—tetapi konsumen akan kesulitan jika seluruh tautan tersebar. Layanan link-in-bio seperti Linktree dirancang untuk menggabungkan beberapa tautan penting dalam satu halaman yang dapat diakses melalui satu URL (Linktree, n.d.). Dalam praktik UMKM, fungsi ini dapat digunakan untuk menyederhanakan perjalanan konsumen dari tahap menemukan usaha hingga menghubungi penjual atau membuka katalog. Prinsip dasarnya adalah mengurangi friksi informasi: semakin sedikit langkah yang diperlukan konsumen untuk menemukan lokasi, nomor kontak, produk, dan kanal pembelian, semakin baik kualitas pengalaman digital yang diberikan usaha.
Visibilitas lokasi juga menjadi elemen penting, terutama untuk usaha kuliner dan perdagangan yang bergantung pada kunjungan fisik. Google menjelaskan bahwa Business Profile yang ditambahkan dan diverifikasi memungkinkan informasi usaha tampil pada Google Search dan Maps, termasuk lokasi, jam operasional, nomor telepon, foto, serta interaksi ulasan (Google, n.d.-a). Penelitian pengabdian di Indonesia mendukung kegunaan pendekatan tersebut. Ramdhani Sucipto et al. (2025) menunjukkan bahwa pelatihan pemanfaatan Google Maps dan media sosial dapat meningkatkan pemahaman peserta terhadap platform digital dan mendorong pembuatan titik usaha. Dengan demikian, pencantuman lokasi digital bukan sekadar fungsi navigasi, tetapi bagian dari strategi agar usaha dapat ditemukan melalui pencarian lokal.
Untuk usaha yang memiliki produk dan ingin memperluas eksposur di ekosistem Google, Google Merchant Center dapat menjadi tahap lanjutan. Merchant Center memungkinkan pengelolaan informasi produk dan, apabila memenuhi persyaratan, produk dapat berpeluang tampil secara gratis pada berbagai layanan Google seperti Search, Maps, Shopping, Images, dan platform lain (Google, n.d.-b). Dalam pelatihan tingkat desa, pengenalan Merchant Center perlu ditempatkan sebagai literasi awal, sebab keberhasilannya bergantung pada kelengkapan informasi produk, kualitas data, serta kesiapan kanal transaksi. Oleh karena itu, pelatihan sebaiknya membantu peserta memahami fungsi platform tanpa menimbulkan kesan bahwa sekadar membuat akun otomatis menghasilkan peningkatan penjualan.
Desa Jeketro merupakan salah satu desa di Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan. Data Kecamatan Gubug Dalam Angka 2025 mencatat luas Jeketro sekitar 2,71 km² dengan jumlah penduduk 3.311 jiwa pada 2024, terdiri atas 1.669 laki-laki dan 1.642 perempuan (BPS Kabupaten Grobogan, 2025). Skala wilayah dan populasi tersebut menunjukkan karakter pasar lokal yang cukup jelas: usaha desa memiliki basis konsumen sekitar, tetapi tetap memiliki peluang menjangkau konsumen di luar desa melalui pencarian digital dan media sosial. Dalam kondisi seperti ini, penguatan branding fisik dan digital dapat dipandang sebagai dua sisi yang saling melengkapi. Branding fisik membantu usaha terlihat dan dikenali di lingkungan sekitar, sementara digitalisasi memperluas titik temu antara konsumen dan usaha di ruang daring.
Kelompok KKN 43 Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) melaksanakan rangkaian Kuliah Kerja Nyata di Desa Jeketro pada 29 Juli–27 Agustus 2026. Salah satu program kerja kelompok berfokus pada optimalisasi digitalisasi dan branding UMKM. Program ini tidak hanya berupa pelatihan aplikasi, tetapi juga intervensi visual pada usaha yang menjadi sasaran. Pada 19 Agustus 2026, tim menyelenggarakan Pelatihan Digitalisasi di Balai Desa Jeketro yang diikuti sekitar 20 peserta dari unsur pelaku UMKM, PKK, Karang Taruna, dan pemerintah desa. Materi pelatihan meliputi Canva, Linktree, dan Google Merchant. Sementara itu, program branding mencakup pemberian media promosi MMT kepada lima UMKM, pengecatan ulang pada dua UMKM yaitu Mie Ayam Sido Mampir dan Warung Numani, produksi video branding, serta pembuatan titik lokasi digital bagi UMKM sasaran.
Karakter program tersebut menarik untuk dikaji karena menggabungkan tiga lapisan intervensi sekaligus, yaitu kapasitas manusia, identitas visual, dan visibilitas digital. Banyak kegiatan pengabdian berfokus hanya pada satu alat, misalnya pelatihan desain atau pembuatan akun media sosial. Pendekatan KKN 43 UNIMUS berupaya menghubungkan keterampilan digital dengan perbaikan tampilan usaha dan kemudahan ditemukan secara daring. Artikel ini bertujuan mendeskripsikan pelaksanaan, keluaran, dan relevansi program optimalisasi digitalisasi dan branding UMKM Desa Jeketro berdasarkan dokumentasi kegiatan serta dikaitkan dengan riset dan sumber tepercaya mengenai digitalisasi UMKM. Artikel juga mengidentifikasi keterbatasan program dan menyusun rekomendasi keberlanjutan yang realistis tanpa mengklaim dampak ekonomi yang belum diukur.
METODE
Kegiatan ini menggunakan pendekatan pengabdian masyarakat deskriptif-partisipatif. Istilah deskriptif digunakan karena artikel berfokus pada pemaparan proses, keluaran kegiatan, dan interpretasi terhadap relevansinya bagi penguatan UMKM, bukan pada pengujian hipotesis atau pengukuran kausal. Pendekatan partisipatif terlihat pada pelibatan warga dan pelaku usaha dalam pelatihan, diskusi, praktik penggunaan platform, serta keterlibatan langsung dalam kegiatan branding fisik. Model seperti ini sesuai dengan karakter pengabdian berbasis KKN karena mahasiswa berfungsi sebagai fasilitator yang membawa pengetahuan dan tenaga pendampingan, sedangkan pemilik usaha serta masyarakat menjadi pihak yang menentukan penggunaan hasil program dalam kegiatan sehari-hari.
Lokasi kegiatan adalah Desa Jeketro, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Rangkaian KKN 43 UNIMUS berlangsung pada 29 Juli–27 Agustus 2026. Pelatihan digitalisasi dilaksanakan pada Rabu, 19 Agustus 2026, mulai pukul 18.00 WIB di Balai Desa Jeketro. Peserta berjumlah sekitar 20 orang yang berasal dari pelaku UMKM, anggota PKK, Karang Taruna, dan Pemerintah Desa Jeketro. Komposisi peserta yang lintas unsur dipertahankan karena digitalisasi tidak hanya relevan bagi pelaku usaha; organisasi masyarakat dan pemerintah desa juga memiliki kebutuhan membuat materi informasi, mengelola tautan, dan menyebarluaskan kegiatan desa.
Program dilaksanakan melalui empat tahapan utama. Tahap pertama adalah identifikasi kebutuhan dan pemetaan sasaran berdasarkan kondisi yang ditemukan selama KKN. Dokumentasi program menunjukkan adanya UMKM yang belum memiliki branding visual memadai dan membutuhkan media penanda usaha yang lebih jelas. Pada tahap ini, tim menentukan sasaran penerima media promosi serta usaha yang memerlukan pembenahan tampilan. Identifikasi bersifat praktis dan berbasis observasi lapangan; dokumentasi yang tersedia tidak memuat instrumen survei kebutuhan terstruktur, sehingga artikel ini tidak menafsirkan tahapan tersebut sebagai asesmen kuantitatif.
Tahap kedua adalah penguatan kapasitas digital melalui pelatihan. Materi pertama, Canva, diarahkan pada pengenalan pembuatan desain sederhana untuk promosi dan informasi. Materi kedua, Linktree, memperkenalkan cara menggabungkan beberapa tautan penting ke satu halaman agar konsumen atau warga dapat mengakses kanal terkait secara lebih mudah. Materi ketiga, Google Merchant, memperkenalkan fungsi pengelolaan informasi produk dalam ekosistem Google. Materi disampaikan dengan bahasa sederhana untuk mengakomodasi perbedaan tingkat pemahaman teknologi peserta. Pola penyampaian tersebut sejalan dengan prinsip pelatihan digital dasar yang menempatkan kemudahan, demonstrasi, dan relevansi sebagai faktor penting bagi penerimaan peserta (Purwana et al., 2017; Supardi et al., 2026).
Tahap ketiga adalah penguatan branding fisik dan digital pada UMKM sasaran. Intervensi fisik berupa pemberian media promosi MMT kepada lima UMKM dan pengecatan ulang pada dua tempat usaha, yakni Mie Ayam Sido Mampir dan Warung Numani. Intervensi digital meliputi produksi video branding yang direncanakan untuk disebarluaskan melalui media sosial serta pembuatan titik lokasi di Google Maps bagi UMKM sasaran. Tahap ini dirancang agar pelatihan tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi memiliki keluaran yang dapat langsung dilihat dan digunakan. Dalam kerangka branding, perbaikan tampilan fisik dan media penanda membantu meningkatkan keterbacaan identitas usaha, sedangkan video dan lokasi digital mendukung keterjangkauan informasi di luar titik penjualan.
Tahap keempat adalah dokumentasi dan evaluasi keluaran. Sumber data primer artikel terdiri atas dokumen program kerja Kelompok KKN 43, naskah dokumentasi Pelatihan Digitalisasi, naskah Branding UMKM, foto kegiatan, dan keluaran program yang tercatat dalam dokumentasi. Data sekunder diperoleh dari publikasi BPS, laporan OECD, artikel jurnal, buku pemasaran, serta dokumentasi resmi platform digital yang relevan. Analisis dilakukan secara deskriptif dengan cara mengelompokkan kegiatan ke dalam kategori peningkatan kapasitas digital, penguatan identitas visual, peningkatan visibilitas lokasi, dan integrasi kanal promosi. Setiap kategori kemudian dibandingkan dengan temuan literatur untuk menilai relevansi pendekatan dan merumuskan tindak lanjut.
Indikator keberhasilan dalam artikel ini dibatasi pada indikator proses dan keluaran langsung. Indikator tersebut meliputi terselenggaranya pelatihan, keterlibatan peserta lintas unsur, tersedianya media promosi MMT, terlaksananya pengecatan ulang pada usaha sasaran, tersedianya video branding, dan terbentuknya titik lokasi digital. Dokumentasi program yang menjadi dasar penulisan tidak memuat data pre-test dan post-test, analitik jangkauan media sosial, jumlah pencarian Google Maps, perubahan jumlah transaksi, ataupun perubahan omzet sebelum dan sesudah kegiatan. Karena itu, artikel tidak menyatakan bahwa program telah meningkatkan penjualan atau pendapatan. Pemisahan antara keluaran dan dampak ini penting agar evaluasi tetap proporsional dan dapat menjadi dasar bagi pengukuran lanjutan pada program berikutnya.
Dalam penyajian hasil, foto kegiatan digunakan sebagai dokumentasi visual. Foto pertama menampilkan peserta dan mahasiswa setelah pelaksanaan kegiatan di Balai Desa Jeketro, sedangkan foto kedua memperlihatkan salah satu UMKM sasaran, Mie Ayam Sido Mampir, setelah dilakukan penguatan tampilan usaha dan pemasangan media promosi. Foto digunakan untuk memperkuat konteks pelaksanaan, bukan sebagai bukti tunggal keberhasilan. Analisis keberlanjutan disusun dengan mempertimbangkan bahwa aset digital memerlukan pembaruan berkala dan pengalihan pengelolaan kepada pemilik usaha setelah masa KKN berakhir.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pelatihan Digitalisasi sebagai Fondasi Kapasitas Masyarakat
Pelatihan Digitalisasi pada 19 Agustus 2026 menjadi titik temu antara penguatan literasi digital dan kebutuhan praktis warga. Kegiatan di Balai Desa Jeketro dimulai pukul 18.00 WIB dan melibatkan sekitar 20 peserta dari pelaku UMKM, PKK, Karang Taruna, serta pemerintah desa. Komposisi tersebut memberi nilai tambah karena penggunaan teknologi digital di tingkat desa tidak berdiri sendiri. Pelaku UMKM membutuhkan alat untuk promosi dan penjualan, PKK dan Karang Taruna dapat berperan sebagai penggerak konten serta pendamping, sementara pemerintah desa dapat membantu diseminasi informasi dan membangun ekosistem dukungan. Dengan kata lain, kegiatan tidak hanya membangun keterampilan individual, tetapi juga membuka peluang pembentukan jejaring bantuan lokal setelah mahasiswa selesai KKN.
Pemilihan materi Canva, Linktree, dan Google Merchant menunjukkan orientasi pada tiga persoalan berbeda. Canva menjawab kebutuhan produksi konten; Linktree menjawab kebutuhan konsolidasi akses informasi; sedangkan Google Merchant memperkenalkan cara produk dapat dikelola agar terhubung dengan ekosistem pencarian dan belanja digital. Pembagian ini penting karena digitalisasi UMKM sering dipersepsikan semata-mata sebagai membuat akun media sosial. Padahal, strategi digital yang efektif membutuhkan kombinasi antara konten, akses, data usaha, dan konsistensi pengelolaan (Chaffey & Ellis-Chadwick, 2019).
Dari sisi pedagogis, penggunaan bahasa sederhana dan pemaparan langsung merupakan keputusan yang tepat untuk kelompok peserta dengan tingkat literasi digital yang beragam. Program pengabdian sejenis menunjukkan bahwa model hands-on training dan pendampingan lebih sesuai dibandingkan ceramah satu arah. Supardi et al. (2026), misalnya, menemukan tingkat penerimaan yang tinggi terhadap pelatihan Canva ketika peserta mendapat demonstrasi dan praktik. Hasanah et al. (2025) juga menunjukkan bahwa pelibatan UMKM dan Karang Taruna dapat memperluas kapasitas digital komunitas. Temuan tersebut tidak dapat langsung disamakan dengan hasil Jeketro karena metode evaluasinya berbeda, tetapi memberi dasar bahwa struktur kegiatan KKN 43 berada pada arah yang tepat.
Hal yang perlu dicatat adalah bahwa dokumentasi program belum mencantumkan hasil pengukuran kompetensi peserta sebelum dan sesudah pelatihan. Oleh sebab itu, hasil yang dapat dipastikan adalah keterpaparan peserta terhadap materi dan terlaksananya proses pengenalan, bukan besarnya peningkatan keterampilan. Perbedaan ini penting dalam artikel ilmiah pengabdian. Klaim bahwa peserta ‘memahami’ atau ‘menguasai’ aplikasi sebaiknya dibuktikan dengan tugas praktik, rubrik penilaian, atau pre-test dan post-test. Pada program lanjutan, tim dapat menggunakan indikator sederhana seperti kemampuan peserta membuat satu poster sendiri, menambahkan tiga tautan ke Linktree, memperbarui lokasi usaha, atau memasukkan satu produk ke katalog digital. Indikator berbasis tugas lebih mudah diterapkan daripada tes teoritis dan lebih dekat dengan kebutuhan UMKM.

Sumber: Dokumentasi KKN 43 UNIMUS (2026).
Canva dan Penguatan Identitas Visual
Canva dipilih sebagai salah satu materi karena hambatan desain pada UMKM sering kali bukan ketiadaan ide, melainkan keterbatasan keterampilan teknis dan biaya untuk menggunakan jasa profesional secara rutin. Melalui template dan sistem drag-and-drop, Canva memungkinkan pelaku usaha membuat poster, katalog sederhana, daftar harga, konten media sosial, atau pengumuman tanpa harus menguasai perangkat lunak desain profesional. Nilai strategisnya terletak pada kemandirian: setelah memahami prinsip dasar, pelaku usaha dapat memperbarui harga, menu, promo, dan informasi kontak tanpa menunggu pihak lain.
Namun, kemampuan menggunakan aplikasi belum otomatis menghasilkan branding yang baik. Keller (2013) menekankan pentingnya salience dan struktur identitas yang mudah dikenali. Karena itu, penggunaan Canva perlu diikuti aturan sederhana, misalnya penggunaan nama usaha yang konsisten, pemilihan dua atau tiga warna utama, penggunaan foto produk yang jelas, penempatan nomor kontak yang mudah dibaca, serta gaya desain yang tidak berubah drastis pada setiap unggahan. Tanpa konsistensi, UMKM dapat menghasilkan banyak konten tetapi tetap sulit membangun ingatan merek.
Dalam konteks Jeketro, pelatihan Canva memiliki hubungan langsung dengan program branding fisik. Media promosi MMT yang diberikan kepada lima UMKM berfungsi sebagai identitas yang terlihat di lokasi usaha, sedangkan Canva dapat menjadi sarana untuk meneruskan identitas tersebut ke media digital. Konsep ini dapat disebut sebagai konsistensi lintas kanal: warna, nama, foto, dan pesan yang digunakan pada banner sebaiknya sejalan dengan konten di WhatsApp, Instagram, katalog, maupun video. Kotler dan Keller (2016) menjelaskan bahwa diferensiasi dan konsistensi membantu merek membangun posisi yang lebih jelas di benak konsumen. Pada skala mikro, prinsip ini tidak membutuhkan pedoman merek puluhan halaman; satu lembar panduan visual sederhana pun dapat cukup.
Riset pengabdian terbaru mendukung penggunaan Canva sebagai alat peningkatan kapasitas. Putrawangsa et al. (2026) melaporkan peningkatan kemampuan peserta dalam pembuatan materi promosi visual setelah pelatihan, sedangkan Supardi et al. (2026) menunjukkan bahwa peserta UMKM menilai Canva mudah digunakan dan membantu pembuatan desain promosi. Perbandingan ini memberi dua pelajaran untuk pengembangan program Jeketro. Pertama, pelatihan perlu berorientasi pada keluaran konkret, misalnya setiap peserta menyelesaikan satu desain yang dapat langsung dipakai. Kedua, pendampingan pascapelatihan penting karena keterampilan desain akan cepat menurun jika tidak dipraktikkan secara rutin.
Salah satu bentuk tindak lanjut yang realistis adalah membentuk folder template bersama berisi desain dasar untuk promosi produk, pengumuman harga, ucapan hari besar, dan informasi lokasi. Pemilik UMKM cukup mengganti foto dan teks tanpa mengubah struktur utama. Dengan pendekatan ini, waktu produksi konten berkurang dan konsistensi merek lebih mudah dijaga. Karang Taruna atau kader desa yang lebih terbiasa menggunakan gawai dapat menjadi mitra pendamping bagi pelaku usaha yang masih mengalami kesulitan teknis.
Linktree sebagai Penghubung Kanal Digital
Materi Linktree menambahkan dimensi penting dalam strategi digital, yaitu penyederhanaan akses. Dalam praktik, pelaku UMKM sering memiliki nomor WhatsApp, akun Instagram, lokasi Google Maps, menu digital, marketplace, dan tautan pembayaran yang berbeda. Jika seluruh tautan dituliskan terpisah, konsumen harus memilih dan mencari secara manual. Linktree menyediakan satu halaman yang dapat memuat beberapa tautan penting dan ditempatkan pada profil media sosial atau dibagikan melalui pesan (Linktree, n.d.). Bagi UMKM, fungsi tersebut lebih penting daripada tampilan estetik: konsumen dapat bergerak dari satu titik informasi ke titik lain dengan lebih sedikit hambatan.
Agar efektif, halaman tautan tidak sebaiknya diisi terlalu banyak pilihan. Prinsip prioritas dapat diterapkan dengan menempatkan tindakan yang paling penting di bagian atas, misalnya ‘Pesan via WhatsApp’, ‘Lihat Lokasi’, ‘Lihat Menu/Katalog’, dan ‘Instagram’. Urutan tersebut menyesuaikan perilaku konsumen lokal yang cenderung membutuhkan kontak cepat dan petunjuk lokasi. Bila UMKM memiliki marketplace, tautan dapat ditambahkan setelah kanal utama. Konsep ini sejalan dengan pendekatan digital marketing yang menekankan pengelolaan customer journey, yaitu memastikan konsumen dapat bergerak dari awareness ke tindakan dengan friksi yang minimal (Chaffey & Ellis-Chadwick, 2019).
Penggunaan Linktree juga dapat diintegrasikan dengan media promosi fisik. QR code yang mengarah ke halaman tautan dapat ditempatkan pada banner MMT, kemasan, kartu nama, atau meja penjualan. Dengan demikian, media fisik tidak berhenti sebagai penanda lokasi, tetapi menjadi jembatan menuju ekosistem digital. Strategi ini relevan bagi desa karena konsumen dapat melihat usaha secara langsung lalu memindai tautan untuk menyimpan kontak, memeriksa menu, atau membagikan lokasi kepada orang lain. Untuk keberlanjutan, pemilik usaha perlu memegang akses akun dan memahami cara mengganti tautan jika nomor WhatsApp atau kanal penjualan berubah.
Risiko utama penggunaan layanan link-in-bio adalah ketergantungan pada pihak ketiga. Karena itu, informasi paling penting—nama usaha, nomor kontak, alamat, dan lokasi—sebaiknya tetap tersedia pada Google Business Profile atau kanal yang dikuasai pemilik. Linktree dapat berfungsi sebagai agregator, bukan satu-satunya sumber informasi. Prinsip ini juga mengurangi risiko apabila suatu layanan mengalami perubahan kebijakan atau tidak lagi digunakan oleh pelaku usaha.
Google Maps dan Google Merchant untuk Visibilitas Usaha
Pembuatan titik lokasi digital bagi UMKM sasaran merupakan salah satu keluaran yang paling relevan untuk usaha berbasis kunjungan fisik. Mie ayam, warung, dan usaha lokal lainnya sangat bergantung pada kemampuan konsumen menemukan tempat dengan cepat. Google menyatakan bahwa Business Profile yang ditambahkan dan diverifikasi memungkinkan pemilik mengelola cara informasi usaha muncul di Search dan Maps, termasuk alamat, jam operasional, nomor telepon, foto, dan tautan (Google, n.d.-a). Dari sudut pandang pemasaran lokal, informasi tersebut berfungsi sebagai ‘etalase digital’ yang muncul saat konsumen memiliki niat pencarian tinggi, misalnya ketika mencari makanan atau toko di sekitar lokasi.
Program KKN 43 telah membuat titik lokasi di Google Maps bagi UMKM sasaran. Langkah ini sejalan dengan hasil Ramdhani Sucipto et al. (2025) yang menunjukkan bahwa pelatihan Google Maps dapat mendorong pelaku UMKM membuat dan memanfaatkan lokasi digital. Namun, pembuatan titik lokasi sebaiknya dilanjutkan dengan proses klaim dan verifikasi Business Profile oleh pemilik usaha. Tanpa pengalihan kepemilikan, pembaruan informasi dapat bergantung pada akun mahasiswa atau pihak lain. Dari perspektif tata kelola, keberlanjutan digital lebih penting daripada sekadar keberadaan titik awal.
Setelah profil diklaim, pemilik dapat memperkuat visibilitas dengan memastikan nama usaha konsisten, kategori bisnis tepat, jam operasional akurat, nomor telepon aktif, dan foto terkini. Untuk UMKM kuliner, foto depan tempat usaha, foto menu, dan foto produk merupakan konten dasar yang membantu konsumen mengenali lokasi sebelum berkunjung. Pemilik juga dapat menanggapi ulasan secara sopan dan faktual. Aktivitas sederhana tersebut berkontribusi pada kualitas informasi yang dilihat konsumen dan membangun kepercayaan.
Pengenalan Google Merchant dalam pelatihan memiliki fungsi yang berbeda tetapi melengkapi visibilitas lokasi. Merchant Center berfokus pada pengelolaan data produk. Google menjelaskan bahwa produk yang memenuhi persyaratan dapat berpeluang tampil secara gratis pada berbagai permukaan Google, tetapi penayangan tidak dijamin dan bergantung pada data yang diberikan serta relevansi pencarian (Google, n.d.-b). Bagi UMKM Jeketro, materi ini bermanfaat sebagai literasi tahap lanjut. Namun, penerapannya perlu disesuaikan dengan kesiapan tiap usaha. Usaha yang belum memiliki foto produk, harga yang konsisten, atau kanal transaksi sebaiknya terlebih dahulu memperbaiki fondasi tersebut sebelum mengoptimalkan katalog produk di Merchant Center.
Urutan pengembangan yang lebih realistis untuk UMKM desa adalah: memastikan identitas dan informasi dasar, membuat lokasi digital, menyediakan kontak pemesanan, membangun konten visual, lalu mengembangkan katalog produk. Tahapan ini membantu pelaku usaha menghindari beban pengelolaan terlalu banyak platform sekaligus. OECD (2021) mengingatkan bahwa keterbatasan kemampuan dan sumber daya membuat usaha kecil lebih rentan mengalami kesenjangan adopsi digital. Dengan pendekatan bertahap, setiap alat dipilih berdasarkan manfaat langsung dan kapasitas pemilik untuk merawatnya.
Branding Fisik melalui MMT dan Pembenahan Tempat Usaha
Program Branding UMKM KKN 43 tidak hanya bergerak di ranah digital. Tim memberikan media promosi MMT kepada lima UMKM dan melakukan pengecatan ulang pada dua usaha, yaitu Mie Ayam Sido Mampir dan Warung Numani. Intervensi semacam ini memiliki nilai penting karena branding usaha lokal dimulai dari apa yang dilihat konsumen di lokasi. Tempat usaha yang bersih, warna yang lebih terawat, serta penanda yang jelas dapat meningkatkan keterbacaan identitas dan membuat konsumen lebih mudah membedakan satu usaha dari usaha lain.
Pemberian MMT dapat dipahami sebagai upaya memperkuat brand salience pada lingkungan fisik. Nama usaha yang sebelumnya kurang terlihat menjadi lebih mudah dikenali oleh warga dan pengunjung. Dalam desain MMT, aspek yang paling penting bukan banyaknya informasi, melainkan hierarki pesan. Nama usaha, jenis produk, kontak, dan elemen visual utama perlu terbaca dari jarak yang wajar. Jika media promosi terlalu padat, fungsi penanda justru berkurang. Karena itu, penguatan branding berikutnya dapat menggunakan pedoman sederhana terkait ukuran huruf, kontras, konsistensi warna, dan penggunaan foto produk.
Pengecatan ulang pada Mie Ayam Sido Mampir dan Warung Numani juga menunjukkan bahwa pengalaman merek memiliki dimensi lingkungan. Kotler dan Keller (2016) menegaskan bahwa titik kontak merek berkontribusi pada persepsi konsumen. Bagi UMKM kecil, titik kontak tersebut dapat berupa tampilan kios, kebersihan, banner, kemasan, cara penyajian, dan interaksi pemilik. Perubahan cat tidak dapat secara otomatis diasumsikan meningkatkan penjualan, tetapi dapat meningkatkan kesiapan visual usaha untuk dipotret, direkam, dan dipromosikan secara digital. Dengan demikian, intervensi fisik mendukung produksi konten digital yang lebih menarik.
Foto dokumentasi pada Mie Ayam Sido Mampir memperlihatkan sinergi tersebut: media promosi terpasang pada kios yang telah memperoleh pembaruan tampilan, sementara mahasiswa dan pemilik usaha hadir bersama di lokasi. Dokumentasi ini mencerminkan model pendampingan yang bersifat kolaboratif. Nilai program tidak hanya terletak pada barang yang diberikan, tetapi juga pada proses interaksi dan penguatan rasa memiliki. Aset branding akan lebih mungkin dipertahankan jika pemilik merasa terlibat dalam proses dan memahami tujuan penggunaannya.
Untuk keberlanjutan, MMT sebaiknya tidak dipandang sebagai produk akhir. Media fisik dapat diperbarui jika harga, nomor kontak, atau produk unggulan berubah. File desain sumber perlu diserahkan kepada pemilik atau pemerintah desa agar dapat dicetak ulang. Langkah kecil seperti menyimpan file Canva di akun pemilik usaha akan mencegah ketergantungan kepada mahasiswa setelah masa KKN selesai.

Sumber: Dokumentasi KKN 43 UNIMUS (2026).
Video Branding dan Integrasi Lintas Kanal
Produksi video branding memperluas program dari identitas statis menuju storytelling. Video memungkinkan UMKM menampilkan proses pembuatan produk, suasana tempat usaha, menu unggulan, testimoni, atau cerita pemilik secara lebih hidup. Dalam lanskap media sosial yang berbasis visual, video pendek dapat digunakan untuk memperkenalkan usaha kepada audiens di luar desa. Namun, efektivitas video sangat bergantung pada distribusi dan konsistensi, bukan hanya kualitas satu konten. Video yang bagus tetapi hanya diunggah sekali tanpa pengelolaan kanal cenderung memiliki umur promosi yang pendek.
Strategi konten yang sederhana dapat dibangun melalui tiga pilar: produk, manusia, dan lokasi. Konten produk menampilkan menu atau barang yang dijual; konten manusia memperlihatkan pemilik, proses, atau cerita usaha; konten lokasi memudahkan konsumen mengenali tempat dan rute. Kombinasi ini membantu usaha membangun keaslian sekaligus informasi praktis. Febriyantoro dan Arisandi (2018) menekankan bahwa digital marketing memudahkan UMKM berinteraksi langsung dengan konsumen dan memperluas awareness. Video branding dapat mendukung fungsi tersebut jika selalu disertai ajakan tindakan yang jelas, misalnya nomor WhatsApp atau tautan lokasi.
Berdasarkan rangkaian program, integrasi branding UMKM Jeketro dapat dirumuskan sebagai alur empat tahap: dikenali, ditemukan, dipahami, dan dihubungi. Dikenali berarti usaha memiliki nama dan identitas visual yang jelas melalui MMT serta pembenahan tampilan. Ditemukan berarti lokasi tersedia di Google Maps dan dapat diperkuat melalui Business Profile. Dipahami berarti konsumen mendapat informasi produk melalui desain Canva, video, dan katalog. Dihubungi berarti seluruh kanal utama disederhanakan melalui Linktree atau tautan langsung ke WhatsApp. Kerangka ini membantu menghindari digitalisasi yang terfragmentasi karena setiap alat memiliki fungsi yang spesifik tetapi saling berkaitan.
Tabel 1 merangkum hubungan antara intervensi yang dilakukan, keluaran langsung, serta fungsi strategisnya. Tabel tersebut juga menunjukkan bahwa program memiliki kombinasi output fisik dan digital. Yang belum tersedia adalah data outcome, misalnya peningkatan pencarian, klik, kunjungan, atau transaksi. Pemisahan ini penting untuk perencanaan evaluasi berikutnya.
Tabel 1. Rangkaian Intervensi, Keluaran, dan Fungsi Strategis Program
| Intervensi | Sasaran | Keluaran Langsung | Fungsi Strategis |
| Pelatihan Canva | Peserta lintas unsur desa | Pengenalan pembuatan materi promosi visual | Kemandirian produksi konten dan konsistensi identitas visual |
| Pelatihan Linktree | Peserta lintas unsur desa | Pengenalan halaman agregasi tautan | Mempermudah akses konsumen ke kontak, lokasi, katalog, dan kanal digital |
| Pengenalan Google Merchant | Pelaku UMKM/peserta | Literasi awal pengelolaan data produk | Menyiapkan UMKM memahami ekosistem penemuan produk di Google |
| Pemberian MMT | 5 UMKM | Media promosi/penanda usaha | Meningkatkan keterbacaan nama dan identitas usaha secara fisik |
| Pengecatan ulang | Mie Ayam Sido Mampir dan Warung Numani | Tampilan tempat usaha lebih terawat | Mendukung pengalaman visual dan kesiapan dokumentasi promosi |
| Video branding | UMKM sasaran | Konten audiovisual promosi | Mendukung storytelling dan distribusi melalui media sosial |
| Titik lokasi Google Maps | UMKM sasaran | Lokasi usaha dapat ditemukan secara digital | Meningkatkan aksesibilitas pencarian lokal dan navigasi |
Sumber: Diolah dari dokumentasi program kerja KKN 43 UNIMUS (2026).
Kekuatan, Keterbatasan, dan Strategi Keberlanjutan
Kekuatan program KKN 43 terletak pada pendekatan yang praktis dan lintas kanal. Program tidak berhenti pada sosialisasi digitalisasi, tetapi menghasilkan objek nyata yang dapat digunakan UMKM. Lima UMKM menerima media promosi MMT; dua usaha memperoleh pembaruan tampilan; materi digital dikenalkan kepada peserta; video branding diproduksi; dan lokasi digital dibuat untuk usaha sasaran. Bagi program KKN yang memiliki waktu terbatas, keluaran ini relatif konkret dan mudah didokumentasikan.
Kekuatan kedua adalah keterlibatan berbagai unsur masyarakat. Kehadiran PKK, Karang Taruna, dan pemerintah desa memperluas potensi keberlanjutan karena keterampilan digital tidak harus dikuasai sepenuhnya oleh setiap pemilik UMKM. Pada tingkat komunitas, model pendampingan dapat dibagi: pelaku usaha fokus pada produk dan pelayanan, anggota keluarga atau pemuda membantu konten, dan pemerintah desa menyediakan kanal informasi serta koordinasi. Pendekatan ekosistem semacam ini konsisten dengan pandangan OECD (2021) bahwa transformasi digital usaha kecil dipengaruhi oleh akses terhadap keterampilan, dukungan, dan jaringan di sekitarnya.
Meski demikian, terdapat beberapa keterbatasan. Pertama, dokumentasi yang tersedia belum memuat baseline digital setiap UMKM. Belum diketahui secara sistematis apakah sebelum program masing-masing usaha telah memiliki akun media sosial, titik lokasi, katalog, atau materi promosi. Tanpa baseline, perubahan yang dihasilkan sulit dibandingkan secara objektif. Kedua, tidak terdapat pengukuran kuantitatif kompetensi peserta sebelum dan sesudah pelatihan. Ketiga, belum ada data analitik pascaprogram seperti jumlah tampilan lokasi, klik WhatsApp, reach video, pertumbuhan pengikut, atau transaksi. Keempat, keberlanjutan akses akun perlu dipastikan agar aset digital tidak berhenti ketika mahasiswa selesai KKN.
Keterbatasan tersebut tidak mengurangi nilai kegiatan, tetapi menentukan batas klaim. Program dapat dinyatakan menghasilkan aset dan proses penguatan kapasitas awal, namun belum dapat dinyatakan meningkatkan pendapatan atau daya saing secara terukur. Dalam publikasi ilmiah, kehati-hatian ini justru meningkatkan kredibilitas karena membedakan antara output, outcome, dan impact. Output adalah sesuatu yang langsung dihasilkan oleh kegiatan; outcome adalah perubahan perilaku atau kinerja setelah output digunakan; impact adalah perubahan jangka panjang pada kondisi ekonomi atau sosial.
Untuk program berikutnya, evaluasi dapat dibuat ringan tetapi sistematis. Sebelum pelatihan, peserta mengisi lima pertanyaan singkat mengenai penggunaan Canva, lokasi Google Maps, media sosial, katalog, dan link pemesanan. Setelah pelatihan, peserta diminta menyelesaikan tugas praktik. Tiga puluh hari kemudian, tim atau pemerintah desa dapat mencatat apakah aset masih aktif dan apakah ada pembaruan konten. Untuk UMKM sasaran, indikator digital dapat mencakup jumlah tampilan Business Profile, permintaan arah, klik telepon, klik situs/WhatsApp, dan performa konten. Bila pemilik bersedia, perubahan jumlah transaksi dapat dicatat dalam kategori atau indeks sederhana tanpa membuka data keuangan sensitif.
Selain pengukuran, keberlanjutan teknis perlu mendapat perhatian. Setiap akun Google, Canva, Linktree, dan media sosial sebaiknya menggunakan akun milik pemilik usaha atau akun bisnis yang dapat dialihkan, bukan akun personal mahasiswa. Password tidak perlu disimpan oleh tim setelah serah terima. Pemilik juga perlu memiliki dokumen sederhana berisi daftar akun, email pemulihan, nomor kontak, dan panduan pembaruan. Google Business Profile yang dibuat perlu diklaim serta diverifikasi oleh pihak yang berhak agar informasi usaha dapat dikelola secara legal dan aman (Google, n.d.-a).
Dari sisi konten, kalender sederhana satu bulan dapat membantu pemilik memulai kebiasaan. Misalnya, minggu pertama memperbarui foto produk; minggu kedua membuat satu poster Canva; minggu ketiga mengunggah video singkat proses; minggu keempat memperbarui informasi lokasi atau jam buka. Frekuensi tidak perlu tinggi jika pemilik belum memiliki kapasitas, tetapi konsistensi lebih penting daripada volume. Prinsip tersebut mengubah digitalisasi dari ‘proyek KKN’ menjadi rutinitas bisnis.
Peran pemerintah desa juga dapat diperkuat melalui direktori UMKM Jeketro. Direktori dapat berupa halaman sederhana yang memuat nama usaha, kategori, nomor kontak, lokasi Google Maps, dan tautan katalog. Data tidak perlu kompleks; yang penting akurat, diperbarui, dan memiliki penanggung jawab. Direktori dapat membantu promosi lintas usaha dan memudahkan desa menunjukkan potensi ekonomi lokal kepada pengunjung atau calon mitra. Bila dikelola dengan baik, inisiatif ini dapat melanjutkan hasil KKN tanpa membutuhkan aplikasi baru yang mahal.
Pada akhirnya, digitalisasi UMKM merupakan proses bertahap. Program KKN 43 UNIMUS telah membangun fondasi melalui kombinasi pelatihan, branding fisik, konten, dan lokasi digital. Tahap berikutnya bukan menambah sebanyak mungkin platform, melainkan memastikan aset yang sudah dibuat benar-benar digunakan, diperbarui, dan dimiliki oleh pelaku usaha. Pendekatan ini sejalan dengan literatur yang menunjukkan bahwa manfaat digital lebih besar ketika adopsi tidak berhenti pada tahap awal, tetapi berkembang menjadi praktik usaha yang terintegrasi (Rahayu & Day, 2017).
KESIMPULAN
Program optimalisasi digitalisasi dan branding UMKM yang dilaksanakan Kelompok KKN 43 Universitas Muhammadiyah Semarang di Desa Jeketro menunjukkan pendekatan pengabdian yang menggabungkan penguatan kapasitas, pembenahan identitas visual, dan peningkatan visibilitas digital. Pelatihan pada 19 Agustus 2026 memperkenalkan Canva, Linktree, dan Google Merchant kepada sekitar 20 peserta dari unsur UMKM, PKK, Karang Taruna, serta pemerintah desa. Program dilengkapi dengan pemberian media promosi MMT kepada lima UMKM, pengecatan ulang Mie Ayam Sido Mampir dan Warung Numani, produksi video branding, serta pembuatan titik lokasi digital bagi UMKM sasaran.
Keluaran tersebut dapat dipahami sebagai fondasi awal bagi UMKM untuk lebih mudah dikenali, ditemukan, dipahami, dan dihubungi konsumen. Branding fisik memperkuat identitas di lokasi usaha, sedangkan Canva, video, Linktree, Google Maps, dan Google Merchant membangun jalur menuju ekosistem digital. Integrasi kedua sisi ini relevan bagi UMKM desa karena konsumen lokal tetap berinteraksi dengan tempat usaha secara langsung, tetapi proses pencarian informasi semakin banyak berlangsung melalui gawai dan mesin pencari.
Artikel ini tidak menyimpulkan peningkatan omzet atau penjualan karena dokumentasi belum memuat data kuantitatif sebelum-sesudah program. Evaluasi masih berada pada level proses dan output. Program lanjutan perlu menggunakan baseline sederhana, tugas praktik, analitik digital, dan mekanisme serah terima akun. Pemerintah desa, Karang Taruna, dan kader masyarakat dapat menjadi pendamping lokal agar aset digital tetap terpelihara setelah KKN.
Dengan tindak lanjut terstruktur, program dapat berkembang menjadi penguatan kapasitas UMKM yang berkelanjutan. Prioritasnya adalah menjaga konsistensi identitas, akurasi informasi, pembaruan konten, pengelolaan lokasi digital, dan penggunaan kanal kontak.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik. (2025). Statistik e-commerce 2024. Badan Pusat Statistik.
Badan Pusat Statistik Kabupaten Grobogan. (2025). Kecamatan Gubug dalam angka 2025. BPS Kabupaten Grobogan.
Chaffey, D., & Ellis-Chadwick, F. (2019). Digital marketing: Strategy, implementation and practice (7th ed.). Pearson.
Febriyantoro, M. T., & Arisandi, D. (2018). Pemanfaatan digital marketing bagi usaha mikro, kecil dan menengah pada era Masyarakat Ekonomi ASEAN. JMD: Jurnal Riset Manajemen & Bisnis Dewantara, 1(2), 61–76. https://doi.org/10.26533/jmd.v1i2.175
Google. (n.d.-a). Get started with Google Business Profile. Google Business Profile Help. Retrieved September 3, 2026, from https://support.google.com/business/answer/7039811
Google. (n.d.-b). Free listings for products. Google Merchant Center Help. Retrieved September 3, 2026, from https://support.google.com/merchants/answer/13889434
Hasanah, E. U., Lantarsih, R., Ardi, I. A., Mz, Y., Septiani, A. R. A., & Wahyudi, D. (2025). Peningkatan literasi digital UMKM dan Karang Taruna melalui pelatihan Canva untuk penguatan branding potensi lokal di Kalurahan Pleret. Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia, 5(6), 3125–3134. https://doi.org/10.54082/jamsi.2273
Keller, K. L. (2013). Strategic brand management: Building, measuring, and managing brand equity (4th ed.). Pearson.
Kotler, P., & Keller, K. L. (2016). Marketing management (15th ed.). Pearson.
Linktree. (n.d.). Link in bio: One link for everything you do. Retrieved September 3, 2026, from https://linktr.ee/features/link-in-bio
OECD. (2021). The digital transformation of SMEs. OECD Publishing. https://doi.org/10.1787/bdb9256a-en
Purwana, D., Rahmi, R., & Aditya, S. (2017). Pemanfaatan digital marketing bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kelurahan Malaka Sari, Duren Sawit. Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Madani (JPMM), 1(1), 1–17. https://doi.org/10.21009/JPMM.001.1.01
Putrawangsa, D., Marhadi, A. I. M., Rudiyanto, P. B. J., & Geraldus, H. (2026). Pelatihan Canva untuk peningkatan branding visual UMKM di Kabupaten Bandung. Jurnal Abdimas Kartika Wijayakusuma, 6(4), 1991–2000. https://doi.org/10.26874/jakw.v6i4.1211
Rahayu, R., & Day, J. (2017). E-commerce adoption by SMEs in developing countries: Evidence from Indonesia. Eurasian Business Review, 7(1), 25–41. https://doi.org/10.1007/s40821-016-0044-6
Ramdhani Sucipto, K. R., Aras, R. A., Salam, M. F., Rahmawati, A., Afrizal, Y. H., & Rijal, S. (2025). UMKM go digital: Peningkatan literasi digital UMKM Kota Makassar pemanfaatan Google Maps dan media sosial. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Nusantara, 6(3), 3731–3737. https://doi.org/10.55338/jpkmn.v6i3.6633
Supardi, S., Safaruddin, S., Abdurrazak, G., Mandailina, V., & Abdillah, A. (2026). Pelatihan Canva untuk meningkatkan kompetensi digital dan branding visual UMKM Desa Kertaharja. AKM: Aksi Kepada Masyarakat, 7(1), 335–348. https://doi.org/10.36908/akm.v7i1.1883