Oleh : Namira Permata, Sri Tiatri dan Riana Sahrani Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara
JurnalPost.com – Menjadi mahasiswa bukanlah perkara mudah. Tugas kuliah, presentasi, ujian, hingga tuntutan organisasi sering kali membuat mahasiswa kewalahan. Namun, ada kelompok mahasiswa yang menghadapi tantangan lebih besar yaitu mahasiswa yang aktif dalam unit kegiatan olahraga. Di tengah jadwal latihan yang padat, persiapan kompetisi, dan tuntutan fisik yang tinggi, mereka tetap dituntut mempertahankan prestasi akademik seperti mahasiswa lainnya.
Menariknya, tidak semua mahasiswa atlet mengalami penurunan prestasi akademik. Sebagian justru mampu mempertahankan nilai yang baik meskipun harus membagi waktu antara lapangan dan ruang kelas. Apa rahasianya?
Salah satu faktor penting adalah grit, yaitu ketekunan dan konsistensi dalam mengejar tujuan jangka panjang. Individu dengan grit yang tinggi tidak mudah menyerah ketika menghadapi hambatan. Mereka tetap berusaha meskipun merasa lelah, mengalami kegagalan, atau harus menghadapi tekanan yang berat. Pada mahasiswa atlet, karakter ini membantu mereka tetap fokus menyelesaikan tugas kuliah sekaligus menjalani latihan rutin.
Namun, semangat dan ketekunan saja ternyata belum cukup. Mahasiswa juga membutuhkan kemampuan untuk mengelola proses belajarnya secara efektif. Kemampuan ini dikenal sebagai self-regulated learning (SRL) atau regulasi diri dalam belajar. SRL mencakup kemampuan merencanakan target belajar, mengatur waktu, memantau perkembangan diri, serta mengevaluasi strategi yang digunakan ketika menghadapi kesulitan.
Bayangkan dua mahasiswa atlet yang sama-sama memiliki semangat tinggi. Mahasiswa pertama belajar secara teratur, membuat jadwal yang realistis, dan mengevaluasi kesalahan setelah ujian. Sementara mahasiswa kedua hanya mengandalkan motivasi tanpa perencanaan yang jelas. Dalam jangka panjang, mahasiswa pertama cenderung memperoleh hasil akademik yang lebih baik karena mampu mengubah semangat menjadi tindakan yang terarah.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa yang memiliki grit tinggi cenderung lebih mampu menerapkan strategi self-regulated learning secara konsisten. Ketekunan yang dimiliki membantu mereka tetap berkomitmen pada tujuan akademik, sedangkan kemampuan regulasi diri membuat proses belajar menjadi lebih terarah dan efektif. Kombinasi kedua faktor tersebut berkontribusi terhadap keberhasilan mahasiswa dalam menghadapi tuntutan akademik maupun non-akademik.
Pelajaran ini sebenarnya tidak hanya relevan bagi mahasiswa atlet, tetapi juga bagi seluruh mahasiswa. Di tengah berbagai kesibukan dan tantangan selama masa perkuliahan, kemampuan mengatur diri menjadi keterampilan yang sangat berharga. Kebiasaan sederhana seperti membuat jadwal belajar yang realistis, menetapkan target yang ingin dicapai, mengurangi distraksi saat belajar, serta meluangkan waktu untuk mengevaluasi perkembangan diri dapat membantu meningkatkan efektivitas belajar. Selain itu, menjaga kesehatan fisik dan mental melalui istirahat yang cukup, aktivitas fisik yang teratur, dan pengelolaan stres yang baik juga tidak kalah penting dalam mendukung keberhasilan akademik.
Ketika menghadapi kesulitan atau hasil yang belum sesuai harapan, mahasiswa perlu menyadari bahwa kegagalan merupakan bagian dari proses belajar. Dari pada melihatnya sebagai akhir dari usaha, kegagalan dapat dijadikan bahan refleksi untuk menemukan strategi yang lebih efektif. Dengan sikap yang tekun dan kemampuan mengelola diri yang baik, mahasiswa akan lebih siap menghadapi berbagai dinamika perkuliahan sekaligus mengembangkan potensi yang dimilikinya.
Oleh karena itu, perguruan tinggi juga memiliki peran penting dalam mendukung pengembangan keterampilan tersebut. Program pendampingan akademik, pelatihan manajemen waktu, maupun kegiatan yang mendorong kemandirian belajar dapat menjadi sarana untuk membantu mahasiswa mengoptimalkan potensinya. Dukungan ini akan semakin penting bagi mahasiswa yang harus menjalankan berbagai peran sekaligus, termasuk mereka yang aktif dalam kegiatan olahraga.
Pada akhirnya, menjadi mahasiswa atlet bukan hanya tentang memenangkan pertandingan di lapangan. Lebih dari itu, pengalaman tersebut mengajarkan ketangguhan, disiplin, dan kemampuan mengelola diri, yang merupakan keterampilan hidup yang akan bermanfaat jauh setelah masa kuliah berakhir.
Referensi :
- Angela Duckworth, A. L., Peterson, C., Matthews, M. D., & Kelly, D. R. (2007). Grit: Perseverance and Passion for Long-Term Goals. Journal of Personality and Social Psychology, 92(6), 1087–1101.
- Duckworth, A. L., Peterson, C., Matthews, M. D., & Kelly, D. R. (2007). Grit: Perseverance and Passion for Long-Term Goals. Journal of Personality and Social Psychology, 92(6), 1087–1101
- Obeng, P., et al. (2025). Linking Students’ Grit and Academic Engagement: Mediating Role of Academic Motivation and Self-Regulated Learning. British Educational Research Journal.
- Zimmerman, B. J. (2008). Investigating Self-Regulation and Motivation: Historical Background, Methodological Developments, and Future Prospects. American Educational Research Journal, 45(1), 166–183.