Title : Appropriate Technology is a Smart Solution to Waste and Increase Profit from Magot Cultivation
Dyva Putri Trivia 1*, Apta Adiwidya2, Fadhilah Putri Sasongko3
1Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Indonesia
2Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Indonesia
3Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Indonesia
* [email protected]1, [email protected]2, [email protected]3
DPL : Ricky Alejandro Martin, S.Psi., M.Psi., Psikolog NPP : 20510240897
NIDN : 0708079801
Email : [email protected]
Article History:
Received:
Revised:
Accepted:
Online Available: Published:
Keywords: Keyword : Maggot Farming, Waste Management, Black Soldier Fly, Sustainable Agriculture, Circular
Abstract: Pohkecik Village, located in Dlanggu Subdistrict, Mojokerto Regency, faces increasing challenges in managing organic household and agricultural waste. Through a Community Service Program (KKN), a training and socialization program was conducted to promote maggot farming using the Black Soldier Fly (BSF) as a sustainable solution for waste management and economic empowerment. This initiative aimed to raise environmental awareness and encourage community-based participation. Results showed that 85% of participants improved their understanding, and a local group began independently cultivating maggots. Maggot farming proved to be a low-cost, eco-friendly, and economically viable technology. The program also sparked the emergence of new entrepreneurship in rural areas through circular economy practices in agriculture.
Keyword : Maggot Farming, Waste Management, Black Soldier Fly, Sustainable Agriculture, Circular Economy
*Corresponding author, e-mail address
Abstrak: Desa Pohkecik yang terletak di Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto, menghadapi tantangan yang semakin besar dalam mengelola sampah organik rumah tangga dan pertanian. Melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN), sebuah program pelatihan dan sosialisasi dilakukan untuk mempromosikan budidaya belatung dengan menggunakan Black Soldier Fly (BSF) sebagai solusi berkelanjutan untuk pengelolaan sampah dan pemberdayaan ekonomi. Inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran lingkungan dan mendorong partisipasi masyarakat. Hasilnya menunjukkan bahwa 85% peserta meningkatkan pemahaman mereka, dan sebuah kelompok lokal mulai membudidayakan belatung secara mandiri. Budidaya belatung terbukti merupakan teknologi yang murah, ramah lingkungan, dan layak secara ekonomi. Program ini juga memicu munculnya kewirausahaan baru di daerah pedesaan melalui praktik ekonomi sirkular di bidang pertanian.
Kata kunci : Budidaya Belatung, Pengelolaan Limbah, Lalat Tentara Hitam, Pertanian Berkelanjutan, Ekonomi Sirkular
1. PENDAHULUAN
Desa Pohkecik, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto merupakan wilayah pedesaan dengan sejarah panjang sejak masa kolonial, yang kini menjadi desa aktif dalam sektor pertanian. Sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani dan peternak. Namun, tantangan pengelolaan limbah organik rumah tangga dan pertanian menjadi permasalahan yang kian kompleks, mengingat mayoritas limbah yang dihasilkan adalah limbah organik basah seperti sisa makanan dan hasil panen busuk.
Menurut Damanhuri (2010), lebih dari 50% sampah di Indonesia adalah sampah organik. Ironisnya, sekitar 74% dari limbah domestik ini hanya berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), tanpa pengelolaan yang efektif (Shekdar, 2009). Hal ini tidak hanya berisiko terhadap kesehatan lingkungan, tetapi juga menyia-nyiakan potensi sumber daya yang dapat didaur ulang dan diberdayakan.
Salah satu solusi yang semakin berkembang adalah budidaya maggot dari lalat Black Soldier Fly (Hermetia illucens), yang mampu mengurai sampah organik secara cepat dan efisien. Selain sebagai pengurai, larva maggot juga memiliki nilai ekonomi tinggi sebagai bahan pakan ternak alternatif yang kaya protein. Oleh karena itu, melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN), kami menginisiasi program sosialisasi budidaya maggot kepada warga Desa Pohkecik, dengan harapan menciptakan kesadaran akan pengelolaan sampah sekaligus mendorong potensi usaha baru berbasis lingkungan.
Sampah adalah bahan yang dihasilkan dari aktivitas manusia dan proses alami, yang belum memiliki nilai ekonomi dan sering dianggap sebagai limbah. Berdasarkan komposisinya, sampah biasanya terbagi menjadi beberapa kategori: sekitar 57% merupakan sampah organik berupa sisa makanan 39,77%, kayu atau ranting 11,75%, kertas atau karton 10,87%, plastik 19,23%, logam 3,25%, kain 2,96%, karet atau kulit 2,56%, dan 2,48% terdiri dari logam, kaca, dan lainnya 7,13% (KLHK, 2015). Penelitian terbaru dari Sustainable Waste Indonesia (SWI) menunjukkan bahwa di Indonesia, sekitar 24% sampah belum terkelola dengan baik.
Sampah adalah sisa material yang tidak lagi digunakan setelah suatu proses selesai. Kegunaannya dapat digunakan sebagai kriteria pembagian sampah. Secara alami, tidak ada istilah “sampah” hanya hasil dari proses alami. Namun, dalam konteks kehidupan manusia dan lingkungan, sampah digolongkan menjadi beberapa tipe: sampah alam, manusia, konsumsi, nuklir, industri, dan pertambangan. Kehadiran sampah tak terhindarkan dalam kehidupan manusia. Jika tidak dikelola, sampah bisa menimbulkan permasalahan serius bahkan bencana. Sebaliknya, bila diolah dengan benar, sampah justru bisa menjadi sumber manfaat. Kualitas pengelolaan sampah mencerminkan tingkat kemajuan peradaban. Di kota-kota yang memperhatikan kebersihan, estetika, dan pelestarian lingkungan, biasanya telah disediakan tempat sampah terpisah berdasarkan jenisnya misalnya sampah basah, kering, atau pecah belah yang sudah familiar bagi masyarakat. Setiap rumah tangga pasti menghasilkan sampah, dan pengelolaan dapat dimulai dari lingkungan rumah. Partisipasi aktif warga sangat krusial karena pengelolaan sampah yang baik menunjukkan kesadaran lingkungan.
Pengelolaan sampah organik di wilayah Mojokerto menunjukkan potensi besar untuk pengendalian limbah dan peningkatan ekonomi sosial melalui teknologi maggot. Saat ini, sampah organik mendominasi komposisi sampah di Kota Mojokerto, dan Pemkot mengajak masyarakat untuk mengolahnya dengan metoda budi daya maggot (Hermansyah, 2022).
Meskipun beberapa TPS, seperti TPS Pasar Tanjung dan TPST Magersari, telah menerapkan komposting, sebagian besar TPS belum memiliki fasilitas tersebut, sehingga limbah organik masih banyak dibuang ke TPA Randegan (Setiawan, 2023). Teknologi tepat guna yang semakin digalakkan adalah budidaya maggot (Hermetia illucens) sebagai agen biokonversi. Setiap 1 kg maggot dapat mengurai sampah organik dalam jumlah signifikan dari sisa makanan dan limbah pasar.
B. Peran Magot Pada Pengelolaan Sampah
Sampah organik berasal dari sisa-sisa bahan yang dahulunya merupakan organisme hidup, sehingga lebih mudah terurai dibandingkan sampah anorganik. Jika dikelola dengan benar, sampah ini dapat menghasilkan produk bermanfaat, salah satunya adalah pupuk organik untuk pertanian. Pupuk organik dibuat dari bahan alami yang mengalami degradasi alami dan berfungsi meningkatkan kesuburan tanah serta menyediakan nutrisi bagi tanaman. Salah satu metode pembuatan pupuk organik adalah dengan memanfaatkan larva lalat tentara hitam (black soldier fly, BSF) sebagai agen pengurai utama. Larva ini mengonsumsi sampah organik, kemudian menghasilkan residu padat yang disebut kasgot (frass). Kasgot atau dalam istilah internasional dikenal sebagai BSF frass mengandung berbagai unsur hara penting seperti nitrogen, fosfor, kalium, kalsium, magnesium, dan mikronutrien lainnya, serta chitin dari eksoskeleton larva yang mendukung kesehatan tanah dan daya tahan tanaman. Sebagai pupuk padat organik, kasgot efektif meningkatkan pertumbuhan tanaman dengan melepaskan nutrisi secara perlahan. Kandungannya yang seimbang dan kaya mendukung struktur tanah, meningkatkan retensi air, serta merangsang aktivitas mikroba menguntungkan termasuk bakteri penambat nitrogen dan jamur mikoriza yang menyuplai nutrisi dan menekan patogen. Kasgot juga bertindak sebagai stimulan biologis yang membantu tanaman mengaktifkan mekanisme pertahanan alami. Kandungan chitin dalam kasgot merangsang produksi enzim seperti chitinase pada tanaman, yang memperkuat pertahanan terhadap hama dan penyakit. Selain itu, pupuk ini mendukung pendekatan pertanian berkelanjutan dengan mengurangi penggunaan pupuk kimia sintetis, mengurangi emisi gas rumah kaca, dan meningkatkan efisiensi biaya bagi para pembudidaya. (Sumbodo, Rochmah, Ign, Sudrajat, & Hasanah, 2023)
C. Manfaat Magot
Magot (larva lalat tentara hitam) merupakan sumber protein berkualitas tinggi untuk unggas dan ikan, dengan kadar protein mencapai sekitar 27–55 % pada bahan kering, tergantung pada bahan pakan dan metode pengolahan. Protein ini menyertakan asam amino esensial seperti lisin, metionin, dan treonin yang sangat penting untuk mendukung pertumbuhan optimal hewan peliharaan.
Selain protein, magot juga kaya akan lemak sekitar 8–57 % dari bahan kering yang sebagian besar mengandung asam laurat, suatu lemak rantai menengah dengan sifat antimikroba alami Kandungan mineralnya pun cukup tinggi, termasuk kalsium (1,2–35,7 g/kg), fosfor (1,0– 10,3 g/kg), magnesium (1,0–3,5 g/kg), besi, seng, dan mineral penting lainnya
Pemberian magot sebagai pakan telah terbukti meningkatkan pertumbuhan dan produktivitas unggas dan ikan. Penelitian menunjukkan bahwa penggantian sebagian atau seluruh ikan-tek atau dedak dengan magot dapat mempertahankan atau bahkan meningkatkan performa broiler dan layer, tanpa mengganggu laju pertumbuhan atau produksi telur. Magot juga berkontribusi memperbaiki efisiensi konversi pakan (FCR), mempercepat waktu mencapai ukuran pasar, dan pada akhirnya meningkatkan keuntungan peternak.
D. Potensi Dan Peluang Bisnis
Potensi Budidaya Magot Budidaya maggot di Indonesia semakin berkembang pesat. Pasalnya, maggot (larva lalat) memiliki potensi besar dalam memenuhi kebutuhan pakan ternak. Potensi pasar budidaya maggot di Indonesia terus meningkat seiring dengan meningkatnya permintaan pasar akan pakan ternak yang murah namun berkualitas tinggi. Tidak hanya sebagai pakan ternak, maggot juga memiliki potensi lain, yaitu sebagai bahan pakan ikan, pakan ayam, pakan sapi, dan sebagainya. Dalam budidaya maggot, pasar yang paling potensial adalah pasar pakan ternak. Pasalnya, pakan ternak merupakan produk yang terus dibutuhkan oleh peternak di Indonesia.
Saat ini, para peternak makin sadar akan pentingnya memakai pakan yang berkualitas agar ternaknya dapat tumbuh dengan sehat dan memiliki kualitas daging yang maksimal. Oleh karena itu, semakin banyak peternak yang mencari sumber pakan alternatif yang murah namun memiliki nilai nutrisi tinggi. Pakan maggot memiliki kandungan protein dan lemak yang tinggi serta kandungan serat yang rendah. Dari sisi kandungan protein, pakan maggot bahkan bisa melebihi kandungan protein tepung ikan yang sering dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Dengan nilai nutrisi yang tinggi ini, pakan maggot menjadi pilihan yang tepat bagi peternak sebagai pengganti pakan seperti jagung dan kedelai.
2. METODE
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan partisipatif masyarakat (Community-Based Participatory Research). Kegiatan dilakukan dalam rangkaian program Kuliah Kerja Nyata (KKN) selama 12 hari di Desa Pohkecik, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto.
3. HASIL
Langkah Kegiatan:
1. Koordinasi dengan perangkat desa
2. Survei awal dan penggalian potensi lokal
3. Sosialisasi dan pelatihan budidaya maggot (teori dan praktik)
4. Monitoring serta evaluasi antusiasme dan pemahaman warga
5. Pembuatan media edukasi (poster, booklet)
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
Kegiatan sosialisasi budidaya maggot mendapat respons positif dari warga Desa Pohkecik. Walaupun mitra kami hanya satu namun Bpk. Bagus Aprina Wono Putra selaku (kepala dusun Pohkecik) Setelah kegiatan, sudah mersakann perubahan pengetahuan mengenai budidaya Magot dibanding sebelum pelatihan.
Mitra kami menyatakan minat untuk mengembangkan sistem pengolahan sampah berbasis maggot karena:
a. Biaya rendah dan tidak membutuhkan lahan luas
b. Tidak menimbulkan bau menyengat
c. Hasil larva bisa dijual sebagai pakan ayam dan lele
d. Sisa maggot (frass) dapat digunakan sebagai pupuk organic
Dengan adanya pelatihan ini, muncul kelompok warga yang tertarik membentuk komunitas maggot skala rumah tangga, sehingga membuka peluang kewirausahaan baru di sektor pertanian terpadu berbasis sirkular ekonomi.
4. DISKUSI
Urgensi budidaya maggot di tengah krisis pengelolaan limbah dan ketahanan ekonomi desa tidak bisa diabaikan. BSF menjadi solusi low-tech, low-cost, high-impact yang dapat diterapkan dengan cepat, terutama di wilayah pedesaan. Selain manfaat ekonominya, program ini mendorong perubahan paradigma warga dalam memandang limbah sebagai sumber daya.
Menurut Widjastuti et al. (2014), maggot memiliki kandungan protein sebesar 40-45% dan lemak 25-35%, menjadikannya alternatif pakan ternak yang sangat potensial. Selain itu, biokonversi dengan BSF lebih efisien dibanding metode komposting tradisional (Diener et al., 2011).
Dari sisi kesadaran lingkungan, keterlibatan warga dalam proses daur ulang ini dapat meningkatkan literasi ekologi masyarakat desa. Program ini menjadi edukasi praktis sekaligus pembuktian bahwa lingkungan sehat bisa sejalan dengan ekonomi kuat.


Gambar 2. Dokumentasi akhir selesai nya penyuluhan Budidaya Magot
Pada gambar 2. ini dari dokumentasi akhir dapat disimpulkan bahwa Teknologi Tepat Guna kami mewadahi para perangkat desa seperti mitra kami Pak Bagus Aprina Wono Putra yang seorang peternak bebek, kami juga menyarankan mitra kami yang bersangkutan agar memperkenalkan langkah mudah Budidaya Magot dengan Teknologi Tepat Guna kandang yang kami gagas ini agar bekerja sama juga para Karang Taruna serta Kepala Desa setempat agar kesadaran tentang fenomena darurat sampah pun juga bisa terselesaikan.
KESIMPULAN
Program sosialisasi budidaya maggot di Desa Pohkecik membuktikan bahwa pengelolaan limbah organik dapat diubah menjadi peluang ekonomi baru yang ramah lingkungan. Potensi lokal dan semangat partisipatif masyarakat menjadi modal utama dalam mewujudkan desa mandiri dan berdaya. Selain mengurangi volume sampah organik, budidaya maggot dapat mendukung keberlanjutan pertanian dan meningkatkan ketahanan ekonomi warga desa.
PENGAKUAN/ACKNOWLEDGEMENTS
Penulis menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Lembaga Pengabdian dan Penelitian Masyarakat (LPPM) Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya yang telah menyelenggarakan kegiatan KKN ini. Berkat dukungan penuh serta kesempatan yang diberikan, ide dan gagasan tentang pemanfaatan teknologi tepat guna khususnya pengolahan limbah dan pemberdayaan budidaya magot telah tumbuh, terkristalisasi, dan berjalan melalui serangkaian pembekalan yang komprehensif. Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada Bapak Ricky Alejandro Martin, S.Psi., M.Psi., selaku dosen pengawas lapangan, yang dengan sabar memberikan bimbingan, arahan, dan masukan konstruktif selama proses pelaksanaan serta penyusunan laporan akhir. Selain itu, penulis berterima kasih kepada mitra lapangan kami, Bapak Bagus Aprina Wono Putra, yang telah bekerja sama dengan sepenuh hati, menyediakan fasilitas, serta berbagi pengalaman praktis sehingga kegiatan pengabdian ini dapat berlangsung secara efektif dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Semoga segala bentuk dukungan dan kerja sama ini dapat terus berkontribusi dalam mewujudkan manfaat yang luas dan berkelanjutan.
DAFTAR REFERENSI
Fahmi, M. (2015). Biokonversi Limbah Organik Menggunakan Larva BSF. Jurnal Lingkungan Tropis.
Gurero et al. (2012). Domestic Waste Management in Developing Countries. Journal of Waste Management.
Kiran, B. et al. (2014). Food Waste Generation and Its Management. Renewable and Sustainable Energy Reviews.
Lalander, C. et al. (2014). High Waste-to-Biomass Conversion Efficiency in Black Soldier Fly Larvae. Waste Management Journal.
Paz, A. S. et al. (2015). Hygienic Aspects of BSF Larvae in Organic Waste Treatment. Bioresource Technology.
Rambet, R. et al. (2016). Kandungan Protein dan Lemak pada Larva BSF sebagai Pakan Alternatif. Jurnal Peternakan Tropis.
Shekdar, A. V. (2009). Sustainable Solid Waste Management. Journal of Indian Association for Environmental Management.
Widjastuti, T. et al. (2014). Pemanfaatan Maggot sebagai Bahan Pakan Ikan dan Ayam. Jurnal Akuakultur Indonesia.
Sumbodo, B. T., Rochmah, S., Ign, I. S., Sudrajat, S., & Hasanah, M. I. (2023). Budidaya Magot Solusi Mengatasi Darurat Sampah. Purbalingga: Eureka Media Aksara.
Hermansyah, F. (2022, Agustus 14). Jawa Pos Radar Mojokerto. Diakses dari https://radarmojokerto.jawapos.com/mojokerto/821017225/magersari-penyumbang-terbesar- sampah-di-kota-mojokerto
Setiawan, I. (2023, Oktober 17). Antara Jatim. Diakses dari Jatim Antara News: https://jatim.antaranews.com/berita/739419/pemkot-mojokerto-latih-budi-daya-maggot- kurangi-sampah-tpa