• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Fashion di Media Sosial : Ketika Feminisme Terseret Arus Standar Kecantikan

Editor Redaksi
4 November 2025
in Artikel
Fashion
[ Ilusi Gambar fashion di Media Sosial ]

Oleh : Syaiful Rahman Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNTAG Surabaya

JurnalPost.com – Media sosial telah menjadi sarana untuk mengekspresikan diri terutama bagi Perempuan. Tiktok, Instagram dan Facebook bukan hanya tempat memposting gaya hidup, namun juga yang menyukai postingan dan pengikutnya banyak menjadi tempat untuk menentukan identitas, nilai diri dan kecantikan seseorang. Fashion telah menjadi bahasa visual yang kuat. Namun, apakah fashion di media sosial telah menjadi alat untuk kebebasan perempuan atau justru pengekangan baru yang dibungkus dalam estetika?. Fenomena ini menunjukkan bahwa feminisme tidak hanya membicarakan tentang kesetaraan hak, tetapi juga bagaimana perempuan mempresentasikan dirinya di media sosial. Feminisme berasal dari perjuangan perempuan untuk menuntut kesetaraan dalam berbagai hal, termasuk hak untuk dihormati dan bebas dari kekerasan patriarki. Meskipun industri fashion dan algoritma sering mengubah kebebasan (Septianis Afipah1, 2022)

Meskipun dulu feminisme adalah gerakan sosial untuk nmenuntut kesetaraan, sekarang sering sekali dikomodifikasi menjadi lifestyle brand. Seperti tagar #BodyPositivity dan #GirlBoss terlihat progresif, tetapi banyak juga yang tidak terlihat. Fenomena ini disebut sebagai popular feminism, yakni feminisme yang dipromosikan sebagai produk konsumsi daripada gerakan perubahan struktural (Feminism & Misogyny, 2018). Misalnya, kampanye fashion yang melibatkan perempuan dengan berbagai bentuk tubuh tetapi masih diatur harus tetap diatur oleh estetika yang di inginkan pasar. Alih-alih seperti slogan “cinta diri” dan “empowerment” terdapat persyarakatan halus, seperti menjaga tubuh yang fotogenik dan mengikuti trend. Media sosial sering kali mempertahankan kecantikan dengan menggunakan algoritma yang hanya mempromosikan citra tertentu.

Sementara itu, media juga membantu mengkonstruksi peran perempuan melalui gambaran yang sering kali dibingkai secara sempit, menempatkan tubuh perempuan di tengah-tengah gagasan atau upaya perempuan daripada intelektualitas mereka (Dewi, 2009). Pada Teori Standpoint menegaskan bahwa kita dapat memandang dunia di sekitar kita secara lebih objektif. Karena kelompok marginal (orang yang tidak memiliki kekuasaan) akan memiliki pandangan lebih Objektif dibandingkan dengan kelompok yang memiliki kekuasaan (Tripalupi., M.Si, 2024). Oleh karena itu, perempuan yang tidak memenuhi standar kecantikan dalam media sosial justru penting untuk memahami bagaimana platform digital bekerja.

Asal-usul perjuangan feminisme dan fashion jelas bagi mereka, seharusnya menjadi kekuatan yang saling melengkapi daripada bertentangan satu sama lain. Tidak hanya kebebasan berpakaian, feminisme menawarkan kebebasan berpikir. Fashion menjadi alat pembebasan ketika digunakan untuk menantang standar kecantikan yang menyesatkan. Namun, jika mode hanya mengikuti tren yang secara halus menindas perempuan, itu akan menjadi jenis penjara baru yang bersinar. Sudah saatnya perempuan mengambil kembali kendali atas arti “cantik” dan “berdaya”. Karena kebebasan sebenarnya berasal dari keberanian untuk menolak dipengaruhi oleh orang lain, baik di dunia nyata maupun melalui Handphone kita, bukan dari merek pakaian yang kita kenakan.

Daftar Refrensi :
Dewi, M. A. (2009). Media massa dan penyebaran isu perempuan. 7(2).
Feminism, P., & Misogyny, P. (2018). AND POPULAR MISOGYNY.
Septianis Afipah1, Y. D. (2022). GENDER DAN FEMINISME: PERKEMBANGAN HUBUNGAN INTERNASIONAL KONTEMPORER. 4(140), 15–26.
Tripalupi., M.Si, D. M. F. (2024). Komunikasi & Gender.

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.